
"Apa kau menginginkannya? Aku bisa saja memberinya untukmu"
Yumi seketika tersentak, wajahnya bersemu merah karena menahan malu kepergok suaminya sendiri sedang menikmati pemandangan yang indah itu.
"Kenapa juga sampai ketahuan Satria kalau aku memandangi tubuhnya, rasanya aku ingin pergi saja ke samudra Pasifik, setidaknya mengasingkan diri dari pada menahan malu seperti ini" gerutu Yumi didalam hatinya. Segera Yumi memalingkan wajahnya tanpa ingin menjawab pertanyaan Satria, dan melangkah pergi ke arah pintu keluar.
"Hei tunggu!"
Lagi-lagi Satria menarik tangan Yumi yang hendak pergi, sehingga membuat wanita itu terhuyung dan jatuh ke dalam dekapannya.
"Bolehkan aku meminta jatahku malam ini?" Tanya Satria langsung mengutarakan keinginannya.
Yumi terkejut bukan main, baru saja ia ingin pergi melarikan diri dari jeratan penggoda imannya itu, kini malah Satria yang ingin meminta jatahnya kepada dirinya.
"Kamu mau kan?" tanya Satria lagi memastikan dengan tatapan penuh harap, hingga sukses membuat Yumi menjadi gugup, tidak tau harus menjawab apa kepada Satria.
"Aa-aku,,,,,"
Satria seketika semakin menarik pinggang ramping wanitanya itu, sehingga mereka benar-benar saling menempel. Hal itu semakin membuat jantung Yumi semakin berdetak tidak terkendali seakan ia merasa mau jantungan karena Satria. Bagaimana tidak? Tubuh yang ia kagumi sejak tadi, kini sudah menempel di tubuhnya, sehingga masih dapat ia rasakan tubuh Satria yang sejuk dengan tetesan air di tubuhnya.
Yumi bersusah payah menelan salivanya dalam-dalam, menatap tubuh Satria yang semakin menggoda imannya, dan siap untuk menerkamnya saat ini juga.
"Wauwww, sangat sempurna" Puji Yumi di dalam hatinya.
__ADS_1
"Apalagi yang kau pikirkan Yumi? Kita sudah menikah, dan tidak ada lagi yang melarang kita untuk melakukannya. Aku juga mencintaimu, dan kau juga mencintaiku bukan? Lalu,,,,,," Ujar Satria yang terpotong.
Ucapan itu lebih kepada sebuah tuntutan bagi Yumi. Namun, mau bagaimana lagi, ucapan Satria juga memang benar adanya.
Yumi dengan cepat memotong perkataan Satria, "Iya aku mau" Jawabnya.
Keduanya pun saling menatap dengan senyuman manisnya yang mengembang.
Tidak menunda waktu, Satria pun mulai beraksi setelah mendapatkan persetujuan sang istri.
Satria dengan penuh semangat, menggendong tubuh wanitanya menuju tempat tidur.
Ia yang semula berdiri, kini sudah berada di atas tubuh istri kecilnya itu, dengan lembut ia mencium kening istrinya, lalu mencium kedua mata yumi, hidung, pipi, lalu ke mulut. Ditatapnya wajah Yumi yang tersenyum kepadanya, lalu tidak lama setelah itu Satria mulai menyesap dengan rakus dan mulai menjelajahi bagian-bagian vital, hingga membuat kelelakiannya meminta lebih dari sekedar ciuman panas.
Dua insan yang tengah di mabuk asmara bergelut dengan berbagai gaya kesukaannya. Sehingga meninggalkan remang-remang sahutan kenikmatan yang tiada tara.
Kasur yang bergoyang seakan menjadi saksi bisu akan sebuah cinta yang tersalurkan dengan sebuah energi. Semakin lama, semakin terasa menjadi candu. Ritme yang sengaja di percepat, membuat keduanya bertukar suara kepuasan yang kain menggairahkan. Hingga sebuah lahar yang sengaja di keluarkan dengan sangat dalam. Membuat keduanya saling mengikat satu sama lainnya dengan sebuah pelukan dengan penuh kasih sayang. Lelah, namun semua itu tidak akan sia-sia.
Satria mengecup lembut kening istrinya yang terlihat kelelahan setelah bermain dengannya cukup lama. Walaupun begitu, Satria sangat puas atas kinerjanya dalam menaklukan Yumi.
*******
Keesokan harinya.
__ADS_1
Satria pergi ke sekolah seperti biasa, namun Yumi nampak masih setia di atas kasurnya tanpa ingin beranjak keluar.
Setelah malam pertama yang panjang mereka lakukan semalam, cukup membuat wanita itu merasakan perih di bagian bawahnya, hingga membuat dirinya kesulitan walau hanya sekedar berjalan.
Ya, lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu begitu agresif hingga tidak membiarkan sedikit pun tersisa dari tubuhnya untuk di jelajahi.
Yumi tersenyum bahagia ketika mengingat kembali apa yang mereka lakukan semalam. Walaupun rasanya begitu sakit, namun Yumi merasa ingin melakukannya lagi dan lagi. Itu terasa seperti candu baginya, bagian bawahnya seakan selalu berdenyut-denyut ketika mengingat malam pertama mereka.
"Ternyata seperti itu rasanya malam pertama!" Gumam Yumi dengan masih menampakan senyuman manisnya.
Namun senyum itu seketika terhenti, Yumi merasa aneh dengan sesuatu hal kepada Satria. Yumi baru ingat, bahwa suaminya itu masih merupakan anak SMA, boleh di bilang kalau Satria masihlah pelajar yang sebenarnya belum pantas mengetahui hubungan badan bersama lawan jenisnya. Lalu bagaimana dengan Satria yang begitu Agresif dan seakan mengetahui semua gaya hingga memimpin permainan semalam bersama Yumi.
"Apakah dia pernah melakukannya bersama orang lain?" Ucap Yumi curiga.
Ia segera beranjak dari tempat tidurnya, bukan karena ingin bangun, namun memikirkan Satria membuat Yumi begitu gelisah akan pertanyaan serta kecurigaan nya kepada Satria yang begitu pantai dalam masalah ranjang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.