
"Anak pemilik sekolahan?" Ujar Yumi dengan tidak percaya.
"Saya tidak mau mendengar keluhan guru-guru lagi setelah ini Satria. Tolong bekerja samalah, jika tidak semua orang akan terancam di berhentikan bekerja oleh ayahmu" Kata Kepsek itu lagi memperingati. Satria nampak terdiam memikirkan perkataan yang kepala sekolah itu katakan barusan kepadanya.
"Kamu boleh pergi sekarang!" Kata kepala sekolah lagi.
Satria pun tidak menjawab, ia segera berdiri dan hendak pergi setelah mendengar penuturan Kepsek.
"Satria!" Seru Kepsek lagi, membuat Satria berbalik menghadap kepada Kepsek.
"Buatlah ayah mu bangga, setidaknya wujudkan keinginan besarnya kepadamu"
Satria hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Kepsek itu, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Yumi pun segera bersembunyi sebelum Satria mengetahui keberadaannya saat ini.
***
Sore harinya.
Yumi berdiri mondar-mandir di depan rumah dengan wajah yang cemas. Pasalnya Satria tidak kembali sejak di panggil oleh Kepala Sekolah tadi pagi.
"Kemana dia pergi? Sudah hampir Magrib tidak juga kembali ke rumah" Gerutu Yumi dengan kesal. Sesekali ia melirik jam dinding di ruang tamu yang menunjukan jam 16.53 sore.
__ADS_1
Yumi pun duduk di salah satu kursi yang ada di teras rumahnya, setelah merasakan kakinya yang pegal karena terlalu lama berdiri.
Sementara di tempat lain. Motor Vega hitam melesat cepat membelah jalanan yang semakin ramai. Lampu merah yang menghalang, membuat pria itu mendecah dengan kesal.
"Sial, kenapa juga ada lampu merah disini" Satria mengumpat dengan kesal ketika lampu merah sialan itu tidak berubah sama sekali.
Satria melirik jam tangan yang terpasang di tangannya, jam sudah menunjukan jam 17.11 sore.
"Yumi pasti akan khawatir, mana Hp Lowbat lagi" Gerutu Satria.
Setelah lampu hijau menyala, Satria pun melesatkan motornya cepat menuju rumah kediaman Yumi.
Tepat pukul 17.56 sore. Satria yang baru sampai pun memarkirkan motornya di depan rumah. Terlihat Yumi menghela nafas lega setelah melihat kedatangan Satria.
"Kamu dari mana?" Tanya Yumi cepat.
"Aku ada kepentingan mendadak. Aku tidak bisa menghubungi kamu karena handphone ku Lowbat. Maaf karena telah membuatmu khawatir" Jelas Satria yang membuat Yumi merasa sedikit tenang.
"Sudahlah. Cepatlah mandi dan bersihkan tubuhmu. Kita makan bersama, setelah itu aku ingin bicara hal penting kepadamu" Ujar Yumi.
Satria pun hanya mengangguk mengiyakan, lalu mengikuti langkah Yumi yang menuju masuk kedalam rumah.
Setelah membersihkan tubuhnya, Satria pun pergi keruang makan yang disana sudah ada Yumi dan Ayah mertuanya. Mereka semua pun makan malam bersama seperti biasanya. Tidak ada suara atau pun pembicaraan antara mereka. Hingga sebuah suara mengalihkan pandangan Yumi dan Satria.
__ADS_1
"Satria! Kapan kamu mau memperkenalkan keluarga mu kepada kami?"
Satria terlihat meringis kikuk. Tidak tau harus menjawab apa, terlebih lagi Satria belum siap untuk memperkenalkan seluruh keluarganya kepada Yumi dan mertuanya.
"Sebelum Satria lulus sekolah, Satria belum bisa memperkenalkan mereka Pa. Satria takut akan membuat tetangga disini akan curiga mengenai hubungan ku dan Yumi Pa. Satria juga masih sekolah, nanti takutnya akan membuat citra keluarga papa akan rusak karena Satria" Jawab Satria. Entah dari mana jawaban itu muncul, namun itu sedikit masuk akal untuk dijadikan alasan oleh Satria.
"Sudahlah pa. Tunggu saja Satria lulus sekolah. Ini juga untuk kebaikan bersama" Sambung Yumi.
"Baiklah, Papa akan menunggu" Jawab Hasan menurut.
Satria sedikit menghela nafas lega, lalu kembali melanjutkan memakan makanannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.