
Setelah sampai di kantor polisi. Satria segera menemui kepala Reskrim polres yang menangkap Meida. Ia duduk di sebuah kursi panjang yang ada di ruangan khusus penyidik.
"Maaf membuat anda menunggu Pak Satria!" Sapa Pak Aldi yang merupakan pimpinan polisi yang ada disana. Ia menjabat tangan Satria, lalu ikut duduk di sana.
"Tidak apa pak Aldi. Lagi pula saya baru saja sampai di sini" Jawab Satria ramah.
"Kedatangan saya kesini. Saya ingin memberikan beberapa bukti kejahatan yang Meida lakukan" Sambung Satria lagi. Pak Aldi terlihat mendengarkan ucapan Satria dengan serius.
"Tepat tiga tahun yang lalu. Seorang wanita muda bernama Ayunda terjatuh dari atas gedung. Saya mendapatkan sebuah bukti, ternyata Ayunda tidak melakukan aksi bunuh diri, melainkan Meida pelaku dari pembunuhan tersebut, lalu di jatuhkan dari atas gedung. Saya tidak tau motifnya apa jadi saya serahkan hal itu kepada pihak kepolisian untuk mengetahuinya lebih lanjut. Saya juga memiliki saksi atas pembunuhan Ayunda. Selain itu, Saya juga memiliki Bukti bahwa kematian Winda dan mertua saya juga ada kaitannya dengan Meida. Ini sudah seperti tindak pidana dengan pembunuhan berencana. Saya ingin dengan bukti-bukti ini, Kepala kepolisian bisa menghukum Meida dengan seberat mungkin untuk menghindari hal seperti ini terjadi lagi di kemudian hari" Jelas Satria panjang lebar.
"Saya harap bapak mengerti maksud saya agar menghindari pembunuhan ini terjadi lagi di kemudian hari" Lanjut Satria dengan penuh penekanan.
"Saya sangat berterimakasih kepada Pak Satria yang sudah membantu pihak kepolisian untuk menangkap saudari Meida. Kami sudah berupaya untuk mencari keberadaannya, namun sepertinya Meida sudah memiliki rencana. sebelumnya hingga kami tidak bisa mendeteksi keberadaannya. Dengan bukti-bukti ini, saya pastikan Meida akan mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya" Jawab Pak Aldi dengan mengambil dokumen-dokumen serta sebuah flashdisk yang berisikan bukti rekaman kejahatan Meida.
__ADS_1
Satria tersenyum senang, "Terimakasih banyak Pak Aldi. Saya mohon untuk pergi dahulu. Oh ya pak! Apa saya bisa menjenguk Haikal hari ini?" Tanya Satria yang sudah berdiri.
"Bisa-bisa pak! Sebentar, saya akan panggilkan bawahan saya untuk membawa Haikal kemari!" Jawab Pak Aldi dengan antusias segera memanggil bawahannya untuk membawa Haikal untuk menemui Satria di ruang kunjungan narapidana.
Satria pun berpamitan kepada Pak Aldi setelahnya untuk pergi keruang kunjungan narapidana.
Setelah beberapa saat menunggu. Akhirnya yang di tunggu pun datang. Satria tersenyum ketika melihat Haikal keluar, Namun berbeda dengan wajah Haikal yang terlihat masih marah kepada Satria.
"Ngapain kamu jenguk aku? Setelah apa yang kamu lakukan, kamu masih berani untuk menemui ku lagi Satria" Ucap Haikal dengan wajah dinginnya.
Haikal masih tidak mau percaya begitu saja. Lalu ia pun membuka berkas itu selembar demi selembar. Dan betapa terkejutnya ia bahwa apa yang ia baca disana. Dan ada beberapa potongan foto yang sengaja Satria screen dari rekaman yang ia dapat. Bahwa sebelum Ayunda meninggal memang ada seseorang yang membunuhnya.
Haikal seketika diam membeku. Ternyata ia sudah salah mengira bahwa Satria lah penyebab kematian adiknya itu. Ternyata pembunuhan itu adalah orang lain yang ia tidak tau apa penyebabnya membunuh Ayunda, adiknya.
__ADS_1
Haikal mengusap wajahnya kasar. Sudut matanya mulai memerah, ia sangat kesal ternyata yang menjadi sasaran kebencian nya selama ini kepada Satria adalah sebuah kesalahan, hingga membuat Yumi hampir mati karena dorongannya di atas gedung waktu itu.
"Sa-satria! A-aku tidak tau harus berkata apa, ternyata bukan kamu pembunuh adikku. Tapi aku merasa menyesal karena sudah menuduh mu selama dan menyebabkan Istrimu yang tidak bersalah hampir celaka. Aku benar-benar menyesal Satria. Maukah kamu memaafkan aku?" Tanya Haikal penuh harap.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung