Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
KUNJUNGAN TEMAN


__ADS_3

Sudah 3 hari Embun dirumah sakit. Sebenarnya dia sudah tak betah dan ingin pulang, tapi dokter masih belum mengizinkan. Kandungan Embun lemah, jadi dokter tak mau mengambil resiko jika Embun buru-buru pulang dan malah terjadi sesuatu.


Nathan yang baru keluar dari kamar mandi, mengerutkan kening melihat Embun yang tertawa cekikikan sambil menatap ponsel. Dia jadi penasaran, apa yang dilihat istrinya tersebut.


"Mas sini," panggil Embun sambil melambaikan tangan kearah Nathan.


"Pakde." Suara teriakan yang berasal dari ponsel itu membuat Nathan seketika tahu siapa yang sedang teleponan sama Embun. Benar saja, saat Nathan menatap layar ponsel, terlihat Navia yang sedang memangku Juna. Jadi tingkah menggemaskan Junalah yang membuat Embun tertawa tadi. "Lambaikan tangan pada Pakde, Sayang." Navia mengangkat lengan Juna lalu melambaikan tangannya kearah Nathan.


Nathan mendesis sebal. Moodnya langsung turun kalau udah dipanggil Pakde. Entah kenapa, Embun, Navia maupun Rama, suka sekali mengajari Juna memanggil Pakde.


"Maafin aku ya Kak. Aku belum bisa jenguk Embun. Tahu sendirikan, hamil kedua ini, aku teler banget, muntah-muntah terus. Lihat ini si Juna, bobotnya langsung turun karena asiku gak keluar," keluh Navia.


"Kamu kasih tambahan susu formula aja Nav," tutur Embun. "Kasihan kalau Juna gak kenyang karena asi kamu kurang."


Navia tampak membuang nafas berat. Maunya dia juga begitu. Tapi Juna tak mau minum sufor, jadi bikin dia makin pusing.


Juna yang aktif, menarik narik ponsel Navia dan memasukkan kedalam mukut. Navia berusaha menjauhkan ponselnya dari jangkauan Juna. Sehingga yang dilihat Embun dilayar, bukan lagi gambar Navia maupun Juna.


"Lapar kali si Junanya Nav, makanya ponsel mau dimakan," celetuk Nathan. "Coba deh, kamu kasih makan."


"Kamu jangan ngajarin yang gak bener, Juna belum boleh makan. Dia belum 6 bulan." Nathan langsung kena omel Embun. "Kamu harus banyak-banyak belajar setelah ini. Jangan sampai nanti pas jadi ayah, kamu malah melakukan kesalahan Mas."


Terdengar suara tawa Navia. Sepertinya bumil yang satu itu, bahagia sekali lihat kakaknya kena omel. Selama ini, yang berani pada Nathan hanya Mama Salma, disaat mamanya itu tak lagi bisa mengomeli Nathan, Navia bersyukur ada Embun yang bisa menggantikannya.


"Mbun, omelin aja terus."

__ADS_1


"Ish, kalian sama-sama menyebalkan. Kalau semua bumil layak kalian, bisa darah tinggi bapak-bapak," gerutu Nathan. Tapi saat melihat Embun melotot, dia langsung menelan ludah dan tersenyum simpul. "Becanda sayang." Lagi-lagi, Navia tak bisa menahan tawa.


Tak mau mengganggu dua bumil yang lagi asyik membahas kehamilan, Nathan memilih minggir. Duduk disofa sambil memangku laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sejak Embun dirawat, Nathan sama sekali tak datang kekantor. Kalau ada yang perlu dia tandatangani, Anisa atau Dimas yang datang kemari.


Sembari menyelesaikan pekerjaan, sesekali Nathan masih menoleh kearah Embun, tersenyum padanya saat tatapan mereka tak sengaja bertemu. Disela-sela mengobrol dengan Navia, Embun juga masih menyempatkan waktu melihat kearah Nathan.


Embun merasakan jantungnya berdebar saat tatapannya dan Nathan beradu. Senyuman dan tatapan mesra itu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi pada pria yang telah bergelar suaminya itu.


