Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 30 Di penjarakan


__ADS_3

Mendengar itu, Pak Herman semakin murka. Amarah yang sejak tadi ia tahan, kini sudah tidak terbendung lagi.


Meida lupa, bahwa suaminya Pak Herman juga memiliki ilmu bela diri. Tidak ubah bahwa Satria juga jago beladiri karena ajaran ayahnya.


Pak Herman menangkis tangan Meida yang memegang pisau, setelah pisau itu terlepas, dengan gerakan cepat ia berbalik dan mengunci tangan Meida.


Wanita lemah seperti Meida tidak akan bisa menahan serangan Pak Herman, apalagi jika Meida tidak memiliki ilmu beladiri dengan keadaan yang masih sakit akibat keguguran itu.


"Heru! Panggil polisi" Perintah Satria.


Meida terlihat meringis menahan sakit, namun tatapan kebencian mengarah kepada Satria yang telah menggagalkan rencananya.


Aku akan kembali kepada mu Satria, dan ini hanya akan menjadi permulaan untuk kehancuran mu. Ucap Meida di dalam hatinya dengan penuh kebencian.


"Aku tidak menyangka kau akan mengkhianati aku seperti ini Meida" Ujar Pak Herman dengan suara gemetar.


Meida hanya diam, dengan sedikit menahan sakit di perutnya. Bagaimana tidak, wanita yang baru saja keguguran harus berdiri cukup lama dengan tubuh yang sedikit tertunduk karena tangannya di kunci dari belakang oleh Pak Herman. Lelaki tua itu pun tidak segan-segan memperlihatkan kekejamannya, ia benar-benar tidak perduli kepada Meida yang sejak tadi terlihat menahan sakit.


Tidak berapa lama, beberapa polisi datang ke ruangan rawat itu. Pak Herman segera menyerahkan Meida kepada Polisi. Meida pun di ringkus polisi dan di bawa keluar dari sana. Terlihat semua pasang mata menatap wanita itu dengan wajah yang heran.


"Wanita secantik dia ternyata seorang penjahat"

__ADS_1


"Kasihan sekali"


Beberapa komentar mengenai apa yang mereka lihat pun terdengar disana. Meida hanya bisa menunduk menahan malu ketika semua orang menatapnya penuh iba. Bukan karena mengasihani, tapi menyayangkan ketika wanita secantik dia harus mendekam di dalam jeruji besi.


****


Di kantor Polisi.


Terlihat Meida sudah di masukan ke dalam penjara. Sementara itu, Satria dan beberapa orang lainnya menjadi saksi dan menyerahkan bukti berupa rekaman cctv dengan tuduhan atas penipuan dan pencemaran nama baik keluarga Satriawan.


Pak Herman Satriawan adalah orang terpandang di kotanya, dia juga merupakan orang paling kaya disana. Jadi tidak sulit baginya untuk memenjarakan Meida, apalagi dengan bukti perselingkuhan dan juga penyataan Meida mengenai keinginan nya untuk menguasai harta keluarga Satriawan. Sudah dapat di pastikan, bahwa lelaki yang sudah meniduri Meida juga akan terseret ke dalam kasus ini.


Setelah di interogasi oleh polisi, mereka semua pun pulang dengan perasaan lega. Terlebih lagi Satria, usahanya selama berbulan-bulan untuk mendapatkan bukti mengenai Meida, kini berjalan dengan lancar. Kepergiannya dari rumah waktu itu tidak sia-sia. Apalagi dia mendapatkan seorang istri yang begitu baik hati seperti Yumi.


Haikal mulai kewalahan mencari akal untuk menjatuhkan Satria. Seorang pria yang begitu membenci Satria dan ingin membalaskan dendam adiknya kepada Satria.


Karena identitas asli Satria, Haikal merasa kesulitan untuk menjatuhkan Satria ke dalam jebakannya. Apalagi Satria sekarang jauh lebih pintar dan licik dari sebelumnya. Dia yang awalnya tidak perduli tentang apapun mengenai pelajaran, kini menjadi seorang pria yang baik dan penurut kepada Guru.


"Apa aku harus mencari cara lain yang lebih ektrim untuk menghancurkan Satria?" Gumam Haikal dengan terus berpikir mengenai rencana ia selanjutnya.


Berkali-kali rencananya selalu gagal untuk menjatuhkan Satria, padahal ia pikir rencananya itu adalah rencana yang paling baik. Tapi Satria selalu memiliki nasib baik dari rencana buruknya itu.

__ADS_1


Haikal nampak berjalan, mendekati sebuah nakas di dekat kasurnya. Diambilnya sebuah foto berbingkai disana. di pandangnya dengan sangat dalam sebuah foto seorang wanita cantik dengan pakaian sekolah yang sama sepertinya.


"Kamu harus tenang di sana Dek! Kakak janji akan membalaskan dendam mu kepada Satria. Kakak akan menghancurkan Satria, sama seperti dia menghancurkan perasaan mu" Ucap Haikal dengan mengusap foto itu lembut. Tangannya gemetar, wajahnya memerah menahan amarah, setiap kali ia mengingat kematian adiknya, Haikal merasa sangat sakit. Ingin sekali ia membunuh Satria saat itu juga.


.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa Like, coment dan vote ya.


Hai teman-teman, maaf ya Author menghilang tanpa kabar. maaf juga karena sudah membuat kalian menunggu.


Alasan Author tidak up, pertama ada kesibukan dunia nyata yang tidak bisa di tinggalkan dan belum lagi punya bayi kecil. Jadi bukannya Author tidak niat untuk membuat cerita, tapi karena ada beberapa hal kendala yang membuat Author gak sempat up. Alasan yang kedua, Author sedang menyiapkan sebuah naskah untuk penerbit dan di jadikan buku. Jadi itu bener-bener menguras waktu, sehingga tidak sempat untuk up.

__ADS_1


Sekian pemberitahuan dari Author, semoga kalian mengerti.


__ADS_2