
"Cih. Aku tidak takut dosa. Hidupku sudah hancur karena ulah ibumu, maka aku juga akan menghancurkan hidup keluarganya dan keturunannya" Jawab Meida masih dengan amarah yang menggebu.
"Salah Ibuku karena memiliki sahabat seperti mu. Yang mencintai suami orang lain dan merebutnya begitu saja. Salah ibuku karena telah mempercayai wanita seperti kamu" Ucap Satria yang tak kalah lantangnya.
"Letakan senjata mu atau kami tembak?" Seorang polisi kembali memperingatinya. Namun Meida nampak bergeming seakan tidak mengindahkan perkataan polisi.
Meida terlihat menatap nyalang Satria dan Yumi, lalu kemudian ia pun mendorong salah satu anak buahnya kepada polisi, tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Meida pun berlari menjauh berniat untuk kabur.
Dorrr Dorrrrr
Suara tembakan pun terdengar. Satria yang tidak ingin membuat Meida kembali kabur dari sana, segera mengambil pistol polisi yang terjatuh akibat seseorang yang menabraknya itu. Lalu tanpa menunggu aba-aba ia menembak Meida tanpa harus berpikir dua kali. Yumi sempat terpejam kala mendengar suara tembakan. Jantungnya juga berpacu lebih cepat dari biasanya. Karena sejatinya ia begitu takut.
"Akkkrrgg" Meida mengerang kesakitan kala dua belah kakinya sudah tertanam oleh peluru yang Satria tembakan. Wanita itu nampak tidak berdaya dengan kaki yang terluka. Beberapa polisi dan pengawal Satria pun membekukan Meida dan beberapa anak buahnya. Lalu membawanya ke kantor polisi.
"Aku tidak akan berhenti sampai di sini Satria. Aku akan kembali" lirih Meida dengan peluh yang sudah memenuhi wajahnya..
"Dan aku akan membuat hukuman yang tidak akan membuat kau bisa kembali lagi ke sini Meida" Ucap Satria dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
"Bawa saja Pak dia dan anak buahnya itu" Ujar Satria lagi. Dan beberapa polisi itu pun membawa Meida berserta rombongan untuk pergi ke kantor polisi.
Yumi tiba-tiba memeluk tubuh Satria dengan erat. Membuat Satria terkejut, lalu membalas pelukan Yumi.
"Aku sangat takut. Untung saja kamu tidak meninggalkan aku, jika tidak,,,,,,,," Yumi menggelengkan kepalanya takut, dan menggantung ucapannya sendiri.
"Jika tidak aku pasti akan mati di tangan Meida" Lanjut Yumi bergidik ngeri bila membayangkan jika Satria tidak ada di sampingnya saat ini.
"Sudah aku katakan, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu lagi. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama sewaktu kau di culik oleh Haikal sayang. Aku tidak ingin kehilanganmu" Jawab Satria yang membuat Yumi melukiskan senyuman manisnya.
"Terimakasih sayang. Aku juga tidak ingin berada jauh dari mu" Jawab Yumi yang semakin mengeratkan pelukannya.
15 menit berlalu.
"Tuan! Sudah saatnya kita pergi sekarang!" Ujar Ihsan.
Satria mengangguk pelan. Lalu melepaskan pelukan istrinya.
__ADS_1
"Sayang! Aku harus pergi ke kantor polisi sekarang. Kamu tunggulah aku di rumah. Setelah selesai aku akan segera pulang" Pamit Satria yang di balas anggukan kepala oleh Yumi.
"Iya suamiku. Kamu segeralah pulang. Aku menunggumu disini" Jawab Yumi tersenyum bahagia.
Satria mengecup lembut kening istrinya itu, lalu berdiri dan berlalu meninggalkan tempatnya. Sementara Yumi hanya menatap punggung Satria yang sudah menjauh.
Satria pun masuk ke dalam mobil mewahnya, lalu di susul oleh Ihsan yang mengemudi mobil mereka. Tujuan mereka kali ini adalah kantor polisi untuk menyerahkan beberapa bukti yang mereka dapatkan sebelum melakukan jebakan ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung