
Nathan mondar mandir depan belakang depan belakang, sampai bikin Mama Salma geleng-geleng. Lama-lama greged juga dia sama anak sulungnya itu. Padahal rumah lagi ramai, lagi ada tausiyah, ehh...dia malah kayak setrikaan, gak bisa duduk diam dan dengar tausiyah.
Saat Nathan baru balik dari belakang, Mama Salma langsung melambaikan tangan kearahnya agar mendekat.
"Iya Mah, ada apa?" tanya Nathan pelan, takut mengganggu kekhusukan tausiyah.
"Kamu dari tadi mondar-mandir terus kayak orang bingung itu kenapa? Gak bisa apa, duduk diam kayak orang lain," Mama Salma menunjuk dagu kearah tama-tamu yang terlihat fokus mendengarkan tausiyah. Bahkan diantara tamu tersebut, ada anak-anak dari panti asuhan yang duduk anteng. Ini Nathan yang udah gede malah gak bisa anteng.
"Nathan nelfonin Embun, tapi gak dijawab dari tadi."
Astaga, Mama Salma sampai tepok jidat. Dia pikir ada urusan urgen dikantor, eh taunya urusan Embun. "Palingan dia lagi sibuk dikampung. Dia butuh quality time sama keluarga, jangan kamu gangguin terus. Udah, duduk diam sana." Bukannya langsung duduk, Nathan malah kembali mengecek ponsel, berharap ada balasan chat dari Embun. "Astaga anak ini." Mama Salma yang geram langsung merebut ponsel Nathan. "Ponselnya Mama sita."
"Apaan sih Mah, aku bu_" Melihat Mamanya melotot, Nathan hanya bisa menghela nafas pasrah. Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju tempat berkumpul bapak bapak lalu gabung duduk bersama mereka. Raganya memang ada disana dan tampak diam mendengarkan tausiyah, tapi kenyataannya, pikirannya kemana-mana. Terus mikirin siapa itu Johan dan apa hubungannya dengan Embun.
Sementara Mama Salma kesal pada Nathan, Rama kesal pada Navia yang saat ini duduk disebelahnya. Acara syukuran 4 bulanan ini dibuat untuknya, tapi dia yang punya gawe malah sibuk sendiri dengan ponsel, bukan fokus dengar tausiyah. Berkali-kali dia melihat Navia senyum-senyum sendiri dan tangannya tak berhenti mengetik, membuat Rama jadi penasaran, sebenarnya Navia chat dengan siapa.
Mau ngintip tapi gak bisa, karena ponsel Navia menggunakan screen guard anti spy.
"Bisa gak sih, main hp nya berhenti dulu. Gak enak dilihatin orang?" bisik Rama.
"Apaan sih, orang aku fokus kok dengar tausiyahnya." Bukannya menurut, Navia malah terlihat kesal saat ditegur Rama.
__ADS_1
"Kamu chat sama siapa?" pertanyaan bernada tuduhan itu dijawab santai oleh Navia.
"Sama temen."
"Yakin temen, kok sambil senyum-senyum gitu?"
Navia menghela nafas sambil menoleh kearah Rama.
"Ya masak aku sambil nangis kejer."
Astaga, Rama kesal sekali. Pengen marah-marah gak bisa karena banyak orang, terpaksa dia diamkan saja. Tapi setelah acara selesai, dia akan mengecek ponsel istrinya tersebut. Karena dari gelagatnya saat chatingan, udah mirip kayak orang yang lagi chat sama pacar.
Baru juga bagi-bagi hampers selesai, Navia langsung merogoh ponsel yang ada disaku gamisnya. Sungguh tak seperti biasanya, batin Rama. Mereka sudah tidur sekamar lagi sekarang karena tak mau Mama Salma berfikiran macam-macam. Tapi sejak kejadian malam itu, Navia sama sekali tak mau disentuh. Setiap malam asyik dengan ponselnya saja, membuat Rama sedikit curiga.
"Pinjam ponsel kamu bentar sini," Rama menengadahkan tangannya kehadapan Navia.
"Apaan sih," Navia reflek menjauhan ponselnya. "Mas kan punya hp sendiri, ngapain pinjam punyaku. Bahkan Mas punya 2 kan?" Navia memutar kedua bola matanya malas lalu pergi dari sana. Rama berdecak sebal melihat sikap Navia yang banyak berubah akhir-akhir ini. Dia hendak menyusul tapi Nathan malah memanggilnya.
Perasaan Rama mendadak tidak enak. Tak biasanya Nathan mengajak dia bicara selain saat di kantor.
"Ada apa, Kak?"
__ADS_1
"Kamu kenal Johan?"
"Johan," ulang Rama sambil mengerutkan kening.
"Iya Johan." Sahut Nathan dengan nada kesal.
Rama diam sambil berusaha mengingat nama Johan. Nama itu seperti tak asing baginya. "Oh iya, aku tahu, tapi gak kenal deket."
Nathan tampak langsung antusias untuk mengorek tentang si Johan ini. Gak salah dia tanya sama Rama, karena Embun dan Rama satu desa. Dan 10 tahun pacaran dengan Embun, Rama pasti tahu dong, siapa saja temennya Embun di kampung.
"Apa dia deket dengan Embun?"
"Lumayan sih."
Mata Nathan langsung terbeliak. Jadi benar, Embun dekat dengan Johan. Pantas saja si Johan sampai datengin rumah Embun pas dia pulang kampung. Dan sekarang, Embun gak jawab panggilannya, jangan jangan mereka sedang berduaan. Nathan makin panas saja.
"Dia itu mantan o_"
"Sial," umpat Nathan dengan kedua tangan mengepal kuat dan rahang mengeras. Sampai-sampai Rama dibuat ikutan tegang. Nathan meninggalkan Rama begitu saja bahkan tanpa mengatakan terima kasih atas informasi yang diberikan Rama barusan.
"Gak jelas banget sih," maki Rama saat Nathan sudah pergi. Selalu seperti itu, hanya berani mamaki dibelakang. "Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba nanyain Johan. Eh... dikasih tahu bukannya terima kasih malah ngumpat gak jelas," Rama geleng geleng kepala. "Tapi kenapa dia nanyain Johan dan kayak marah banget gitu? Perasaan Johan udah agak lama berhenti jadi ob dikantor dan sekarang jadi kurir ekspedisi. Apa jangan-jangan si Johan nyolong barang dikantor, makanya sekarang dicariin sama si Nathan?" Rama menebak nebak. "Astaga, kenapa pula aku jadi mikirin Johan dan Nathan, mending aku mikir gimana caranya dapat ponselnya Navia." Rama langsung mencari keberadaan Navia.
__ADS_1