Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 21 Kedatangan Pak Herman


__ADS_3

"Tidak ada yang berhak mengeluarkan Yumi dari sekolahan ini!" Pekik Satria lantang.


Pandangan Yumi segera beralih kepada Satria yang sudah berjalan memasuki ruangan dengan tatapan tajamnya.


"Satria jaga ucapan mu, kamu harus menghormati kepala sekolah" Ucap Yumi memperingati.


Satria tidak menggubrisnya, ia berdiri di depan meja kepala sekolah dengan tatapan tajamnya. Kedua tangannya bertelekan kepada meja itu.


"Yumi adalah istri dari pemilik sekolahan ini. Berani-beraninya kamu mengeluarkan dia dari sekolahan ini" Teriak Satria dengan suara yang meninggi.


Yumi semakin di buat terkejut atas pernyataan Satria yang mengatakan kebenaran itu kepada kepala sekolah, namun berbeda dari kepala sekolah yang terlihat biasa-biasa saja di saat berhadapan dengan Satria.


"Maaf Satria, walaupun kamu adalah anak pemilik sekolahan ini, peraturan tetaplah peraturan. Terkecuali ayahmu sendiri yang memerintahkan kepada saya agar tidak mengeluarkan Yumi dari sini" Jawab Kepala sekolah itu dengan tegas.


"Baik! Jika itu mau mu. Aku akan menelpon ayahku untuk membela menantunya disini" Jawab Satria, lalu mengeluarkan sebuah benda pipih dari dalam sakunya dan memencet tombol panggil setelah menemukan nomor ayahnya.


Tutttt


Tutttt


Suara sambungan telepon.


"Hallo" Ucap seseorang dari seberang sana.


"Pa! Papa bisa datang sekolahan sekarang? Sekolahan ingin mengeluarkan Yumi dari sini" Ucap Satria.


"Papa akan kesana sebentar lagi, kamu tunggulah dulu sampai papa datang"

__ADS_1


Setelah mendengar perkataan ayahnya, Satria merasa senang, setidaknya ayahnya mau datang ke sekolah, walaupun ini pertama kalinya Satria akan di ketahui oleh semua orang siapa ayahnya sebenarnya.


Satria sedikit menoleh kepada Yumi yang nampak masih terdiam, "Aku akan membelamu dan tetap mencintaimu" Batin Satria.


Tatapan Satria kini beralih menghadap Kepala sekolah.


"Papa akan datang. Aku ingin kumpulkan semua orang termasuk guru-guru yang juga ada disini" Perintah Satria.


Kepala sekolah itu tidak bisa membantah, apalagi ayahnya Satria akan datang secara langsung kesana, tentu persiapan penyambutan untuk kedatangannya harus terlihat dengan sangat baik.


Kepala sekolah itu pun menelpon bawahannya agar menyiapkan segala keperluan dan juga mengumpulkan semua orang di lapangan sesuai permintaan Satria.


Tidak berapa lama, Tuan Herman Satriawan pun datang. Mobil mewah dengan warna hitam pekat berhenti tepat di halaman sekolah.


Terlihat semua orang yang sudah di kumpulkan di halaman sekolah menatap mobil mewah itu dengan penuh tanya akan siapa yang telah datang. Tidak seperti biasanya mereka akan di kumpulkan secara mendadak seperti ini, membuat semua orang mempertanyakan hal tersebut.


Pak Herman keluar dari dalam mobil membuat mata mereka semua melotot sempurna dengan mulut yang menganga.


"Siapa dia buk?" Tanya Buk Sonia di sebelahnya yang memang tidak mengenal siapa yang telah datang.


"Pak Herman adalah seorang pengusaha sukses yang terkenal itu loh. Masak kamu gak tau sih" ujar Bu Sopi. Matanya bahkan tidak berpaling sedikitpun dari Pak Herman.


"Siapa sih, aku benar-benar gak tau" Jawab Bu Sonia seakan menuntut agar teman satu propesi dengannya itu menjawab dengan jelas pertanyaannya itu.


"Itu loh, pak Herman pemilik perusahaan yang bergerak dalam bidang ekploitasi dan transmisi serta produksi minyak dan gas"


Mata Bu Sonia pun langsung melotot dengan sempurna. Berita akhir-akhir ini yang menyatakan jumlah kekayaan yang berlimpah dengan gelar orang terkaya nomor satu di Indonesia yang sempat Bu Sonia abaikan beberapa waktu lalu, ia bahkan tidak menyangka akan bertemu langsung dengan pemilik perusahaan itu secara langsung disini.

__ADS_1


Kepala sekolah pun menyambut secara langsung kedatangan Pak Herman kesana. Mereka sangat menghargai kedatangan pak Herman, karena sangat sulit bertemu dengan orang penting seperti pak Herman.


"Silahkan pak Herman!" Seru kepala sekolah dengan ramah. Mempersilahkan Pak Herman untuk duduk di salah satu bangku yang telah di sediakan.


Pak Herman tersenyum, "Terimakasih pak" Jawabnya sopan, lalu duduk di sana.


Pak Herman terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan Satria, anaknya.


"Dimana anak itu!" Batinnya.


Kepala sekolah berdiri di depan dengan memegang sebuah makropon (pengeras suara) menghadap kepada para murid-muridnya. Guru-guru juga turut hadir dan duduk di tempat yang sudah di sediakan.


"Baik, sebelum itu perkenankan saya memperkenalkan Pak Herman yang baru saja hadir di sekolahan kita pada saat ini. Selain itu juga, perkumpulan kita saat ini merupakan keinginan Satria, murid kelas XII B. Ada sesuatu hal yang akan mereka luruskan disini...." Belum sempat Kepala sekolah menyelesaikan ucapannya, terdengar semua murid menyeru tidak suka. Terlebih lagi semua guru juga terlihat tidak senang atas perkataan yang terucap dari kepala sekolah.


Terlihat Pak Herman menautkan kedua alisnya, menatap semua orang dengan wajah yang kesal melihat anak semata wayangnya seakan tidak di hormati di sekolahan ini.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.


__ADS_2