Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
INSECURE


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Rama masih berusaha menjelaskan pada Navia jika tadi dia dan Embun hanya tak sengaja bertemu. Selain itu, tak ada hal spesial yang mereka bicarakan.


"Percayalah sayang, aku dan Embun sudah tak ada apa-apa lagi. Kalau masalah ketemu, itu sesuatu yang gak mungkin terelakkan karena saat ini kita satu keluarga," ujar Rama.


Sebenarnya Navia tak lagi mempermasalahkan soal itu, dia hanya sedang kepikiran ucapan Nathan. "Apa benar saat menjalin hubugan denganku, kamu belum putus dari Embun, Mas?" tanya Navia sambil menatap nanar jalanan padat dihadapannya.


Tenggorokan Rama seketika tercekat. Dia tak tahu darimana Navia tahu tentang itu.


"Kenapa diam?" Navia menoleh kearah Rama. "Apa itu benar?"


"Ya, itu benar."


Air mata Navia seketika meleleh. Ternyata apa yang dikatakan Nathan benar, dialah orang ketiga itu. Tidak, tapi dia tak salah, Navia membuang jauh rasa bersalah itu. Dia tak tahu jika Rama punya pacar saat itu.


Rama menggenggam tangan Navia lalu meletakkan dipangkuannya. "Embun hanya masa lalu sayang. Kamu adalah masa depanku," dia mengangkat genggaman tangan mereka lalu mengecup punggung tangan Navia.


Navia menarik tangannya. "Apa Mas masih mencintai Embun?"


Rama memang masih mencintai Embun, tapi jika dia jujur, Navia pasti sakit hati. Jadi disaat seperti ini, mungkin berbohong lebih baik. Apalagi saat ini, dia sudah bertekad ingin melupakan Embun dan belajar mencintai Navia.


Rama menggeleng sambil tersenyum. "Aku sudah tidak mencintainya. Saat ini, aku hanya mencintaimu, calon ibu dari anakku," dia mengusap pelan perut Navia yang mulai terlihat buncit.


"Apa Mas yakin?"


"Sangat yakin, seribu persen malahan," sahut Rama sambil tersenyum kearah Navia.


Navia mulai luluh kembali, dia mendekat kearah Rama yang sedang mengemudi lalu menyandarkan kepala dibahunya.


"Aku berjanji akan menjadi suami yang lebih baik lagi sayang," Rama mengecup puncak kepala Navia. "Apa kau mau sesuatu? Sebelum pulang, kita bisa mampir beli sesuatu yang mungkin kamu mau."


"Em...." Navia tampak berfikir. Tak seperti kebanyakan ibu hamil, sampai saat ini, dia belum pernah merasakan ngidam. "Gimana kalau kita mampir beli es krim. Es krim yang belakangan viral itu, yang cabangnya ada dimana-mana."


Sial, kenapa juga harus es krim. Makanan yang kembali membuat Rama teringat Embun. Es krim adalah makanan kesukaan Embun. Dulu, saat pacaran, keseringan dia hanya membelikan Embun eskrim karena dia tak ada uang. Dan Embun, dia terlihat sangat bahagia meski hanya mendapatkan es krim murahan saat mereka kencan. Padahal saat itu Embun berstatus mahasiswi, harusnya dia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari pada Rama yang hanya pekerja bengkel.


Kenapa susah sekali melupakan Embun, semakin berusaha melupakan, semakin dia rindu dan teringat semua kenangan mereka.


"Kenapa diam?" Navia melepaskan tangannya dari lengan Rama. "Kamu gak suka es krim?"

__ADS_1


"Suka, ya sudah ayo kita kesana."


...----------------...


Cukup lama Embun memijit Mama Salma hingga wanita itu memejamkan mata. Melihat mamanya yang tampak sudah tertidur, Nathan mengajak Embun pindah duduk disofa. Dia duduk bersandar sambil merentangkan lengan. Begitu Embun duduk disebelahnya, Nathan langsung merengkuh bahunya dan mengecup puncak kepalanya.


"Ngantuk?" tanya Nathan.


"Belum, kan sore tadi baru bangun."


"Mau aku beliin sesuatu, makanan mungkin?"


Lagi-lagi Embun mengeleng. "Pengen dipeluk aja," sahutnya sambil mengeratkan pelukan dipinggang Nathan.


