
Embun merasakan kepalanya pusing saat berada dikamar mandi. Semua terasa berputar, dia tak berani melangkah, takut jatuh. Tetap berdiri sambil berpegangan pada tembok.
"Kak Nathan, Kak," panggilnya sambil memejamkan mata. Selain pusing, tubuhnya juga terasa lemes.
Sebenarnya Nathan mendengar, tapi dia pikir, Embun lagi nyari perhatian, jadi diacuekin saja.
"Kak Nathan." Embun mencoba teriak tapi suaranya tetap saja lemah. Yang terdengar malah mirip rintihan, bukan teriakan.
"Ada apa, yang?" sahut Nathan santai. Bukannya ke kamar mandi, dia malah mengambil ponsel dan mengecek email dari Anisa. Cukup lama dia melakukan itu, sampai akhirnya sadar jika Embun tak kunjung keluar dari kamar mandi. "Yang, ngapain, lama banget di kamar mandi?" serunya sambil melihat kearah pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka. Tak mendengar sahutan Embun maupun suara gemericik air, dia mulai gelisah. Turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang!" Pekik Nathan saat mendapati Embun tubuh Embun tergolek dilantai kamar mandi. Saat dia dekati, ternyata Embun pingsan. Segera dia mengangkat tubuh Embun dan membawanya ke atas ranjang. "Sayang, kamu kenapa?" Nathan sangat panik melihat wajah Embun yang pucat pasi. Dia megambil minyak angin dilaci nakas lalu mengoleskan kebeberapa bagian wajah Embun. "Sayang please, bangun. Jangan bikin aku khawatir kayak gini." Nathan mengangkat kaki Embun lalu mengganjalnya dengan bantal agar posisinya lebih tinggi dari dada. Kembali dia mengoles minyak angin dibeberapa bagian wajah Embun sambil terus berdoa agar Embun segera sadar. Hingga akhirnya terlihat pergerakan dijari Embun. Mata Embun mulai mengerjab, dan itu membuat Nathan merasa lega.
"Kak, kepalaku pusing," lirih Embun. Nathan membantunya duduk lalu memberikan air putih yang ada diatas nakas padanya.
"Are you ok?" Nathan menggenggam tangan Embun setelah wanita itu selesai minum. Ditatapnya wajah pucat itu dengan perasaan cemas.
"Pusing," lirih Embun sambil memijat kepalanya sendiri. Nathan naik keatas ranjang, duduk disebelah Embun lalu membantu memijat kepala dan tengkuknya.
"Kenapa bisa sampai pingsan gini sih?" tanya Nathan cemas. Embun juga heran, seharian ini, dia sudah 2 kali pingsan. Padahal dia bukan orang yang mudah pingsang, bisa dibilang, dia jarang sekali pingsan. "Apa kita perlu ke rumah sakit?"
Embun menggeleng lemah. "Gak usah."
Nathan berhenti memijat lalu memperhatikan wajah Embun. Selain bagian mata yang bengkak parah, wajah istrinya itu tampak pucat. "Aku takut kamu kenapa-napa Sayang."
"Aku gak papa." Embun meringsek kedada Nathan untuk mencari kenyamanan disana. Nathan membelai rambut Embun sambil mencium puncak kepalanya beberapa kali.
"Kamu pasti belum makan?" Nathan mendadak ingat ucapan Bi Lasih yang mengatakan jika Embun hanya mengurung diri dikamar sejak pulang kerja.
Embun mengangguk pelan. Dia memang belum makan sejak siang tadi.
"Aku kebawah bentar ya, ambilin kamu makan." Embun menahan lengan Nathan yang hendak beranjak. "30 menit lagi, anniversary kita." Nathan reflek melihat kearah jam dinding. "Dimeja makan ada kue. Kita makan itu aja."
"Yakin gak mau makan nasi?"
__ADS_1
Embun menggeleng. "Pengen ngerayain anniv sama kamu."
Nathan tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Embun. "Wait a moment." Dia lalu beranjak dari ranjang untuk mengambil kue yang ada dimeja makan.
Embun menyandarkan punggungnya dikepala ranjang. Apa hanya gara-gara belum makan dia sampai pingsan 2x dalam sehari? Atau gara-gara stres?
