
Selesai makan siang bersama, Nathan dan Embun pamit pulang. Tak lupa Nathan berpesan pada mamanya agar tak lagi banyak pikiran. Mama Salma mengiyakan saja apa yang dikatakan Nathan, meski dia yakin tak akan bisa melakukan itu. Sekarang saja, dia sedang memikirkan Navia. Ibu mana yang bisa tenang saat melihat mata putrinya bengkak. Dia yakin jika Navia sedang tak baik-baik saja sekarang.
"Minggu depan ada acara 4 bulanan kandungan Navia. Jangan lupa untuk datang," pesan Mama Salma.
Embun senang sekali dengan undangan tersebut. Ditambah lagi mertuanya sudah kembali hangat, bahkan beberapa kali sudah mau mengajaknya bicara duluan. Tapi tetap saja, mengingat hubunganya dengan Navia kurang baik, Embun tak bisa langsung mengiyakan undangat itu.
Dia terlebih dulu bertanya pada Nathan lewat tatapan mata.
"Kami pasti datang Mah," sahut Nathan sambil memegang tangan mamanya.
"Baguslah kalau begitu."
"Mama langsung istirahat ya." Nathan memanggil suster Ida dan menyuruhnya membawa mama kekamar. Sedang dia dan Embun, langsung pulang kerumah..
Sebenarnya sejak tadi, Embun penasaran dengan apa yang dibicarakan Nathan dan Navia diluar tadi. Tapi baru saat ini ketika mereka dimobil berdua, Embun berani bertanya. "Sebenarnya, Navia tadi kenapa, Kak?"
"Gak tahu, dia gak mau bicara saat aku tanya," sahut Nathan sambil menoleh kearah Embun.
Embun terdiam sambil meremat jemarinya. Dia menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Navia. "Apa dia berantem dengan Rama karena kejadian kemarin di rumah sakit?" dia mendadak gelisah. Ya, ini pasti karena kejadian kemarin. "Harusnya kemarin aku ngehindar saat ada Rama. Bodoh!" Embun memaki dirinya sendiri.
"Belum tentu juga karena itu," ujar Nathan cepat. "Sudahlah, jangan terlalu memikirkan Navia apalagi Rama, aku cemburu."
Embun mendesis pelan. Apa maksudnya cemburu? "Kakak cemburu lihat aku bicara dengan Rama kemarin?"
"Bohong kalau bilang enggak. Tapi aku percaya jika tak ada sesuatu spesial yang kalian bicarakan. Aku percaya padamu," Nathan menggenggam tangan Embun dan melatakkan dipangkuannya.
"Tapi Kakak gak marahkan sama aku?" tanya Embun ragu-ragu.
"Mana mungkin aku bisa marah sama orang cantik kayak kamu."
"Ish, gombal." Embun memutar kedua bola matanya jengah. "Tapi kalau bukan karena ribut dengan Rama, lalu Navia kenapa?"
"Kamu dan mama sama saja," Nathan mendesis pelan. "Suka banget gitu, mikirin masalah orang." Dia mengangkat telapak tangan Embun lalu meletakkan didadanya. "Kamu hanya perlu mikirin ini, mikirin aku saja." Pipi Embun seketika merona.
...----------------...
Sesampainya dirumah, bukannya istirahat, Embun malah langsung mengambil keranjang cucian. Saat masih diperjalanan tadi, dia sudah menyusun rencana. Sesampainya dirumah langsung ngurusin cucian. Sambil menunggu cucian selesai, dia bersih-bersih, baru setelah itu tidur.
__ADS_1
"Mau ngapain?" tanya Nathan heran.
Embun menunjukkan keranjang berisi baju kotor. "Nyuci."
"Astaga," Nathan merebut keranjang tersebut lalu mengembalikan ketempat semula.
"Kok dikembaliin, aku kan mau nyuci." Embun hendak mengambilnya kembali tapi dilarang oleh Nathan.
"Mending istirahat aja. Kayaknya semalam kamu kurang tidur."
"Kurang tidur? Kelihatan banget ya mata pandanya?" Embun berlari menuju meja rias. Melihat daerah disekitar matanya dengan seksama. Nathan sampai geleng-geleng. Segitunya ya wanita, kalau udah masalah penampilan, langsung gerak cepat. Cuma dibilang kurang tidur, tapi responnya udah wow banget.
"Kelihatan hitam ya Kak? Padahal aku selalu pakai krim mata." Embun tak selesai-selesai memperhatikan lingkaran matanya.
Nathan menghampiri Embun lalu memeluknya dari belakang. Mengecup pipi Embun lalu meletakkan dagu di bahu istrinya itu. "Cantik kok."
"Bohong," Embun masih sibuk memperhatikan lingkaran sekitar matanya. Dulu dia tak seheboh ini masalah penampilan. Tapi sekarang dia adalah istri bos, mana bisa abai soal penampilan, apalagi jika sampai Nathan sendiri bilang kayak tadi. Itu tandanya, dia udah dikasih lampu kuning untuk segera memperbaiki penampilan.
Nathan menghela nafas, sepertinya lain kali dia harus lebih hati-hati kalau membahas soal penampilan Embun. "Apa aku pergi perawatan aja ya Kak?"
"Terserah,"
"Hah!" Nathan melongo. "Kapan aku komplain?"
