Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
TENTANG NATHAN


__ADS_3

Perasaan Nathan seketika membuncah. Tak bisa digambarkan seperti apa kebahagiaannya saat ini. Dia akan segera punya anak, akan segera bergelar ayah. Dan itu artinya, kemungkinan jika salah satu diantara dia dan Embun mandul, telah terbantahkan dengan sendirinya. Tak terasa, cairan bening meleleh dari sudut matanya.


Dinar dan Joko ikut merasa senang, mereka segera mengucapkan selamat pada Nathan. Dinar bahkan sampai ikut menangis, dia tahu seperti apa inginnya Embun menjadi seorang ibu.


Nathan meminta bantuin Joko untuk mengurus administrasi, sementara dia masuk untuk melihat kondisi Embun.


"Mas, aku hamil," ujar Embun dengan mata berkaca-kaca saat melihat Nathan berjalan kearahnya. "Aku hamil, Mas," dia tak kuasa menahan air mata. Meski di IGD tak hanya ada dia dan Nathan, tapi dia tak mau untuk menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini. Mimpinya untuk menjadi ibu sekaligus memberikan keturunan pada Nathan, akhirnya akan segera terwujuf.


Nathan mengangguk, menggenggam tangan Embun lalu mencium keningnya. Diusapnya airmata yang membasahi pipi Embun.


"Aku akan jadi ibu, Mas," lirih Embun.


"Hem," Nathan mengangguk cepat sambil tersenyum sekaligus menangis. "Dan aku akan jadi ayah." Dia lalu meletakkan telapak tangannya diatas perut Embun lalu mengusapnya pelan.


"Ada anak kita disana, Mas." Embun menatap kebawah, kearah perutnya. Rasanya masih seperti mimpi, tak terkira betapa bahagianya dia sekarang.


"Sekarang kamu percayakan sama aku? Jika sudah saatnya, kamu pasti hamil."


Embun mengangguk dengan air mata berderai. Entah sudah seberapa banyak air mata yang dia keluarkan hari ini, tapi ini adalah air mata kebahagiaan.


...----------------...


Setelah Joko menyelesaikan administrasi, Embun dipindahkan keruang rawat. Dinar dan Joko tak bisa berlama-lama karena harus kembali kesekolah. Setelah mengucapkan selamat pada Embun, mereka lalu meninggalkan rumah sakit. Sekarang, hanya tinggal Embun dan Nathan didalam kamar.


Saat hanya berdua seperti ini, Nathan tak lagi sungkan. Sesuatu yang dia tahan sejak tadi, langsung dia realisasikan. Apalagi kalau bukan mengekspresikan kebahagiaan. Dia menghujani wajah Embun dengan ciuman sampai Embun terpaksa harus memejamkan matanya untuk waktu yang lumayan lama. Dan setelah ciuman lembut dibibir, Nathan baru bisa berhenti.


"Makasih ya Sayang, ini kado anniversary terindah buat aku," ujar Nathan sambil menggenggam tangan Embun.


"Buat aku juga, Mas," Embun tak mau kalah.

__ADS_1


"Ya, buat kita berdua." Nathan kemudian duduk dikursi yang ada disebelah ranjang. "Kita harus jaga dia baik-baik." Kembali diusapnya perut Embun dengan lembut. Dia lalu mendekatkan wajah diperut Embun dan mendaratkan kecupan disana. "Hai kesayangan Mommy n Daddy," sapa Nathan.


Embun seketika nyengir. "Mommy n daddy?"


"Hem, mommy n daddy." Sahut Nathan sambil mengangguk. "Biar keren," lanjutnya.


Embun hanya bisa terkekeh pelan. Terserahlah mau manggil apa, karena apapun itu, sama sekali tidak mengurangi kadar kebahagiannya.


"Aku gak sabar pengen segera ngasih tahu Ibu, Mas. Ibu pasti seneng." Selama ini, pada ibunyalah Embun berkeluh kesah. Menceritakan tentang ketakutannya yang mungkin saja tak bisa hamil seperti saudaranya yang lain. Dan disaat dia terpuruk seperti itu, ibunyalah yang akan membesarkan hatinya. Memintanya untuk tetap sabar dan berdoa. Dan ibunya juga tak pernah putus mendoakannya agar segera diberi momongan.


"Iya, nanti kita telepon Ibu dan juga Mama. Sekarang kamu istirahat ya. Kata dokter, kamu gak boleh capek. Untuk beberapa hari kedepan, bedrest dulu di rumah sakit sampai kondisi kamu dan calon anak kita membaik." Nathan mengusap pipi Embun menggunakan punggung tangannya. "Kamu cantik, Yang," pujinya sambil senyum-senyum menatap Embun.


