
Nathan tak pernah membayangkan akan ada diposisi ini, berdebat sengit dengan dokter jaga. Bagaimana tidak, dokter muda itu tak mengizinkan dia membawa Embun keluar dari rumah sakit meski hanya sebentar. Alasannya sangat jelas dan lugas, status Embun sebagai pasien, dilarang untuk keluar rumah sakit, apalagi hanya untuk makan nasi padang. Karena jika terjadi sesuatu, pihak rumah sakit takut disalahkan.
"Hanya 2 jam, setelah itu kami kembali," Nathan belum putus asa. Sejak Embun ketahuan hamil, dia pernah berjanji pada diri sendiri akan menjaga Embun dan janinnya dengan baik serta mengabulkan apa saja keinginannya.
"Maaf Pak, tetap tidak bisa. Apalagi ini tengah malam, udaranya tidak bagus untuk pasien. Harusnya sebagai suami, kesehatan ibu dan janin yang anda pikirkan, bukan yang lainnya," suster yang ada disana ikut bicara. "Untuk bayi yang ngiler jika ngidam si ibu tidak keturutan, itu hanya mitos. Semua bayi akan ngiler saat mau tumbuh gigi," lanjut suster tersebut panjang lebar.
"Masalahnya bukan ilerannya," tekan Nathan. "Tapi lebih pada perasaan istri saya. Saya ingin dia bahagia dengan mengabulkan semua permintaannya. Untuk urusan kesehatannya, jelas akan saya prioritaskan tanpa anda mengingatkan. Dia akan tetap dimobil agar tak kena dinginnya angin malam, hanya keluar saat sudah sampai dirumah makan padang. Dan urusan bedrest, dokter sudah mengizinkannya melakukan altivitas ringan, jadi kalau hanya makan diresto, bukan sesuatu yang membahayakan."
Dokter dan suster disana tampak menghela nafas berat. Kalau biasanya, kaum emak-emak yang hobinya ngenyel, ternyata bapak-bapak ada yang ngeyel juga.
Sampai akhirnya, dokter jaga yang lelah sekaligus ngantuk itu memberikan izin. Tapi dengan syarat, Nathan harus kembali tak lebih dari 1 jam dan jika terjadi sesuatu pada Embun, rumah sakit tidak tanggung jawab.
Nathan setuju apapun yang dikatakan dokter jaga tersebut. Menurutnya, hanya makan direstoran padang, bukanlah hal yang bisa membahayakan Embun dan janinnya. Setelah urusan izin beres, Nathan kembali ke ruang rawat Embun. Sekarang dia baru paham apa yang dulu selalu Dimas keluhkan. Sepertinya ini rasanya punya istri yang lagi ngidam.
"Gimana?" tanya Embun saat Nathan masuk sambil mendorong kursi roda. Sejak tadi, dia sudah tak sabar ingin segera makan nasi padang, disebuah restoran 24 jam yang terkenal didaerah sana.
"Udah diizinin," jawab Nathan malas. Sebenarnya bukan malas, tapi lebih pada lelah setelah berdebat panjang. Selain itu, tadi dia sempat malu juga harus debat dengan dokter jaga sekaligus suster yang wajahnya jutek abis.
"Kok kayak gak ikhlas gitu?"
"Ikhlas, ikhlas banget." Nathan menangkup kedua pipi Embun lalu mengecup bibirnya sekilas. "Apa sih yang enggak buat kamu Yang? Jangankan cuma debat sama dokter, mendaki gunung aja, aku rela."
Embun langsung menyebikkan bibir. "Gunung kembar maksud kamu?" Seketika, Nathan langsung ngakak. Dan semua lelahnya terasa hilang hanya dengan sebuah kecupan dipipi yang Embun daratkan.
Karena tak ada jaket, Nathan mengambil jas miliknya lalu mengenakannya pada Embun. Untung jasnya warna hitam, kalau putih, bisa dikira dokter gadungan. "Sini rambutnya aku rapiin." Dituntunnya Embun menuju kursi, menyisir lalu mengikatnya ditengah. "Udah ayo berangkat."
"Bentar," Embun melepas tangan Nathan yang hendak menuntunnya. "Aku pakai lipstik dulu."
__ADS_1
"Harus banget gitu?"
"Wajib."
Embun tampak bahagia sekali saat mobil yang dikemudikan Nathan keluar dari area rumah sakit. Jujur saja, dia sudah bosan disana. Matanya terus menatap kearah jalan yang dihiasi dengan lampu yang indah. Inilah ibukota, meski tengah malah, masih tampak terlihat aktifitas penduduknya, sangat beda dengan dikampung.
