Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 22 Gemetar Ketakutan


__ADS_3

Terlihat Pak Herman menautkan kedua alisnya, menatap semua orang dengan wajah yang kesal melihat anak semata wayangnya seakan tidak di hormati di sekolahan ini.


Matanya tertuju kepada kepala sekolah dengan tajam, seakan meminta penjelasan akan respon yang semua orang berikan kepada anaknya. Kepala sekolah terlihat meringis takut, lalu melanjutkan pidatonya.


"Tenang semuanya!" Seru Kepala sekolah itu kepada semua orang.


"Pak Herman ini adalah tamu terhormat kita. Selain itu kalian juga harus tau bahwa Pak Herman ini adalah pemilik sekolahan ini. Beliau yang telah mendirikan sekolahan kita hingga menjadi sekolahan termewah yang pernah ada. Dengan tempat waktu, saya persilahkan Pak Herman untuk memberikan kata sambutan untuk murid-murid disini" Ujar Kepala Sekolah. Pak Herman pun berdiri dari duduknya, lalu menghampiri kepala sekolah.


"Selamat pagi semuanya" Sapa Pak Herman dengan tersenyum ramah. Semua orang pun menyambut dengan ramah sapaan dari Pak Herman.


"Terimakasih karena sudah menyambut kedatangan saya dengan sangat meriah. Saya juga bersyukur bisa bertatap muka langsung bersama generasi muda yang ada disini. Sebelum itu ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Herman Satriawan. Pengusaha Minyak dan gas. Saya juga memiliki satu orang anak yang kebetulan juga bersekolah di sekolahan ini,,,,,,,," Pak Herman sengaja menggantung ucapannya. Yang membuat semua orang berbisik-bisik mempertanyakan siapa anak pengusaha kaya ini yang selama ini tidak mereka ketahui.


Satria pun datang dengan menggandeng tangan Yumi menuju halaman sekolah. Pak Herman tersenyum senang, melihat anaknya yang sudah mau belajar untuk bertanggung jawab. Bukan hal yang besar, walaupun hanya membela seorang istri, itu sudah menjadi tanggung jawab suami untuk menjaga kehormatan istrinya.


Semua mata juga menatap Satria dengan tatapan benci dan jijik. Tidak sedikit yang berbisik-bisik menghina Satria dan Yumi. Bahkan mereka mengatakan bahwa Satria dan Yumi tidak memiliki rasa malu. Bahkan pemilik sekolahan itu juga melihat seorang murid yang pembangkang dengan berani menggandeng tangan seorang guru yang jelas-jelas dilarang di sekolahan ini memiliki hubungan. Begitulah pikir semua orang, termasuk guru-guru yang ada disana.


Pak Razi berdiri tidak suka, lalu menghampiri Satria dan Yumi.


"Satria! Kamu sudah kehilangan akal ya! Kamu tidak tau malu. Pemilik sekolahan ada disini, tapi kamu dengan beraninya menunjukan kebodohan kamu. Pergi sana!" Usir Pak Razi dengan kasar. Satria tidak bergeming, hanya tatapan tajamnya yang melayang ke arah pak Razi.


Pak Herman melihat tidak suka perilaku seorang guru itu. Namun tidak menunjukan kemarahannya.

__ADS_1


"Satria! Kesinilah!" Panggil Pak Herman lembut.


Pak Razi menatap bingung kearah pak Herman ketika Pak Herman memangil nama Satria. Bukankah Pak Herman baru sekali ini datang ke sekolahan? Begitulah pertanyaan yang muncul di benak Pak Razi.


Satria mendekat, namun genggaman tangannya kepada Yumi tidak ia lepaskan, membuat Yumi mengikuti kemana pun langkah Satria.


"Papa!"


Seketika semua orang tersentak mendengar ucapan Satria. Terlebih lagi Pak Razi, matanya melebar sempurna dengan mulut yang menganga. Terkejut? itulah yang mereka semua rasakan.


Sungguh satu ucapan yang membuat raga mereka terguncang.


"Kemarilah nak!" Titah Pak Herman kepada Satria.


Satria pun mendekati sang ayah. Pak Herman memeluk tubuh Satria dengan senyuman bahagia. Lalu merangkulnya dengan menghadap kepada semua orang yang ada disana.


"Perkenalkan, inilah anak semata wayang saya. Saya yakin kalian sudah tau namanya bukan? Dan Yumi adalah menantu saya" Ujar Pak Herman memperkenalkan Satria dan Yumi sebagai anaknya dan juga menantu perempuannya.


Mendengar itu, Semua mata menatap Satria dan Yumi dengan tatapan tidak menyangka.


"Dan tadi siapa yang sudah menghina mu?" Tanya Pak Herman.

__ADS_1


"Namanya pak Razi Pa!" Satria menjawab dengan lantang. Membuat lelaki itu gemetar ketakutan.


Pak Razi mendekat. Wajah takutnya serta wajah bersalahnya terlihat begitu jelas.


"Maafkan saya pak. Saya tidak tau kalau ternyata Satria adalah anak Bapak" Ujar Pak Razi meminta maaf.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2