
Dengan hati yang kesal, Meida melangkah pergi meninggalkan tempatnya.
"Satria berangkat dulu ya Pa. Yumi aku berangkat dulu!" Pamit Satria setelah selesai sarapan.
"Satria!" Seru papanya, membuat Langkah Satria yang ingin pergi pun terhenti.
"Kau memanggil istrimu dengan sebutan Nama?" Tanya Pak Herman. Hal itu tentu membuat kedua insan itu saling melempar pandangan dengan sedikit meringis. Tidak tau harus menjawab apa, karena mereka belum memikirkan panggilan yang tepat untuk masing-masing dari mereka.
"Pa! Kita punya panggilan sayang. Tapi kita masih malu kalau saling memanggil panggilan sayang di depan orang lain" jelas Yumi cepat. Yumi terpaksa berbohong, karena ia takut papanya Satria akan berpikiran macam-macam kepada mereka dan mempertanyakan masalah hubungan yang selama ini belum jelas adanya bagi Yumi.
Pak Herman tersenyum, "Baiklah, papa senang mendengarnya" Pak Herman pun berlalu pergi dengan tersenyum bahagia.
Satria berjalan ke arah Yumi setelah papanya pergi, dengan sedikit tersenyum miring, "Aku juga pergi ya, sayang" Ucap Satria dengan sedikit berbisik. Yumi terdiam dengan wajah yang tersipu malu mendengar perkataan Satria. Satria pun pergi begitu saja dengan tersenyum manis setelah mengatakan hal itu.
****
Satria di antar oleh seorang supir pribadinya. Sesampainya disana, Satria keluar dari dalam mobilnya dengan sedikit menjinjing tas miliknya.
Semua orang terlihat menatap Satria yang baru sampai. Tatapan yang dulu terlihat biasa, kini berubah menjadi tatapan penuh kekaguman. Tidak sedikit yang mulai menyukai Satria karena sudah mengetahui kekayaan yang Satria miliki.
"Pagi Satria!" Sapa Satpam dengan sangat ramah. Satria membalas sapaan Satpam itu dengan anggukan kepala.
Terlihat beberapa wanita berlarian menghampiri Satria. Membuat lelaki itu menatap heran ke arah mereka.
"Satria! Kita ke kantin yuk!" Tawar Bela.
"Jangan! sama aku aja" Cegah Amel.
"Apaan sih kalian. Satria pasti maunya sama aku aja. Iya kan Satria!?" Ujar Ranum dengan percaya diri.
__ADS_1
"Gak mau. Satria maunya sama aku"
"Sama aku aja!"
Satria terlihat kelimpungan disaat tangannya ditarik-tarik oleh para wanita itu.
"Stop!" Teriak Satria yang sudah tidak tahan melihat wanita-wanita itu memperebutkan dirinya.
Seketika mereka tersentak dan terdiam ketika mendengar pekikan suara Satria.
"Kalian pikir aku akan senang mendengar suara kalian yang seperti anak ayam itu. Asal kalian tau ya, tidak ada satu wanita pun yang bisa merayuku. Jangan pernah berharap aku akan menerima ajakan kalian semua" Tegas Satria.
"Oh ya, Satu lagi. Jangan pernah menyentuhku lagi, atau kalian akan tau akibatnya!" Ujar Satria lagi sebelum meninggalkan tempatnya.
Sementara di tempat lain. Lebih tepatnya rumah kediaman keluarga Satriawan. Yumi terlihat berdiri di taman samping rumah seraya menyiram hamparan bunga mawar merah. Indah dan juga menawan hati.
Meida terlihat mendecih, menatap jijik ke arah Yumi dari atas balkon teras lantai dua. Terlihat dengan jelas Oleh Meida keberadaan Yumi yang sedang menyiram bunga di bawah balkonnya.
Kembali ia melirik Yumi dari atas sana, seketika ia menyunggingkan senyuman liciknya. Matanya beralih kepada Bik Inem yang sedang mengepel di ruangan kamarnya.
Segera diambilnya air bekas kain pel lantai itu, dan membawanya ke balkon terasnya.
"Nyonya mau di apakan air itu?" Tegur Bik Inem yang keheranan melihat nyonya nya itu tiba-tiba mengangkat ember berisi air bekal kain pel nya itu
Namun Meida tidak menggubris nya dan terus membawa ember berisi air itu ke teras.
Tampa menunggu aba-aba, segera ia membuang air sisa kain pel itu di atas kepala Yumi. Dan akhirnya,,,,,
Byurrrrrr,,,,,,,,,,,
__ADS_1
Air sisa kain pel itu pun mendarat dengan sempurna di atas kepala Yumi, membuat wanita cantik itu basah kuyup.
Bik Inem yang melihat itu pun sontak terkaget dengan mata yang terbelalak sempurna serta mulut yang menganga.
Yumi Terlihat terkejut, di ciumnya aroma busuk khas kain pel itu menyeruak memasuki rongga hidungnya, membuat Yumi terasa ingin muntah karenanya.
Yumi menengadahkan kepalanya ke atas, melihat siapa yang telah menyiramnya air kotor menjijikan itu.
Terlihat Meida tersenyum puas, ia sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun. Bahkan itu terlihat memang di sengaja dilakukan. Itulah pikir Yumi.
Yumi menggertakkan giginya, terlihat tangannya mengepal dengan geram. Segera ia berlalu dari sana, lalu menaiki anak tangga yang menuju langsung ke kamar Meida.
Tanpa mengetuk pintu, Yumi masuk begitu saja ke dalam kamar itu, lalu menghampiri Meida yang masih berdiri di balkon teras kamarnya.
Yumi menghentikan langkahnya ketika sudah saling berhadapan kepada Meida. Terlihat keduanya saling melemparkan tatapan tajam. Bik Inem yang berada di antara keduanya gemetar. Salah tingkah dan bingung harus berbuat apa kepada kedua nyonya nya itu.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.