Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
I LOVE YOU TOO


__ADS_3

Saat terbangun, Nathan tak menemukan Embun disebelahnya. Entah kemana istrinya itu, hanya disuruh nemenin tidur, malah kabur kaburan.


Nathan turun dari ranjang untuk mencari Embun. Baru keluar dari kamar, dia langsung tahu dimana istrinya itu berada. Aroma masakan yang menggugah selera memberi tahu jika si nyonya rumah sedang memasak didapur.


Suara tak merdu ditambah sedikit goyangan membuat Nathan mati-matian menahan tawa. Mungkin bakat terpendam atau cita-cita yang gak kesampaian, selalu saja Embun memasak atau melakukan aktifitas lainnya sambil nyanyi dangdut dan goyang.


"Kenapa berhenti?" Embun langsung menoleh saat mendengar suara Nathan. Wajahnya memerah karen malu Nathan melihat keabsurdannya. "Terusin, aku kan masih belum puas lihat goyangannya. Nanti aku sawer kalau makin hot goyangannya."


"Dih, apaan sih, gak jelas." Embun mengerucutkan bibir, kesal karena diledekin. Emang dia perempuan apaan disuruh goyang hot? Embun membalikkan badan lalu lanjut memasak, tak lagi mempedulikan keberadaan Nathan.


Embun kaget saat sepasang lengan melingkar diperutnya. "Becanda, jangan ngambek dong," ujar Nathan didekat telinga Embun.


"Gak udah deket deket." Embun berusaha melepaskan belitan tangan Nathan. Kalau seperti ini, mana bisa dia konsentrasi masak.


"Tapi aku pengen deket, terus gimana dong?" Nathan masih juga enggan melepaskan pinggang Embun.


"Kak Nathan lepas, nanti gosong telurnya," rengek Embun. Dia kesulitan mau membalik telur dadar karena pergerakannya terbatas.


"Kalau gosong, ya tinggal buang," sahut Nathan enteng. Dia kembali mendekatkan bibirnya ketelinga Embun, membuat bulu kudu wanita itu kembali meremang dan jantungnya berpacu cepat. "Masih ada telur lain yang lebih enak buat kamu."


Embun mengerutkan kening sambil melirik Nathan yang ada disebelahnya. "Telur apaan?"


"Telur yang bikin kamu gak bisa move on."


Embun masih terlihat berfikir, tak pelak Nathan langsung terpingkal-pingkal. Dia melepaskan pelukannya lalu mencium pipi Embun. "Aku mandi dulu ya. Bye sayangku, emmmuacchh." Nathan memberikan kiss bye sambil berlari kecil menuju tangga.


"Dasar Kak Nathan gak jelas," teriak Embun sambil memelototi Nathan.


Embun meraba pipinya sambil tersenyum. Dia yakin saat ini, wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus. Nathan pinter sekali membuat jantungnya jedag jedug.


Setelah semua makanan siap, Embun menatanya dimeja makan. Saat meletakkan piring berisi telur, dia kembali teringat ucapan Nathan tadi. Telur apaan yang bikin dia susah move on. Setelah cukup lama berfikir, mulutnya menganga lebar saat akhirnya dia paham.


"Dasar mesum," gerutu Embun sambil senyum senyum sendiri. Tiba-tiba kembali terngiang kejadian tempo hari saat handuk Nathan jatuh dan menampakkan belalai sekaligus telurnya. Tubuh Embun mendadak panas dingin. "Apaan sih Mbun, kok malah mikirin itu." Buru-buru dia kembali kedapur dan mengambil sebotol air mineral dingin. Saat ini, dia memang butuh yang dingin-dingin untuk menurunkan suhu tubuhnya.

__ADS_1


Ting tong ting tong


Embun meletakkan botol air mineral diatas meja dapur. Bergegas kedepan untuk melihat tamu yang datang. Saat membuka pintu, dia melihat seorang pria membawa sebuket bunga.


"Dengan Mbak Embun?"


"Iya, saya sendiri."


"Ada kiriman bunga untuk Embak."


"Dari siapa?"


