Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 23 Hempasan para penghina


__ADS_3

"Maafkan saya pak. Saya tidak tau kalau ternyata Satria adalah anak Bapak" Ujar Pak Razi meminta maaf.


Pak Herman menghela nafas panjang, "Pak Irwan. Tolong hapuskan orang-orang yang telah menghina anak saya dari sekolahan ini!"


Pak Razi menatap Pak Herman dengan membelalakkan matanya sempurna.


"Pak! tolong jangan pecat saya" Ujar Pak Razi lagi memohon.


"Maaf pak Razi. Saya sudah mengingatkan anda sebelumnya untuk tidak bersikap keterlaluan kepada Satria. Tapi anda memang tidak mendengarkan nasehat saya. Jadi dengan terpaksa saya harus mengeluarkan surat pemecatan kepada anda sesuai keinginan Pak Herman" Ujar Kepala sekolah.


Buk Sonia nampak berbisik-bisik kepada Buk Sopi di sampingnya.


"Untung saja aku gak mengeluarkan ucapan kasar ku di depan Pak Herman kepada Yumi. Kalau tidak? aku juga akan di pecat" Bisik buk Sonia takut.


"Tapikan tadi pagi di kantor guru kamu juga menghina Yumi. Gimana kalau Yumi melapor kepada Mertua kaya nya itu? Bisa-bisa kamu di pecat juga" Ujar Buk Sopi.


Buk Sonia semakin gemetar ketakutan, "Iya juga ya! semoga saja Yumi gak melaporkan aku" Harapnya.


Satria terlihat mengambil alih posisi ayahnya, lalu memegang sebuah Makropon.


"Saya Satria Satriawan. Mengakui dengan penuh rasa kesadaran. Saya memang sudah menikahi Yumi beberapa bulan yang lalu. Awalnya pernikahan ini hanyalah sebuah kecelakaan, saya menolong Yumi yabg hendak di perkosa oleh preman dan warga disana mengira bahwa saya berbuat yang tidak-tidak kepada Yumi. Namun setelah berjalannya waktu, saya mulai mencintai dia, dan sangat mencintainya. Buat kalian yang selalu menghina istri saya, saya tidak akan berdiam diri, saya akan membelanya walaupun pendidikan saya menjadi taruhannya" Ucap Satria dengan penuh percaya diri.


Yumi yang mendengar itu menatap lekat wajah Satria, bulir air matanya seketika terjatuh begitu saja. Tidak dapat di pungkiri, bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama kepada Satria, namun enggan untuk mengungkapkan perasaan itu.


"Walaupun saya adalah anak pemilik sekolahan ini, saya bersiap untuk di keluarkan dan mentaati aturan sekolah" Lanjut Satria lagi.


Yumi menggenggam tangan Satria dengan erat, membuat mata Satria beralih kepada Yumi yang sudah menangis.


"Biarkan aku saja yang keluar, Kamu lanjutkan saja pendidikan mu" Ucap Yumi lirih namun masih dapat Satria dengar dengan jelas.

__ADS_1


"Aku bersedia keluar dari sekolahan ini. Aku mohon, jika kau mencintai aku, bertahanlah dan tempuhlah pendidikan mu disini" Ucap Yumi lagi.


Satria masih terdiam dengan tatapan yang tidak berpaling dari Yumi.


"Tapi semua ini karena kesalahan ku" Tolak Satria.


"Tidak! Ini semua salahku. Bertahanlah jika kau mencintai aku"


"Satria bertahanlah. Kami mendukungmu disini" Teriak Bram sahabatnya. Lalu sorak dukungan semua murid pun mengiringi. Terkecuali Winda dan juga Haikal yang nampak tidak senang dengan semua ini. Mereka pikir, rencana ini akan berhasil mengeluarkan Yumi dari sekolah dan membuat Yumi salah paham kepada Satria. Namun semua itu sirna di saat Identitas Satria terungkap dan di ketahui semua orang.


Satria pun mau tidak menyetujui permintaan Yumi. Walaupun berat harus membuat istrinya keluar dari sekolahannya sendiri, namun Satria mempunyai rencana lain untuk istrinya walaupun tidak harus mengajar di sekolahan ini.


"Baik. Aku berjanji, setelah ini aku akan bersungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan. Aku akan lulus tahun ini tanpa campur tangan siapapun" Ucap Satria lantang.


Senyum pak Herman pun mengembang dengan sempurna. Dia bangga kepada anaknya yang kini sudah mulai berubah. Setidaknya setelah kematian istrinya beberapa tahun yang lalu, Yumi akan menjadi sosok pengganti yang akan membuat Satria berubah dan kembali seperti dulu.


"Semoga, dengan kehadiran Yumi, akan membawa Satria ke jalan yang benar" Batin Pak Herman penuh harap.


Acara pertemuan pun berakhir. Kini tidak ada lagi pelajaran. Dan Khusus hari ini,. Kepala sekolah sengaja meliburkan anak-anak muridnya. Tidak sedikit yang mengucapkan selamat kepada Satria karena telah memenangkan hati seorang guru cantik yang selama ini menjadi perebutan semua kaum laki-laki yang ada di sana, walaupun pada akhirnya Yumi harus di keluarkan dari sekolahan itu demi Satria yang akan menyelesaikan pendidikannya tahun ini.


Satria pulang dengan mobil mewah bersama ayahnya. Yumi juga ikut didalamnya menuju rumah kediaman yang selama ini Satria dan Yumi tempati.


Tidak berapa lama. Mobil itu pun berhenti tepat di depan rumah Yumi.


"Silahkan masuk pak!" Seru Yumi mempersilahkan Pak Herman untuk masuk.


Pak Herman tersenyum ramah, "Satria! Katakan kepada istrimu, jangan memanggilku dengan sebutan pak, tapi panggil dengan sebutan papa" Ujar Pak Herman kepada Satria.


"Siap pa. Yumi! Kamu dengarkan permintaan Papa. Mulai sekarang panggil papa jangan Pak, ok"

__ADS_1


Yumi hanya tersenyum malu, walau bagaimana pun ia belum terbiasa memanggil pak Herman dengan sebutan papa. Apalagi Pak Herman bukanlah orang biasa. Dirinya juga tidak menyangka bahwa papanya Satria merupakan orang paling kaya di kota ini. Sejak hari itu, Yumi hanya tau bahwa papanya Satria hanyalah pemilik sekolahan itu, namun kenyataannya Pak Herman bukanlah orang biasa. Begitulah pikir Yumi.


Pak Hasan yang mendengar suara mobil di depan rumahnya pun segera keluar.


"Yumi! Satria!" Serunya.


Yumi dan Satria seketika menoleh ke arah suara. Mereka berdua tersenyum dengan penuh kebahagiaan, lalu menghampiri pak Hasan.


"Pa! Kenalin, ini Pak Herman, papanya Satria!" Ucap Yumi memperkenalkan keluarga Satria.


"Senang bertemu denganmu" Ucap Pak Herman ramah seraya membentangkan tangannya untuk bersalaman.


Pak Hasan terlihat senang, lalu membalas jabatan tangan Pak Herman. Mereka pun masuk ke dalam rumah setelah saling berkenalan, pak Hasan dan Pak Herman terlihat langsung akrab. Sungguh suatu kebahagiaan yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2