"Dih, apaan sih, gak jelas," Embun memutar kedua bola matanya malas.


"Beneran, kamu makin cantik. Kayaknya, aura keibuannya makin muncul gitu."


Embun seketika melongo. Aura keibuan muncul makin cantik? Yang ada dimana mana gadis lebih cantik daripada emak emak.


"Ya enggaklah. Kaya mama muda yang cantik, yang bikin aku makin cinta."


"Jadi Mas suka tipe-tipe mama muda gitu ya?" Pikiran Embun tak lagi bisa dikendalikan, kembali menyangkut pautkan dengan sosok Jihan, si mahmud yang cantiknya gak kalah sama gadis.


"Tipe kayak kamu," sahut Nathan sambil mencubit gemas pipi Embun.


"Oh iya Mas, tadi Mas ngobrol apa aja sama Jihan? Lama gak? Atau malah nyari tempat yang enak buat ngobrol berdua?" Embun gregetan sendiri kalau ingat kejadian tadi pagi.


"Astaga," Nathan langsung geleng-geleng. "Jangan bilang kalau kamu stres gara-gara mikirin itu? Kamu gak boleh stres Sayang. Ingat, ada calon anak kita disini." Nathan mengusap perut Embun pelan.


"Ya siapa yang gak stres coba, lihat suami ketemu sama mantan. Dah gitu mantannya cantik dan sekarang udah pakai hijab. Ngobrol berduaan lagi," sewot Embun.

__ADS_1


"Siapa yang ngobrol berduaan. Banyak orang lewat kok." Embun memutar kedua bola matanya malas. Emang yang lewat bisa dengar obrolan mereka atau ikut nimbrung gitu? "Aku tadi gak lama kok ngonbrol sama Jihan. Niatnya sih mau langsung ke kantor, tapi ada hal yang harus aku bicarakan, terpaksa ngobrol bentar sama dia."


Dih terpaksa, gak percaya.


"Emang hal apa yang harus banget dibicarakan? Bukan tentang cinta yang masih belum kelarkan?" sinis Embun dengan bibir mengerucut kedepan.


Nathan berdiri lalu mengecup bibir Embun. "Terus aja cemberut, biar aku cium terus." Ancaman itu membuat Embun seketika mengkondisikan bibirnya. "Aku nanyain soal Nathan."


Nathan? Jantung Embun kembali berdetak kencang. Semoga saja bukan sesuatu yang buruk yang dia dengar.


"Pikirannya pasti udah yang enggak-enggak nih," tebak Nathan sambil membuang nafas berat. "Jangan dibiasain mikir yang jauh-jauh, bikin gak tenang, bikin galau. Ingat, lagi hamil," tekannya.


Embun hanya diam saja, karena yang Nathan bilang sangat benar, dia terlalu jauh mikirnya.


"Nathan bukan anaknya Jihan," terang Nathan.


"Bukan anak Jihan, lalu? Anak adopsi gitu?" tebak Embun.


"Bukan, tapi dia keponakan Jihan. Nathan anaknya Vero, kakaknya Jihan." Embun bernafas lega. Jadi benar yang ada di kartu keluarga, ibu Nathan bernama Veronica. "Vero meninggal setahun yang lalu. Sejak ditinggal meninggal suaminya saat Nathan masih usia 1 tahun, Vero jadi sakit-sakitan. Vero melimpahkan hak asuh Nathan pada Jihan sebelum meninggal karena semua keluarga mereka non muslim, hanya Jihan saja yang muslim. Vero jadi mualaf karena menikah dengan pria muslim."


"Jihan, kenapa dia ikutan jadi muslim?" Embun masih kurang paham. Okelah kalau Vero muslim karena menikah dengan pria muslim, lalu Jihan?


"Jihan juga mau nikah sama pria muslim, katanya sih Gus gitu."


"Beneran Jihan mau nikah?" Hari apakah ini? Embun merasa jika hari ini dia dilimpahi kebahagiaan bertubi-tubi. Sesayang ini Tuhan padanya.


"Kok kamu happy banget, yang mau nikah Jihan, bukan kamu," cibir Nathan sambil terkekeh. Padahal dalam hati dia tahu alasan kenapa Embun bahagia.


"Tapi ada alasan gak, kenapa anaknya Vero dikasih nama Nathan?"

__ADS_1


"Ya mungkin Vero pengen anaknya sekeren aku kali," sahut Nathan sambil menarik sedikit kerah kemejanya.


Embun manggut-manggut. "Bener sih, jadi kayak kamu, tapi bukan cakepnya, tapi narsisnya yang sama."


__ADS_2