Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 42


__ADS_3

Satria terdiam sejenak. Sampai pada akhirnya ia kembali berkata, "Memang jika diriku berada di posisi itu, aku juga akan merasa sangat sedih. Namun apakah tindakan seperti ini adalah tindakan yang benar? Kau melukai orang yang sama sekali tidak tau apa-apa tentang masalah kita. Apakah adikmu atau ibu mu di surga akan mendukungmu melakukan ini Haikal? Apakah mereka akan menyukainya?" Satria berbicara selembut mungkin, berharap masih ada hati nurani yang tersimpan di benaknya.


"Cukup Satria! Aku tidak ingin mendengarkan ucapan mu" Teriak Haikal menggema disana.


Kini Haikal menangis histeris, ia sudah seperti orang gila yang ingin membalaskan dendam adiknya tanpa berpikir siapa yang harus terluka atau pun mati. Yang ia inginkan, orang yang menyebab kematian adiknya itu merasakan bagaimana rasanya di tinggal oleh orang yang kita sayang sehingga berjuang melawan rasa benci amarah serta keputusasaan yang selama ini ia rasakan. Ia ingin semua itu juga tejadi kepada Satria.


Ia yang semula menangis dengan wajah tertunduk, kini menampakan senyuman. Itu terlihat sangat mengerikan bagi Yumi. Sorot matanya seketika berubah tajam.


"Aku tidak perduli Satria. Yang aku inginkan kau merasakan apa yang aku rasakan selama ini" Teriak Haikal dengan di iringi suara tawa yang begitu menyeramkan.


Yumi semakin menangis, ia benar-benar ketakutan. Apalagi melihat kondisi Haikal yang sudah tidak waras seperti ini. Sepertinya dirinya benar-benar akan mati kali ini. Itulah pikir Yumi.


Satria sejak tadi terus membujuk Haikal dengan berbagai cara, namun matanya tidak lepas dari sosok wanita yang sangat ia cintai itu. Jujur, Satria benar-benar ingin memeluk Yumi saat ini, agar istrinya itu tidak ketakutan seperti ini.


"Selamat tinggal Satria!" Haikal menyeringai dan sudah berada di belakang Yumi. Ia siap akan mendorong Yumi dari atas gedung itu.


"Jangan!" Teriak Satria.


Satria berlari sekuat tenaga, mendorong tubuh Haikal dari sana dan..........

__ADS_1


...


...


"Bertahanlah Yumi. Aku akan menolong mu!" Ucap Satria dengan nafas yang sudah setengah dada menahan tangan Yumi yang sudah terjatuh. Beruntung Satria dengan cepat menangkap tangannya, sebelum Yumi benar-benar akan terjatuh kesana.


"Bertahanlah Sayang. Aku,,,,,, Ahkkkkk" Satria memekik kesakitan di kala Haikal menentang perut Satria.


Yumi semakin menangis melihat suaminya itu di pukul habis-habisan oleh Haikal di atas sana.


Beberapa pengawal, datang mendekat dan mengeroyok Haikal begitu saja. Dan tidak lama setelah itu polisi dan Pak Herman pun datang.


Akhirnya Haikal di bekukan di sana dan di tahan oleh polisi.


Sementara Satria dan beberapa pengawalnya nampak masih membantu Yumi untuk naik ke atas.


Setelah sampai di atas. Satria segera memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat. Keduanya menangis di dalam pelukan hangatnya. Tidak ingin melepaskan satu sama lain.


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang telah membuatmu celaka" Ucap Satria di sela tangisnya.

__ADS_1


Dikecupnya kening istrinya itu dengan sangat lembut. Lalu di lepaskan nya tali di kedua kaki dan tangan Yumi, serta lakban yang menutupi mulut istrinya itu.


Kembali Yumi menangis dengan memeluk tubuh Satria.


"Aku sangat takut Satria. Aku takut jika aku harus meninggalkan mu saat ini" Ucap Yumi yang masih sensegukan.


Satria mengusap kepala Yumi, "Iya sayang! Sekarang masih ada aku disini bersama mu. Tenanglah, kita akan pulang" Ujar Satria lembut. Dengan mengusap lembut darah segar yang mengalir di dahi Yumi akibat benturan di dinding tadi disaat Satria menolongnya yang hendak terjatuh.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2