
Yumi menghentikan langkahnya ketika sudah saling berhadapan kepada Meida. Terlihat keduanya saling melemparkan tatapan tajam. Bik Inem yang berada di antara keduanya gemetar. Salah tingkah dan bingung harus berbuat apa kepada kedua nyonya nya itu.
"Mama sengaja ya menyirami aku air busuk itu?" Tanya Yumi dengan sedikit meninggikan suaranya.
Meida tersenyum miring, "Kalau iya kenapa? Kamu mau marah? Wanita miskin sepertimu memang pantas menerimanya" Ujarnya dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Apa salah ku Ma?"
"Salahmu? Kau bertanya salahmu?" Meida terlihat melipat kedua tangannya kedepan, dengan memutar bola mata malas seraya menatap jijik ke arah Yumi.
"Salahmu karena sudah menikahi Satria dan bertingkah seolah menjadi nyonya di rumah ini" Lanjut Meida.
Yumi yang awalnya terlihat marah, seketika terlihat menampakan senyuman manisnya, hal itu membuat Meida menatap heran ke arah Yumi. Bukannya marah, Yumi malah tersenyum senang.
"Terimakasih ma jawabannya!" Ucap Yumi dengan menenteng gawainya yang sudah berisi rekaman suara Meida, lalu ia segera pergi dari sana dengan setengah berlari.
Meida menganga tidak menyangka, tindakan Yumi sungguh di luar dugaannya.
"Hei, kamu! Berhenti!" Teriak Meida dengan geram, namun tidak di gubris oleh Yumi.
Meida mendecah kesal, lalu menyusul dengan setengah berlari. Namun belum sempat beberapa Langkah berjalan, Meida malah terpeleset dan jatuh ke lantai. Lantai yang licin karena baru habis di pel oleh Bik inem, membuat Meida kehilangan keseimbangan dan terjatuh di sana.
"Akhhhhhhh"
Bruaakkkk
"Awwww Sakit!" Meida terlihat meringis kesakitan seraya memegang perutnya yang sakit. Darah segar terlihat mengalir dari balik dress mini yang ia pakai. Hal itu membuat Bik Inem gelagapan, dan segera menghampiri Meida dan membantunya bangun.
"Sakit Bik!" Ujar Meida yang terlihat menahan di perutnya.
"Ayo nyonya, kita harus pergi ke rumah sakit" Jawab Bik Inem, pembantu di rumah itu.
Bik Inem pun membawa Nyonya nya itu pergi menuju rumah sakit, tidak lupa juga Bik Inem memberitahu Tuannya Pak Herman mengenai keadaan Meida saat ini.
Di rumah sakit.
Seorang wanita dengan setelan baju pasien rumah sakit menangis sensegukan di kasur Brankarnya. Ya, dia adalah Meida.
Herman menatap iba melihat istrinya yang terlihat terpukul karena pernyataan Dokter mengenai kandungannya yang bermasalah beberapa saat lalu.
Sementara di tempat lain.
Yumi terlihat cemas. Wajahnya sudah mengeluarkan keringat dingin. Sesekali ia melihat keluar pintu, memastikan apakah Satria suaminya itu sudah pulang atau belum.
Tidak beberapa lama, terdengar suara mobil berhenti di depan halaman rumah. Yumi segera berdiri dari duduknya, lalu pergi ke pintu depan dengan setengah berlari.
Satria keluar dari dalam mobilnya, lalu matanya menangkap sosok wanita yang ia cintai itu berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Satria cepat.
"Mama kamu masuk rumah sakit"
Satria terlihat tidak perduli, "Biarkan saja, lagi pula ada pembantu di rumah ini untuk mengurusnya" Jawab Satria.
"Tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan" Ujar Yumi ragu.
Satria mendongak, menatap Yumi dengan penuh selidik.
"Apa terjadi sesuatu di rumah ini?" Tanya Satria menerka.
"Kita masuk dulu. Kita bicara di kamar saja!" Ucap Yumi segera, yang sudah menarik tangan Satria menuju kamar mereka yang berada di lantai atas.
Di dalam kamar.
