
Nathan senyum senyum sendiri melihat putranya sedang menyusuu pada Embun. Bibir mungilnya terllihat lucu sekali saat menyesap. Mungkin karena cowok, jadi nen nya kuat sekali. Dikit-dikit minta nen. Malampun, kalau belum bener-bener lelap, dilepas langsung nangis. Alhasil, Embun tak meletakkan bayinya didalam box, tapi ikut tidur bersamanya dan Nathan diranjang. Dua hari yang lalu, Embun dan bayinya sudah diperbolehkan pulang.
"Kamu kenapa senyum-senyum, Mas?"
"Lucu ngeliat dia nen." Jawab Nathan sambil menyentuh pipi putranya. Keduanya sedang duduk disebuah sofa panjang yang ada didalam kamar.
"Pengen ya?" goda Embun sambil menoel bibir Nathan.
"Enggak lah," sahut Nathan. "Udah bosen aku." Embun langsung melotot. Apa-apaan pakai bilang bosen, udah bosen hidup kayaknya.
"Maksudnya?" tekan Embun sambil memelototi Nathan. Bukannya takut, Nathan yang duduk disebelahnya itu langsung tertawa ngakak. "Bosen kamu bilang." Sebuah cubitan langsung mendarat dipahan Nathan.
"Aduh, aduh Yang, sakit Yang." Nathan menggeliat sambil meringis.
"Punya yang lain, makanya bosen sama punyaku?" sewot Embun. Nathan makin ngakak tertawanya. Katanya bumil yang sensitif. Lha ini, busui, jangan-jangan sensitif juga. Apapun itu, yang namanya wanita memang sensitif, baperan.
"Aku itu bosen susu, bukan pabriknya. Pabriknya mah, gak ada bosennya," ujar Nathan masih dengan tawa yang belum reda. "Enek aku sama susu, gak doyan."
Embun mengerucutkan bibirnya sambil membuang pandangan kearah lain. Dia yakin jika tadi, Nathan sengaja membuat dia kesal.
"Udah jangan ngambek, ntar cepet tua." Sebuah kecupan Nathan daratkan ke pipi Embun. Sementara ini, baru berani pipi dan kening, kalau bibir, takut ada yang bereaksi. Meski dulu sebelum lahiran, Embun sudah bilang jika kapanpun dia mau, istrinya itu akan siap membantu.
"Gak usah nyium-nyium." Embun yang masih kesal, mengusap bekas bibir Nathan dipipinya.
__ADS_1
"Kenapa emang? Jangan bilang kamu jadi pengen kalau aku cium," ledek Nathan sambil tertawa.
"Enggaklah," sangkal Embun. "Palingan juga kamu yang pengen," lanjutnya sambil menyebikkan bibir.
"Halah, biasanya juga kamu yang lebih sering pengen." Embun langsung melotot dikatain seperti itu. "Coba diinget-inget, siapa yang pas belum lahiran, minta tiap malam?" Malam ini, sepertinya Nathan ingin menggoda Embun habis habisan.
"Aku itu minta karena ada alasannya," Embun membela diri. "Karena disuruh dokter. Katanya biar lahirannya mudah." Itu memang alasan utamanya. Tapi selain itu, sebenarnya juga karena Embun yang memang pengen. Jika biasanya bumil udah pada malas saat trimester ketiga, sedangkan dia, hasratnya justru meledak ledak. Bahkan tiap malam tak pernah absen memakai baju dinas untuk memamerkan dada dan perutnya yang makin membesar.
"Padahal kita udah tiap malam loh Yang," Nathan garuk garuk kepala. "Tapi masih aja dia gak mau keluar dari jalannya, minta instan. Kayaknya kalau nanti hamil anak kedua, harus pagi, siang, malam." Embun langsung tepok jidat. Baru juga seminggu lahiran, udah ngomongin anak ke-2.
"Belum juga luka operasiku kering Mas, kamu udah mikir anak ke-2. Ini aja, namanya belum ada, udah kamu pikirin belum?"
Seminggu ini, Nathan sudah memikirkan nama untuk anaknya. Tapi saking antusiasnya mikir, sampai 1 namapun belum dapat. Terlalu pengen yang wah, yang wow, yang luar biasa, sampai akhirnya gak dapet alias zonk.
"Ya udah kamu sebutin, apa aja kandidatnya. Nanti kita putusin bareng-bareng. Pihak EO udah nagih nama terus ini. 3 hari lagikan acara akikah, tapi mereka belum mengantongi nama bayinya. Jadi bingung mau buat stiker yang ditempel di hampers."
Apa yang mau disebutin, satu namapun, Nathan belum dapat.
"Ya udah kalau gitu, pakai nama pilihanku aja," ujar Embun. Dulu saat masih belum tahu jenis kelamin, mereka sudah sepakat jika anak laki-laki, Nathan yang akan memberi nama, jika perempuan, Embun.
"Apa?"
"Bumi."
__ADS_1
"Ck, udah pasaran, udah banyak."
"Kayak nama kamu, pasaran," cibir Embun. Sedikit kesal karena ide namanya ditolak mentah-mentah. Gak dipertimbangkan dulu.
"Alam aja gimana?"
"Yaelah Mas, kayak penyanyi dangdut dong," Embun balas memberi penolakan.
Nathan menghela nafas sambil terus berfikir. Nama, sesuatu yang sebenarnya ada banyak. Tapi untuk memilih 1, itu yang membuat bingung. Apalagi anak pertama, antusias orang tua masih sangat tinggi, masih ingin yang terbaik dalam segala hal, termasuk nama.
"Gimana kalau Awan?" usul Nathan.
"Kayak nama tetanggaku di Malang itu," lagi-lagi Embun menolak. "Gimana kalau Samudra?" usulnya.
"Kayak judul sinetron." Embun langsung mengerutkan kening. Kapan Nathan lihat sinetron, sampai tahu judul sinetron. "Ocean aja, lebih keren," usul Nathan.
"Jangan, Ocean udah dipakai author di novel lain. Peran utama tapi belangsak, nanti gimana kalau anak kita kayak gitu? Aku maunya, anak kita kayak kamu. Jadi idola emak-emak reader."
Nathan rasanya pengen teriak. Cari nama saja, bikin frustasi. Kalau terus terusan kayak gini. Sampai novel ini tamatpun, gak akan ketemu namanya. Nathan menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan.
"Kali ini, kamu gak boleh nolak lagi. Karena menurut perjanjian, aku yang kasih nama."
"Lalu, apa?" Embun jadi deg degan. Semoga saja namanya gak alay.
__ADS_1
"Terang, atau Sagara. Udah, kamu pilih diantara dua itu."