Tak lama kemudian, Nathan datang dengan kue yang sudah lengkap dengan lilin yang menyala. Tapi dia gak nyanyi, karena bingung mau nyanyi apa, gak mungkinkan happy birthday.
"Kok udah nyala lilinnya? Belum jam 12," protes Embun.
"Halah dikit lagi." Nathan melihat kearah jam dinding. 10 menit lagi jam 12. Dia berjalan pelan-pelan mendekati Embun sambil menutupi lilin dengan telapak tangan agar tidak padam. "Make a wish, setelah itu kita tiup bareng-bareng."
"Bentaran lagi, nunggu jam 12 tepat."
"Kelamaan sayang. Anggap aja jam nya lagi ngadat. Udah, buruan make a wish." Embun menghela nafas lalu menatap nanar kearah lilin yang menyala tersebut. "Yaelah malah bengong, buruan."
"Emang Kakak gak mau make a wish?" tanya Embun.
"Apa?"
"Ya gak boleh dikasih tahu dong."
"Apa?" Embun menarik narik baju Nathan. "Kasih tahu, cuma aku doang. Yang lain gak bakalan tahu."
"Udah gak usah."
Embun melipak kedua tangan didada sambil cemberut. Dia gak bakalan mau niup lilin kalau Nathan gak ngasih tahu.
Cup.
Sebuah kecupan dibibir memunculkan garis senyum diwajah Embun. Hampir saja dia lupa kalau lagi mode ngambek.
"Yaelah nih lilin cepet amat pendeknya, Yang," gerutu Nathan saat lilin ulir yang ada diatas kue udah hampir tinggal setengah. "Foto-foto dulu aja yuk, sambil nunggu jam 12." Kalau urusan foto, mana bisa Embun menolak. Dia mengambil ponsel milik Nathan yang ada diatas nakas lalu menekan kamera. "Kok pakai ponsel aku?"
__ADS_1
"Bagusan punya kamu kameranya?"
"Kode keras nih kayaknya, minta ponsel baru," Nathan memutar kedua bola matanya.
"Pinter banget sih Pak Su nebaknya," Embun cekikin sambil menarik gemas pipi Nathan.
Mereka berdua melakukan selfi dengan kue bertuliskan happy anniversary serta lilin yang menyala. Tak cukup sekali kalau Embun, dia berkali kali mengambil gambar sampai Nathan heran. Apa seperti itu semua perempuan, hanya untuk sebuah foto yang sempurna, nangkepnya sampai berkali-kali.
Tepat jam 12, mereka meniup lilin itu bersama sama. Yang pasti setelah make a wish. Entah apa yang diminta, keduanya tak saling memberitahu.
Nathan menyingkirkan lilin lalu memotong kue tersebut. Saat hendak menyuapi Embun, wanita itu malah menutup mulut.
"Kenapa?" Nathan mengerutkan kening.
"Kita suap suapan bareng." Embun mengambil setengah kue yang dipegang Nathan lalu menyodorkan kedepan mulut suaminya. Saat posisi kue sudah sama sama didepan mulut, mereka langsung saling menyuapi. Melihat buttercream dibibir Embun, langsung saja disosor sama Nathan. Biar gak mubadzir katanya, padahal modus.
Setelah suapan pertama tadi, mereka terus makan hingga sengah kue tandas. Dan setelah itulah Embun baru sadar, jika dia telah menghabiskan terlalu banyak kue saat tengah malam seperti ini. Semoga saja gak jadi daging, hanya itu doanya.
Nathan mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya. Sebuah kotak beludru berwarna merah. Dan saat dia buka, isinya adalah kalung berlian yang sangat cantik.
"Cantik banget." Embun tak bisa menyembunyikan ekspresi kekagumannya.
"Masih cantikan kamu tapi."
"Em....meleleh hatiku Mas."
"Mas?" Nathan langsung tertawa ngakak.
"Kenapa, gak cocok ya? Perasaan denger Navia manggil Rama MAS, enak enak aja. Selain itu, temen-temenku juga pada manggil suaminya mas. Aku kan jadi pengen, kayak imut aja gitu panggilan mas."
Mulut Nathan menganga, imut? Dilihat darimananya coba.
"Mau ya dipanggil Mas," rengek Embun. Melihat pasangan yang manggil suaminya mas, entah kenapa dia jadi ikutan pengen juga.
__ADS_1