Yumi masih menarik tangan Satria dan membawanya duduk di sebuah kursi panjang yang ada di dalam kamarnya.
"Ternyata kamu benar. Ibu sambung mu itu sangat jahat" Ucap Yumi membuka suara.
Satria terlihat biasa saja, seakan sudah mengetahui sifat buruk ibu sambungnya.
"Coba kamu dengarkan ini" Yumi mengambil gawainya, lalu membuka rekaman suara yang sempat ia rekam tadi pagi.
"Mama sengaja ya menyirami aku air busuk itu?" Tanya Yumi
"Apa salah ku Ma?"
"Salahmu? Kau bertanya salahmu?"
"Salahmu karena sudah menikahi Satria dan bertingkah seolah menjadi nyonya di rumah ini" Lanjut Meida.
"Terimakasih ma jawabannya!"
"Jadi dia nyiramin kamu pake air sisa pel lantai?" Ujar Satria geram dengan berkacak pinggang, setelah mendengarkan isi rekaman itu.
"Husssss, jangan keras-keras! Sini duduk dulu" Yumi kembali menarik tangan Satria untuk duduk disampingnya.
"Tapi aku merasa bersalah banget. gara-gara dia mau ngejar aku, dia kepeleset, dan kandungannya bermasalah karena itu, dan bayinya tidak selamat. Aku benar-benar menyesal, aku merasa bersalah telah membuat anak yang ada dalam kandungan dia meninggal" Lanjut Yumi dengan wajah yang menunduk karena merasa bersalah atas kejadian ini
Satria menghela nafas panjang, lalu tangannya tergerak untuk membelai pucuk kepala Yumi.
"Jangan sedih. Dia mendapatkan musibah ini karena kesalahannya sendiri. Kamu jangan menyalahkan dirimu, lagi pula dia memang jahat selama ini. Jangan sedih ya! Ada aku bersama mu" Ucap Satria lembut. Lalu membawa Yumi kedalam dekapan hangatnya.
"Kita kerumah sakit yuk!" Kata Yumi kemudian.
"Ngapain?" Tanya Satria.
__ADS_1
"Kita jenguk mama kamu" Jawab Yumi.
"Tapi,,,,,,,,"
"Udah ayuk. Bagaimana pun kita harus menjenguk dia" Ajak Yumi lagi. Satria pun mau tidak mau mengalah dan mengikuti kemauan Yumi, walaupun dirinya sangat malas untuk bertemu wanita jahat itu.
Setelah mereka berdua mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa, Yumi dan Satria pun pergi dan di antar oleh sopir pribadinya menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit. Satria dan Yumi keluar dari dalam mobil dan masuk ke rumah sakit.
Sebelum itu, karena tidak mengetahui letak ruangan rawat Meida, Satria pergi ke meja informasi untuk menanyakan letak ruangan rawat atas nama Meida kepada petugas rumah sakit. Setelah mengetahuinya, mereka berdua pun segera pergi ketempat tujuannya.
Sesampainya di sebuah ruangan VIP kelas atas dengan nomor kamar 32. Satria dan Yumi segera masuk.
Terlihat Pak Herman sedang menenangkan Meida yang masih menangis karena kehilangan bayinya itu.
"Assalamualaikum!" Seru Yumi memberi salam.
Pandangan Meida dan pak Herman kini beralih ke arah suara.
Meida yang menyadari keberadaan Yumi, matanya menampakan ketidaksukaan dengan menatap Yumi dengan nyalang.
"Walaikumsalam" Jawab Pak Herman ramah.
"Pergi kamu wanita licik. Gara-gara kamu anak ku kini menghilang. Pergi! Pergi!" Teriak Meida mengusir Yumi.
Pak Herman yang mendengar perkataan istrinya, menatap Yumi dan Meida secara bergantian dengan menatap bingung keduanya.
"Ma kamu bicara apa sih?" Ucap Pak Herman yang mencoba menenangkan istrinya.
"Dia! Dia yang sudah membuat anak kita menghilang suamiku" Ucap Meida dengan menunjuk Yumi adalah pelaku yang sudah membuat anaknya menghilang.
"Cukup!" Pekik Satria lantang. Membuat Meida terdiam.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.