"Gak ada nama pengirimnya Mbak. Si pengirim sengaja meminta identitasnya untuk disembunyikan."


Embun mengerutkan kening, menimbang-nimbang mau menerima bunga itu atau tidak.


"Silakan diterima dan tanda tangan disini," pria tersebut memberikan nota penerimaan yang harus ditanda tangani Embun.


Tak mau menyulitkan pekerjaan si kurir, Embun segera menandatanganinya. Setelah bunga tersebut berpindah tangan padanya, Embun mengambil amplop warna pink yang terselip dibuket tersebut.


"Aku gak tahu," sahut Embun sambil mengedikkan bahu. Dia lalu membuka amplop dan mengambil secarik kertas yang ada didalamnya. "I love you too," gumam Embun, membaca apa yang tertulis disana.


Embun seketika menatap Nathan sambil menggeleng. Dia takut Nathan akan salah paham. Apalagi dikertas itu tertulis I love you too, seakan akan dia baru bilang I love you pada si pengirim.


"Sumpah, aku gak tahu siapa yang mengirimnya, Kak," Embun panik sendiri sampai wajahnya pias.


"Menurutmu, siapa yang kemungkinan mengirimnya?" tanya Nathan datar.


"A-aku gak tahu," Embun kembali menggeleng. "Tapi gak ada yang tahu alamatku disini, kecuali....." Embun tertunduk lesu.


"Kecuali siapa?"


"Rama," sahut Embun pelan.

__ADS_1


"Yakin itu dari Rama?"


"Mungkin. Tapi sumpah, aku gak bilang I love you sama dia." Embun memegang sebelah lengan Nathan, berusaha meyakinkannya jika dia dan Rama sudah tak ada komunikasi lagi.


"Kamu yakin itu Rama yang mengirim?"


Embun mengangguk. "Hanya dia yang tahu aku tinggal disini. Pasti ini dari dia."


Nathan berdecak pelan. "Yakin hanya dia yang tahu kamu tinggal disini? Aku gak tahu gitu, menyebalkan." Nathan pergi begitu saja, meninggalkan Embun yang masih mematung memikirkan ucapan pria itu barusan.


Embun menatap punggung Nathan yang makin menjauh. "Jangan-jangan ini dari....." Dia teringat jika pagi tadi mengucapkan I love you pada Nathan. "Apa itu artinya, Kak Nathan denger ucapanku tadi?" Embun menutup mukutnya yang menganga lebar. Bodoh, bisa-bisanya dia malah menyangka jika Rama yang mengirim.


Embun segera masuk kedalam menyusul Nathan. Terlihat suaminya itu duduk dikursi makan sambil ngemil tempe goreng krispi. Wajahnya terlihat kesal.


"Bunga ini dari, Kakak?" Embun memberanikan diri bertanya. Dia berdiri disamping Nathan, tapi pria itu terlihat tak peduli.


"Bukankah kamu bilang dari Rama," sahut Nathan dengan nada kesal. Mengambil sepotong tempe goreng dan langsung memasukkan utuh kedalam mulut.


Embun menahan tawa melihat Nathan yang kesulitan mengunyah karena mulutnya penuh.


Cup


Embun mendaratkan kecupan di pipi Nathan. "Makasih buat bunganya. I love you, my hubby."


Nathan ingin segera menjawab I love you too, sayang mulutnya terlalu penuh hingga dia tak bisa bicara sebelum menelannya.


"Ish, gak dijawab," Embun melipat kedua lengannya didada, pura-pura marah.


Setelah tempe dimulut habis ditelan, Nathan langsung berdiri dan memeluk Embun. Mengangkat pinggang Embun dan membawanya berputar putar.


"Kak, pusing, turunin," teriak Embun sambil tertawa lepas.


Setelah puas membawanya berputar-putar, Nathan menurunkan tubuh Embun. Dia menatap kedua netra wanita itu dengan nafas ngos ngosan.

__ADS_1


"I love you too." Nathan menangkup kedua pipi Embun lalu menghujani wajahnya dengan kecupan.


__ADS_2