Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 51


__ADS_3

Setelah beberapa saat Satria pergi. Kini Satria sudah sampai di rumah duka untuk pergi melayat.


Karena Winda adalah teman sekolahnya, dan juga salah satu wanita yang sangat menyukainya sejak pertama masuk ke SMA tempat mereka belajar, tentu membuat Satria cukup merasa sedih dan kehilangan. Walaupun Winda memang menyebalkan, tapi Satria tidak pernah membencinya dan tetap menganggapnya sebagai teman.


Sebuah rumah mewah dengan interior yang elegan di padu dengan warna chat bewarna krim tua. Membuat rumah itu terlihat sangat menawan. Kali ini, rumah mewah nan menawan itu sudah di penuhi dengan banyak orang. Bahkan banyak media yang datang hanya untuk mendapatkan informasi tentang kematian seorang model cantik tersebut.


Di bawah sinar matahari yang terik. Seorang wanita nampak menangis di samping peti mati seorang model cantik itu. Satria mengira itu adalah ibunya, karena tidak akan ada wanita yang menangis dengan sangat menyedihkan seperti itu jika bukan itu adalah anaknya.


"Dasar bajingan. Pergi kamu dari sini! Jangan menemui anakku lagi, kau sudah menyakiti anakku"


Satria sontak terkaget, ucapan wanita itu yang mengarah kepadanya membuat perhatian semua orang beralih kepadanya. Tidak sedikit para media memotret kedatangannya dan menyebarkan berita yang tidak-tidak tentang dirinya.


Sialnya. Niat awalnya yang hanya ingin pergi melayat, Karena hal ini Satria harus beralih menjadi Saksi yang harus di interogasi oleh pihak polisi tentang kematian Winda yang sangat tragis.


Malam Harinya.


Satria duduk di kursi panjang ruang tamunya dengan wajah yang lelah. Yumi yang melihat itu pun lantas menghampiri Satria, lalu bertanya, "Mas! Baru pulang! Habis dari mana jam segini baru pulang?" tanya Yumi penuh selidik.


Satria tersenyum simpul, "Habis dari kantor polisi" Jawab Satria sekenanya.

__ADS_1


Yumi pun semakin mendekatkan posisi duduknya dan kembali bertanya, "Kamu jenguk Haikal?" Tanya Yumi lagi.


Satria yang awalnya bersandar di sandaran kursi, kini mengubah posisinya dan meluruskan badannya lalu berbaring di pangkuan Yumi.


"Nggak! Jadi saksi kematian Winda. Tadinya aku mau melayat. Eh tiba-tiba si emak-emak main marah-marah aja bilangnya aku sudah menyakiti Winda, ya polisi curiga dong sama aku dan akhirnya aku di bawa untuk interogasi" Jelas Satria dengan nada bicara yang kesal.


Yumi menggelengkan kepalanya dengan sedikit tersenyum, "Ya gak apa-apa dong. Lagian polisikan memang butuh informasi orang-orang terdekat Winda. Kalau kita gak salah mah, ya jalani aja dan buktikan kalau kita gak ada hubungannya sama Winda. Kamu jangan marah gitu dong, kasihan kan Winda dia meninggal tapi gak tau pembunuhnya siapa" Ucap Yumi sembari mengelus lembut rambut Satria.


"Tapi gara-gara ibunya aku jadi sorotan media" Ucap Satria lagi masih kesal.


"Sudah! Sudah! Sekarang mandi sana, Habis itu makan! Jangan pikirin lagi masalah Winda" Jawab Yumi menyudahi keluhan yang terdengar dari mulut suaminya itu.


Satria pun bangun dengan malas lalu pergi naik ke lantai atas yang juga di ikuti oleh Yumi di belakangnya.


Keesokan harinya.


Satria dan Yumi kembali melakukan kegiatannya seperti biasa.


Satria pergi ke kantor setelah selesai sarapan bersama Yumi dan Papanya. Keadaan kantor juga cukup stabil semenjak di pegang oleh Satria. Tidak heran jika Papanya itu sangat membanggakan anak semata wayangnya tersebut.

__ADS_1


Yumi yang tengah menyiram bunga, kembali merasa tidak enak. Nalurinya berkata bahwa ada seseorang yang sedang mengintainya, walaupun sebenarnya dia tau siapa yang mengintainya sejak kemarin.


Hal ini pun belum sempat Yumi ceritakan kepada Satria. Sebab masalah yang di hadapi Satria saja sudah sangat membuat suaminya itu pusing, apalagi dengan dirinya mengatakan bahwa ada seseorang yang mengintai dirinya saat ini.


"Perasaan ku kok gak enak gini ya?" Tanya Yumi kepada dirinya sendiri, lalu melihat di sekeliling taman bunganya. Tidak mau berlama-lama, Yumi pun segera masuk ke dalam rumah dari pada tetap di luar namun merasa tidak aman.


Yumi masuk dengan tergesa-gesa, sampai sebuah suara mengagetkan Yumi yang berjalan masuk ke rumah.


"Yumi! Kenapa?"


"Hahh, papa! Gak apa-apa kok,.Yumi pergi dulu" Ucap Yumi cepat. Ia pun tidak mau berlama-lama, tidak tau juga harus menjelaskan seperti apa kepada mertuanya tersebut karena dirinya belum mempunyai bukti apapun mengenai pengintai itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2