"Cie,....mode manja lagi on nih kayaknya," goda Nathan sambil menoel hidung Embun.


"Emang gak boleh?" Embun menengadahkan wajah menatap Nathan. Ekspresi manjanya bikin Nathan gemes dan langsung mengecup pipi Embun.


"Gak boleh kalau sama yang lain."


Embun tersenyum lalu kembali menyandarkan kepala didada bidang Nathan. Tempat yang mulai tadi pagi, dia klaim sebagai sandaran ternyaman sepanjang masa. Tapi tiba-tiba, dia teringat sesuatu.


"Besok saja, masih ada yang ingin aku rubah."


"Boleh aku lihat dulu?"


Nathan menggeleng. "Besok saja."


Embun mengerucutkan bibirnya, dia ingin sekali segera tahu isinya. "Sabar, besok juga tahu." Nathan mengecup singkat bibir Embun. "Udah jangan cemberut."


Embun melihat Nathan yang beberapa kali menguap. Suaminya itu terlihat lelah dan mengantuk. Seharian tadi, sepertinya dia tidak tidur. Meski dirumah, tapi Nathan tetap bekerja.


Embun menggeser duduk lalu menepuk pahanya. "Sini, tidur dipangkuanku."


"Kamu saja yang tidur disini," gantian Nathan yang menepuk pahanya. "Aku sudah biasa tidur posisi duduk."


"Mulai sekarang jangan dibiasakan, sini." Embun menarik lengan Nathan, memaksa pria itu berbaring dan menggunakan pahanya sebagai bantal.

__ADS_1


Tak lagi bisa menolak, Nathan akhirnya berbaring dengan berbantalkan paha Embun. Tapi kakinya yang panjang tidak muat disofa, dan terpaksa ditekuk.


"Emang nanti kamu bisa tidur sambil duduk seperti itu?"


"Bisa, kan sambil ngeliatian orang ganteng." Nathan tak kuasa menahan tawa mendengar gombalan versi Embun.


Embun menunduk, mengusap rambut Nathan sambil sesekali menyentuh wajahnya. Mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu tampan yang saat ini bergelar suami baginya.


"Gitu banget ngeliatnya," ujar Nathan.


"Ganteng sih," sahut Embun sambil tertawa pelan.


"Masak? Ganteng mana sama Rama?"


"Gantengan Rama."


"Ck, menyebalkan," Nathan memutar kedua matanya malas.


"Gantengan Rama dikit, banyakan Kakak," lanjut Embun dengan tawa yang masih belum reda. "Lagian ngapain sih, bandingin diri sendiri dengan Rama? Kalau orang lain mah, paling gak suka dibanding bandingkan."


"10 tahun bukan waktu yang singkat. Apalagi Rama cinta pertama kamu. Aku takut masih ada sisa rasa disini," Nathan meletakkan telapak tangannya didada Embun. Saat ini, wajahnya tampak serius.


"Cie...ternyata seorang Nathan bisa insecure juga," ledek Embun.


"Hanya jika berhubungan sama kamu," Nathan tak bisa bohong. Dia meraih tangan Embun lalu menciumnya.


"Apa perlu nih, dadaku dibelah biar Kak Nathan bisa lihat ada siapa disana?"


"Jangan dibelah, dibuka aja bajunya, biar bisa lihat isinya."


"Ish, dasar mesum," Embun reflek mencubit perut Nathan.


"Ahh..." Bukannya kesakitan, Nathan malah mende sah.


"Kak Nathan," pekik Embun tertahan. Dia melihat kearah Mama Salma. Takut jika ternyata mertuanya itu belum tidur dan mendengar suara Nathan barusan. Bisa-bisa dikira lagi ngapa-ngapain nanti.


"Dikamar mandi yuk?" Nathan mengedipkan sebelah matanya. Mulut Embun langsung menganga lebar. Dia tidak sedang salah dengarkan? "Hahaha, becanda, gitu banget ekspresinya," Nathan menutup mulutnya dengan telapak tangan agar suara tawanya tak mengganggu tidur Mama Salma.

__ADS_1


Embun bernafas lega, dia pikir barusan beneran. Bingung juga kalau beneran, diiyain, ya masa gituan dia kamar mandi rumah sakit. Lagi jagain orang sakit pula. Ditolak, takut dosa, takut dilaknat malaikat.


__ADS_2