"Tadi, kan Kakak bilang kalau mataku muncul lingkaran hitam."
"Kapan aku bilang?" Nathan garuk-garuk kepala. Ini dia yang amnesia apa Embun yang gagal paham. Padahal cuma nyuruh istirahat, kenapa malah melebar keurusan penampilan gini sih.
"Kakak bilang aku kurang tidur tadi, itu artinya_"
Embun tak melanjutkan kata-katanya karena dikejutkan dengan ulah Nathan yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Saat dia ingin kembali bicara, suaminya itu lebih dulu membungkam mulutnya dengan ciuman.
Sambil berciuman panas, Nathan membawa Embun menuju ranjang. Menurunkan pelan-pelan dengan bibir yang masih bertauatan. Tangannya bergerak melepaskan pakaian Embun. Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat mahakaryanya kemarin yang masih tertinggal dikulit leher dan dada istrinya. Dan sekarang, dia malah menambah lagi tanda merah dikulit yang putih mulus tersebut.
"Kak, bukannya tadi nyuruh aku istirahat ya?" tanya Embun saat Nathan menikmati dadanya.
Nathan yang sudah dikuasai napsuu tak lagi mempedulikan omongan Embun. Dia terus saja melakukan aktifitas yang sejak kemarin dia nobatkan sebagai aktifitas yang paling menyenangkan dan membuat ketagihan sepanjang masa.
__ADS_1
Embun tak lagi bertanya atau bicara apa apa, yang keluar dari bibirnya hanya suara de sahan penyemangat bagi Nathan. Sampai akhirnya dia
terbaring lemas dengan nafas memburu dan keringat bercucuran. Entah berapa kali dia mencapai puncak, sampai-sampai seluruh tulang ditubuhnya terasa remuk. Hendak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya saja, dia tak ada tenaga lagi. Bahkan saat ini, Nathan yang tengah membersihkan miliknya.
Berbeda dengan Embun, Nathan malah menyeringai lebar melihat Embun yang tak berdaya. Rasanya puas sekali karena bisa membuat Embun sampai kualahan dan lemas. Dia memakai kembali pakaiannya lalu kedapur untuk mengambil minum. Tapi sebelum itu, lebih dulu dia menutupi tubuh Embun dengan selimut.
"Minum dulu," Nathan membantu Embun bangun lalu menyodorkan segelas air putih padanya. Dan tak butuh waktu lama, segelas air putih langsung tandas. "Tidur, gak usah mikirin apa-apa, apalagi pekerjaan rumah. Aku sudah nyuruh Dimas nyari ART, besok kayanya dia datang."
Embun mengangguk lalu rebahan lagi. Tapi saat hendak memejamkan mata, dia teringat tentang surat perjanjian yang harusnya dia tanda tangani hari ini. "Kak, mana surat perjanjiannya?" Embun kembali duduk.
"Aku bilang tidur, gak usah mikir yang lain." Nathan mendorong pelan bahu Embun agar kembali rebahan. Tapi Embun malah bangun lagi, sampai membuat Nathan geleng-geleng karen sifat keras kepalanya.
"Mana, aku mau lihat. Setelah itu baru aku tidur," Embun menengadahkan telapak tangannya.
Nathan membuang nafas berat lalu beranjak dari sisi ranjang. Berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil surat perjanjian yang dia simpan didalam tas.
Embun yang sudah tak sabar langsung menarik kertas yang ada ditangan Nathan begitu pria itu dekat dengannya, untung tidak sampai sobek. Dia membaca satu persatu poin yang ada disana, sampai matanya melotot saat membaca poin terakhir. Nathan akan memberikan semua harta yang didapat selama pernikahan jika sampai dia terbukti selingkuh.
"Kenapa ada poin ini?" Embun menunjuk poin terakhir tersebut.
"Biar adil," sahut Nathan sambil kembali duduk diatas ranjang lalu mengusap pipi Embun.
"Tapi aku tak menuntut seperti ini."
"Aku juga tak menuntutmu seperti poin 1 dan 2, itu keinginan Navia." Nathan menarik lengan Embun, membawa wanita itu kedalam dekapannya. "Aku hanya tak ingin perjanjian ini berat sebelah. Semua harus adil bukan?" Embun mendongak menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca. Dia tak menyangka jika Nathan sampai mau melakukan ini untuknya.
"Aku mencintaimu, Kak."
"Aku juga sayang," Nathan mengecup sekilas bibir Embun. "Sekarang kau tahukan, aku sangat mencintaimu. Jadi jangan terlalu worry tentang penampilan. Kau sudah sangat cantik dimataku."
Embun langsung meleleh mendengar ucapan Nathan. Apalagi saat ini, pria itu tengan mengusap pipinya dengan punggung tangan sambil tersenyum.
"Apa aku harus tanda tangan sekarang?"
Nathan menggeleng lalu mengambil lagi surat tersebut dan meletakkan diatas nakas."Nanti saja."
Embun tiba tiba menjatuhkan selimut yang sejak tadi dia pegangi untuk menutupi kepolosannya. "Mau lagi?" tanya Embun sambil menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Nathan langsung tergelak. "Emang masih kuat?"
"Apa sih yang enggak buat, Kakak." Embun memajukan wajahnya lalu mencium bibir Nathan.