Nathan senang sekali melihat keakraban Navia dan Embun. Dulu, rasanya mustahil menciptakan suasana sehangat ini diantara keduanya. Tapi waktu bisa membuktikan jika tak ada yang tidak mungkin. Dia bersyukur sekali memiliki istri seperti Embun. Meski sikap Navia kurang baik padanya, wanita itu tak pernah mengeluh dan tetap sabar menghadapi Navia.


...----------------...


Siang itu, beberapa rekan sejawat Embun datang menjenguk. Ada 4 orang perwakilan guru yang datang, termasuk Dinar. Suasana kamar yang tadinya repi, seketika ramai seperti pasar. Siapa lagi kalau bukan Dinar dan Samsul, dibanyak omong yang selalu bikin riuh. Samsul dengan gaya berapi-api, menceritakan pengalamannya mengajar kelas 1 menggantikan Embun.


Embun dan yang lainnya langsung tertawa mendengar curahan hati Samsul. Mengajar anak kelas 1 memang harus sabar. Mereka kadang susah diatur, tapi mau dimarahin, yang ada nangis, kalau gak gitu, besoknya gak mau masuk sekolah, jadi serba salah.


Melihat notif diponselnya, Nathan meminta izin untuk keluar sebentar, tapi dia tidak sendiri, malainkan mengajak Pak Samsul ikut dengannya.


"Kamu beruntung banget ya Mbun. Nginep dirumah sakit, dijagain suami 24 jam," ujar Dinar.


"Kalau ngiri, buruan nikah, biar nanti kalau opname, ada yang jagain," sahut Alya.


"Amit-amit. Nikahnya sih iya aja, tapi opnamenya jangan sampai," sahut Dinar.


"Kenapa Din, takut disuntik?" Pertanyaan Embun langsung mengundang tawa teman-temannya.

__ADS_1


"Kamu buka kartu aja, Mbun," gerutu Dinar.


"Padahal aku mau nyaranin kamu buat operasi pemotongan lambung, eh malah takut disuntik," kelakar Tomi.


"Gak usah ngejek, entar jatuh cinta," celetuk Dinar yang lagi-lagi mengundang tawa yang lainnya.


Embun merasa senang sekali hari ini. Jika beberapa hari yang lalu, hanya bersama Nathan dan Bi Lasih yang kadang-kadang datang, hari ini, kedatangannya temannya membuat dia lebih merasa bersemangat. Guyonan diruang guru yang beberapa hari ini dia rindukan, bisa kembali dia dengarkan.


Setelah lumayan lama, Nathan kembali bersama Pak Samsul. Ternyata mereka mengambil makanan yang dipesan Nathan. Terlihat banyak sekali makanan yang mereka bawa, dan yang pasti, makanan enak dan mahal.


"Silakan Bu, Pak. Maaf, hanya bisa ngasih ini," ujar Nathan.


Tomi, guru muda itu seketika tersenyum absurd. "Mbun, aku langsung minder lihat suami kamu. Makanan segini banyak dan mahal, dia bilang hanya. Pantesan aku gak laku-laku," ujarnya dengan wajah melas. "Yang dicari cewek yang kayak gini, tampan dan mapan. Apalah aku yang hanya guru honorer," Tomi rasanya ingin nangis darah.


"Heh gak usah bunuh diri karena gak laku. Masih ada Dinar yang mau sama kamu," celetuk Alya.


"Dih, ogah," sahut Dinar cepat. "Spek aku mah, yang sekelas Pak Nathan."


"NGACA!" seru teman-temannya kompak. Dan pastinya, Tomi yang paling kenceng.


"Sabar Din," Dinar bermonolog sambil mengelus dada. "Orang sabar_"


"Makin subur," lanjut Tomi cepat.


Sejak tadi, Nathan hanya menahan tawa. Dia baru tahu kenapa Embun sangat menyukai pekerjaannya yang sekarang meski gajinya jauh dibawah saat dia kerja diperusahaan Nathan. Ternyata selain suka dengan anak-anak, inilah alasannya. Teman-teman yang hangat dan ramah.

__ADS_1


__ADS_2