Sesampainya di restoran padang, Nathan segera membukakan pintu mobil untuk Embun dan menawarinya gendong.
"Enggak ah, malu-maluin," tolak Embun.
Karena ini tengah malam, restoran terlihat sepi. Tapi itu sama sekali tak mengurangi antusias Embun untuk segera mengisi perutnya dengan rendang beserta kawan-kawannya.
Restoran dengan konsep buffet itu membuat Embun seketika menelan ludah. Segera dia mengisi piring dengan berbagai macam lauk yang tampak menggoda. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, bersama Nathan, mereka memilih duduk dibangku paling pojok depan, dekat jendela kaca yang besar sehingga pemandangan jalan raya bisa terlihat dari sini.
"Suka?" tanya Nathan disela-sela mengunyah makanan.
Nathan tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar diwajah Embun. Hanya nasi padang, tapi mampu membuat istrinya itu sebahagia ini. Tapi sayangnya, mereka tak bisa berlama-lama disana. Dokter hanya memberikan waktu 1 jam, sedangkan waktu tempuh bolak-balik rumah sakit ke resto saja sudah 30 menit lebih. Setelah makanan habis, mereka langsung kembali ke rumah sakit.
Tak tega membangunkan Embun yang tertidur dimobil, membuat Nathan memilih untuk menggendongnya meski jarak dari tempat parkir menuju kamar Embun lumayan jauh.
"Apa perlu saya ambilkan kursi roda Pak?" tawar sekurity yang kebetulan ada dilobi.
"Tidak perlu Pak, nanti istri saya malam kebangun." Jawaban Nathan itu sontak membuat suster yang ada disana seketika baper sekaligus iri. Gimana gak iri, udah ganteng, kaya, sayang banget sama istri, kurang apa coba? Sayangnya, pria seperti itu hanya ada dalam novel atau drama, wkwkwk.
...----------------...
Embun terbangun saat mendengar ketukan dipintu. Buru-buru dia menyingkirkan lengan Nathan yang melinggar dipinggangnya lalu bangun. Posisinya bukan diatas brankar sekarang, melainkan tidur berdua disofabed bersama Nathan.
__ADS_1
"Oh, maaf," suster itu tampak malu. Dia lebih dulu masuk sebelum Embun berpindah tempat.
"Ti-tidak apa-apa Sus," Embun tak kalah malunya. Sedangkan Nathan, dia masih terlelap karena dini hari, dia baru tidur. Pelan-pelan dia turun dari sofa lalu pindah ke brankar.
"Makanannya saya taruh disini ya Bu," ujar Suster itu sambil menaruh nampan diatas nakas. "Sebentar lagi, akan ada kunjungan dokter." Setelah mengingatkan itu, suster tersebut segera keluar.
Embun segera membersihkan diri agar saat dokter datang, dia sudah segar. Setelah itu, dia juga msmbangunkan Nathan.
...----------------...
Setelah diperiksa, Embun dinyatakan boleh pulang siang ini. Dan itu merupakan kabar yang paling ditunggu olehnya dan Nathan.
Nathan memanggil Dimas untuk membantunya mengurus administrasi serta membawa barang menuju mobil. Sementara Nathan, dia mendorong Embun yang duduk diatas kursi roda. Saat melewati lorong, Embun terkejut saat seorang suster memberinya setangkai mawar putih.
"Selamat ya Bu Embun, akhirnya sudah boleh pulang. Semoa Ibu dan janinnya sehat selalu."
"Terimakasih Sus," sahut Embun sambil menerima mawar itu.
Tapi tak berselang lama, muncul lagi seorang petugas kebersihan yang juga melakukan hal yang sama. Tak hanya berhenti sampai disitu, ternyata bunga dan ucapan selamat itu terus berdatangan padanya. Sampai saat ini, Embun sudah menerima lebih dari 10 tangkai mawar. Saat dilobi, tak hanya suster dan pegawai lainnya, bahkan pengunjung, sekuriti, dan seorang anak kecil juga melakukan hal yang sama padanya.
Ini aneh, pikirnya.
"Ini kenapa semua pada ngasih aku bunga ya, Mas?" tanya Embun heran.
"Karena semua orang ikut bahagia dengan kehamilan kamu. Jadi mereka ikut mendoakan," jawab Nathan.
"Masak sih?" Embun masih belum percaya.
__ADS_1
Tanpa Embun tahu, semua itu sudah direncakan Nathan. Tentu saja dengan bantuan Dimas.