
Pak Herman panik, dan segera menelepon Dokter pribadi mereka. Tidak lupa juga Pak Herman menelpon anaknya, mengabari kondisi Yumi saat ini.
Sementara, Satria yang sedang rapat pun terkejut mendengar suara dering handphone miliknya. Ia merasa tidak enak, lalu pergi keluar untuk mengangkat telepon dari sang ayah.
"Iya pa ada apa? Satria masih rapat nih" Satria langsung bertanya pada intinya, karena ia tidak mau membuat para Kliennya menunggu lama.
"Istri kamu pingsan Satria. Dia muntah-muntah sejak pagi hingga tubuhnya lemah" Jelas Pak Herman dari balik telepon.
Satria sedikit terkejut, sepeninggalnya, istrinya itu baik-baik saja. Alih-alih menjawab, Satria langsung mengakhiri teleponnya secara sepihak. Lalu ia menunda rapat bersama Kliennya disana. dan di gantikan oleh sekretarisnya yang akan menjelaskan secara singkat dari meeting kali ini.
Sementara itu. Satria sudah menaiki mobilnya. Seorang supir sudah melajukan mobilnya menjauhi kantor dan membelah jalan raya yang semakin padat. Di jam-jam pagi memang tidak di heran kan lagi, jalanan akan sangat macet karena banyaknya kendaraan yang berlalu lalang melakukan aktivitas masing-masing.
"Sial! Kenapa juga ada macet disini" Umpat Satria kesal ketika pemandangan di depannya yang di penuhi oleh banyaknya kendaraan yang tidak bisa lewat. Ia melihat di sekeliling mencari sesuatu yang bisa ia pakai untuk mempercepat kedatangannya ke rumah.
Pandangan mata Satria beralih kepada sebuah sepeda di dekat taman Kota. Banyak pengendara sepeda yang ada di saja untuk melakukan olah raga pagi.
"Pak! boleh aku beli sepedanya?" Tanya Satria setelah berada di dekat seorang bapak-bapak paruh baya yang sedang olah raga di taman.
"Tidak bisa mas. Nanti saya pulang pakai apa? Masak jalan kaki?" Ujarnya menolak permintaan Satria
__ADS_1
"Tolong pak. Istri saya sedang sakit saat ini. saya perlu kembali secepat mungkin. Bapak lihatkan itu jalannya macet banget. Tolong dong pak. Saya akan bayar sepeda bapak berapa pun bayarannya" Satria memohon dengan sangat tulus. Terlihat dari sorot matanya yang begitu khawatir saat ini.
Pria yang sudah sepuh itu pun merasa kasihan. Lalu mendorong sepedanya kepada Satria dengan suka rela.
"Kamu pakai saja, dan tidak usah di bayar. Anggap saja ini pemberian untuk istrimu yang lagi sakit. Semoga lekas sembuh" Jawab bapak tua itu lembut.
Satria tersenyum bahagia, "Terimakasih pak! aku akan mengingat jasamu" ucap Satria, lalu meraih sepeda itu, lalu pergi meninggalkan tempatnya.
Sudah lama Satria mengayuh sepedanya dengan tenaga penuh. Terlihat keringat juga membasahi wajahnya yang tampan. Banyak pasang mata menatap lelaki itu dengan wajah keheranan, pasalnya mereka melihat seorang pemuda tampan dengan setelan jas silver yang sangat elegan. Rasanya aneh jika seseorang dengan pakaian kantor formal seperti seorang bos memakai sepeda di jalan raya. Jika saja untuk olahraga, mungkin itu tidak terlihat aneh.
Ada yang tertawa, ada juga yang hanya menampakan senyum kepada Satria. Namun Satria hanya membalas mereka dengan senyuman manisnya. Seakan tidak perduli akan tatapan yang orang-orang berikan kepadanya.
Tidak lama, Satria pun akhirnya sampai. Beberapa pengawal melihat dengan heran tuannya itu. Namun tetap menyambut hangat kedatangan Satria walaupun hanya memakai sepeda.
"Selamat ya Pak! Menantu anda sedang hamil"
Seketika langkah Satria terhenti mendengar perkataan Dokter kepada Papanya. Wajahnya yang penuh dengan peluh pun nampak terkejut. Namun rasa bahagianya begitu mendominasi di hatinya.
"Papa! istri aku hamil?" Satria segera menghampiri papanya setelah tersadar setelah sejenak membeku.
__ADS_1
"Satria! kamu kenapa? Kok banyak keringat gitu" Alih-alih menjawab, Papanya lebih fokus kepada penampilan anaknya yang terlihat berantakan.
Satria cengengesan, dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Satria kesini pakai sepeda Pa. Habis jalannya macet jadi aku minjem sepeda orang di jalan untuk kesini" Jawab Satria jujur.
Papanya hanya tergeleng dengan senyuman manisnya.
"Ya sudah. Mandi sana! Istrimu juga sudah bangun. Kata Dokter dia gak apa-apa, cuma kecapekan karena lelah habis muntah-muntah tadi pagi. Selamat ya! Kamu sebentar lagi akan menjadi papa. dan Papa akan menjadi kakek" Ujar Pak Herman setelahnya.
Satria mengangguk dengan tersenyum bahagia. Ia pun langsung pergi ke dalam kamarnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.