
Rama pulang agak malam karena harus lembur. Jika dulu Navia akan mengomel ditelepon, mengirim spam chat dan menunggunya diteras, tidak dengan sekarang. Istrinya itu tidak lagi peduli dia mau pulang jam berapa. Dan dalam hati kecil Rama, dia merindukan Navia yang bawel. Seperti itulah manusia, tak pernah puas. Sama seperti saat dikasih hujan, penggenya panas. Saat udah dikasih panas, eh..pengennya hujan.
Saat memasuki kamar, Rama melihat Navia sedang menonton drakor. Senyum Rama mengembang, entah hanya didepannya saja atau memang selalu, Navia sudah tak terlalu sibuk dengan ponselnya.
Rama meletakkan barang bawaannya lalu ke kamar mandi untuk cuci tangan dan kaki, setelah itu menghampiri Navia yang ada diatas ranjang sembari membawa sebuah kantong keresek.
"Kamu suka strawberry kan?" Rama membuka kantong kresek yang dia bawa lalu mengeluarkam sebuah kotak berisi strawberry. "Ada temanku yang dari Malang main ke Jakarta. Ini hasil panennya sendiri, strawberry organik. Aku sengaja pesen buat kamu." Rama mengambil sebiji lalu hendak menyuapkan pada Navia. Tapi wanita itu menolak dengan meletakkan telapak tangannya dibibir. "Kamu gak mau?"
"Belum dicuci," sahut Navia.
Rama terkekeh pelan. Jadi itu alasannya, padahal tadi dia kira Navia menolak pemberiannya. "Tadi dibawah udah dicuciin Suster ida. Jadi aman buat kamu dan dia." Rama mengusap lembut perut Navia yang semakin hari terlihat semakin buncit.
"Ak," Navia membuka mulutnya, dan dengan segera, Rama menyuapinya. "Emm enak, manis."
__ADS_1
"Beneran sayang?" Rama yang penasaran ikutan makan. Tapi baru mengunyah, ekspresinya sudah terlihat aneh. "Asem banget." Rama berlari ke kamar mandi untuk memuntahkannya. Dia memang tak suka dengan makanan yang asam.
Rama bisa mendengar Navia menertawainya. Hatinya menghangat, setidaknya Navia sudah kembali mau tertawa bersamanya. Saat keluar dari kamar mandi, Rama dibuat heran melihat Navia yang memangku kotak berisi strawberry sambil memakannya. Tak ada ekspresi menahan asam sama sekali diwajahnya. Hebat sekali dia, batin Rama.
Rama kembali naik keatas ranjang, duduk disebelah Navia lalu mendekatkan kepalanya diperut sang istri.
"Hai sayang, lagi ngapain nih?" Diciiumnya perut buncit itu dengan lembut sambil diusap pelan. "Papa gak sabar pengen segera ketemu kamu." Dikecupnya beberapa kali lalu kembali menegakkan kepala. Menggeser sedikit duduknya agar dekat dengan kaki Navia lalu memijitnya pelan.
"Kamu pasti lebih capek lagi. Kemana mana sambil bawa anak kita. Bahkan tidurpun, gak bisa ditaruh. Setidaknya, biarkan aku sedikit membantu meringankannya." Navia tersenyum, Rama sudah banyak berubah, tak cuek seperti dulu. Tak harus dia merengek minta ini itu baru dilakukan.
"Mas, untuk chat di hotel yang kamu baca dulu, itu tak seperti yang kamu pikirkan." Sejenak pijatan Rama berhenti. Pikirannya mulai menerawang jauh kalau ingat chat itu. "Rian seorang wedding singer, dia menyuruhku datang saat dia sedang dapat job nyanyi disebuah pernikahan yang diadakan di hotel itu. Hubungan kami belum sejauh itu."
Rama kembali memijit sambil tersenyum. Meski dia sudah kukuh akan menerima Navia apapun yang telah dilakukan wanita itu kemarin, tapi penjelasan ini membuat dia merasa sangat lega.
__ADS_1
"Maaf, jika kemarin, aku khilaf," lanjut Navia dengan mata berkaca kaca.
Rama berhenti memijat, menggeser tubuhnya kedekat Navia lalu merengkuh bahunya. Menyandarkan kepala Navia didadanya dan mengecup lembut puncak kepalanya. "Kita sama-sama pernah khilaf. Semua sudah terjadi, yang bisa kita lakukan saat ini, hanya memperbaiki dan mengambil pelajaran dari kejadian kemarin." Navia mengangguk sambil membanamkan wajahnya didada Rama.
Mendengar isakan Navia, Rama melepas pelukannya lalu menyeka air mata Navia. "Udah, jangan nangis. Ingat kata dokter, kamu gak boleh stres." Dan sekali lagi, Navia hanya manggut-manggut.
Rama mengikis jarak diantara mereka lalu memagut bibir Navia. Rasanya sudah lama sekali mereka tak melakukan ini. Sejak malam dimana Rama menyebut nama Embun, keduanya tak lagi pernah melakukan kegiatan suami istri. Navia selalu menolak dengan alasan masih sakit hati.
"Bibir kamu asem, kayak strawberry." Tak pelak Navia langsung cekikikan mendengar ucapan Rama barusan. "Emm...." Rama menyentuh wajah Navia yang tampak memerah. Diusapnya lembut pipi merona itu dengan punggung tangannya. "Bolehkan aku menyentuhmu malam ini?"
Navia menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi grogi. Jantungnya berdebar cepat, seperti mau diajak malam pertama. Tak mau Rama terlalu lama menunggu, dia segera mengangguk malu-malu.
Tak terkira bahagianya hati Rama. Setelah berbulan-bulan puasan, akhirnya malam ini dia akan berbuka. Tak mau buang-buang waktu, segera dia pagut kembali bibir rasa strawberry yang masam itu.
__ADS_1