
Satria mencari beberapa nomor Sekertaris yang tersimpan di handphone nya. Lalu menelpon satu persatu nomor itu, namun tidak ada satupun yang bisa di hubungi.
"Ada apa ini? Apa Papa benar-benar kecelakaan?" gumam Satria yang nampak khawatir.
Yumi terlihat menyerjapkan matanya, ia segera bangun ketika mendapati suaminya yang mondar mandir disana.
"Ada apa Satria?" Tanya Yumi.
Satria seketika tersentak, lalu menoleh kepada Yumi dan duduk di samping istrinya dengan gelisah.
"Ada seseorang yang tidak di kenal menelpon, katanya Papa kecelakaan. Tapi handphone nya tiba-tiba mati, dan aku tidak bisa menghubungi nya balik" Ucap Satria.
"Kecelakaan? Malam-malam begini? Lalu dari mana mereka mendapatkan nomormu? Seharusnya jika ada kecelakaan, polisi yang akan menelpon pihak keluarga" Ucap Yumi beruntun. Ia merasakan sesuatu yang aneh.
Satria seketika terdiam, berpikir akan apa yang istrinya katakan barusan.
"Masuk akal sekali. Seharunya Polisi yang menelpon ku, dan tidak mungkin tiba-tiba handphone itu mati begitu saja" Ucap Satria yang juga mengerti akan kecurigaan Yumi.
"Apa jangan-jangan ada yang sengaja melakukan ini agar kita panik?" Tanya Yumi.
"Aku akan menelpon pengawal yang mengikuti Papa dulu. Setidaknya nomor mereka mungkin masih aktif di jam segini" Ucap Satria. Yang hanya mendapat balasan anggukan dari Yumi.
Satria pun mulai menelpon nomor salah satu pengawalnya, dan nomor itu tersambung, membuat Satria sedikit merasa lega. Setidaknya ia akan mengetahui kabar keberadaan Papanya saya ini.
"Hallo tuan!"
"Dimana Papa?" tanya Satria cepat.
__ADS_1
"Tuan besar? Dia ada di kamarnya" Jawab pengawal itu.
"Benarkah? Coba kamu periksa dulu, aku ingin kamu pastikan bahwa Papa memang benar ada di dalam kamarnya" titah Satria.
"Baik tuan" Jawab pengawalnya menyetujui. Tanpa mematikan teleponnya, pengawal itu berjalan menuju kamar Pak Herman.
"Tuan besar masih ada di kamarnya tuan" Ucap Pengawal itu setelah memastikan bahwa Pak Herman memang benar-benar ada di dalam kamar.
Satria menghela nafas lega, "Syukurlah. Aku tegaskan kepada kalian agar menjaga papa ku dengan benar. Bawa Papa pulang secepat mungkin setelah urusan disana selesai" Ucap Satria.
"Baik tuan"
Satria pun mematikan teleponnya, nampak Yumi masih setia menunggu kabar dari suaminya itu mengenai Papa mertuanya.
"Papa baik-baik saja di sana. Sepertinya memang ada seseorang yang sengaja mengelabui aku. Tapi siapa?" Satria bertanya dengan heran akan penelpon misterius itu.
"Sudahlah. Jangan terlalu di pikirkan. Ayo tidur lagi" Ajak Yumi.
Keesokan harinya.
"Akhhhhhhhhhh"
Satria seketika terperanjat kaget dari tidurnya, segera ia bangun dan berlari menuju sumber suara.
"Ada apa? Kamu kenapa?" Tanya Satria Khawatir kepada Yumi.
Yumi menunjuk ke arah depannya, Satria mulai mengalihkan pandangannya, nampak beberapa tikus busuk tergeletak di balkon teras kamarnya.
__ADS_1
Satria membawa Istrinya menjauh terlebih dahulu, lalu memanggil pelayan untuk membuang tikus-tikus itu.
"Kenapa bisa ada tikus disini?" Ujar Satria yang nampak berpikir.
"Ulah siapa yang seperti ini? Sebaiknya aku memeriksa cctv" Lanjut Satria lagi.
Tatapannya beralih kepada Yumi yang masih terlihat ketakutan.
"Sayang, kita keluar yuk. Kita pindah kamar saja! Pelayan ingin membersihkan nya dulu" Ajak Satria.
Yumi pun mengangguk mengiyakan, lalu pergi bersama Satria ke kamar tamu.
Setelah sampai disana, Satria nampak berpamitan kepada istrinya, "Sayang! Aku pergi sebentar ke ruang kerja papa. Aku ingin memeriksa cctv" Ujar Satria lagi.
"Iya" Jawab Yumi sekenanya.
Setelah itu, Satria pun pergi dari sana menuju ruang kerja ayahnya, karena akses rekaman Cctv berada disana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.