Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
BALIK KE JAKARTA


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Nathan dan Embun sudah berkemas. Dan sekali lagi Embun berusaha untuk membujuk ibunya agar mau ikut dengannya tinggal di Jakarta. Tapi masih sama seperti dulu, jawaban ibunya adalah tidak.


"Rumah ini gak ada yang jaga kalau Ibu ikut kamu Nduk." Mata Embun berkaca-kaca. Dia tak tega jika dimasa tua, ibunya hanya hidup sendirian.


"Kak Nathan gak keberatan kalau Ibu ikut kami," Embun menoleh kearah Nathan yang ada disebelahnya.


"Iya Bu, saya malah suka jika Ibu mau ikut dengan kami," Nathan menimpali.


"Terimakasih Nak Nathan," Bu Siti menepuk pelan lengan Nathan. "Tapi sekali lagi, Ibu gak bisa ninggalin rumah ini. Ibu kerasan disini."


Embun tak bisa menahan air matanya. Sejak dulu, dia berkeingin bisa merawat ibunya. Dia pikir setelah menikah dengan Rama, mereka akan tinggal dirumah ini. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, dia malah dapat jodoh orang Jakarta, dan harus tinggal di Jakarta.


Bu Siti memeluk Embun, dan disaat itu, tangis Embun makin pecah, begitupun dengan Bu Siti, dia tak bisa menahan air mata. "Udah, jangan nangis. Kalau kangen Ibu, bisa video call atau datang berkunjung. Nanti kapan-kapan, Ibu main kerumah kalian." Embun melepaskan pelukan ibunya lalu menatap wajah yang sudah keriput tapi masih terlihat cantik itu.


"Ibu janji ya, kapan-kapan, Ibu main kerumah Embun. Nginep disana yang lama."


"Iya, Ibu janji," Bu Siti mengangguk sambil mengusap lengan Embun. Kemudian, dia beralih menatap Nathan. "Nak Nathan, Ibu nitip Embun ya. Tolong sayangi dia. Perlakukan dia dengan baik selayaknya seorang istri. Kalau ada apa-apa, bicarakan baik-baik. Mencari solusi bersama saat ada masalah, adalah jalan keluar terbaik, bukan lari dari masalah, apalagi lari ke tempat lain. Suami istri harus saling terbuka, jangan sampai malah terbuka pada orang lain, karena itu akan jadi boomerang." Nathan hanya manggut manggut mendengarkan petuah dari mertuanya. "Kalau Embun susah dinasehatin, bilang sama Ibu, biar ibu yang menasehatinya."


"Tolong Ibu bilang sama Embun, jangan suka ngambekan," ujar Nathan sambil melirik Embun dari sudut mata.

__ADS_1


"Kapan aku ngambek?" Embun berkacak pinggang sambil memelototi Nathan.


"Sudah-sudah," Bu Siti tersenyum sambil menepuk bahu Embun. "Sama suami yang manut Nduk. Ingat, surganya istri ada pada suami."


Nathan langsung besar kepala mendengar itu. Seketika dia mendekati Embun sambil berbisik. "Inget, surga kamu ada padaku."


"Sama, surga kamu juga ada padaku?" balas Embun sambil tersenyum.


"Ngak usah ngada-ngada. Gak ada cerita surga suami ada pada istri." Embun tertawa mengejek lalu mendekatkan bibirnya ketelinga Nathan.


"Yakin yang dibawah perutku bukan surga buat Kakak?" Embun mengedipkan sebelah matanya. Kali ini, Nathan tak bisa menyangkal. Bagaimanapun, itu adalah pintu surga dunianya.


Sementara Embun dan Nathan berpamitan pada seluruh keluarga, Paklik dan Adli memasukkan barang mereka kedalam mobil. Dari kejauhan, terlihat seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh gopoh menghampiri Embun dan Nathan yang sudah bersiap masuk kedalam mobil.


"Untung Ibu masih keburu. Nitip ini buat Rama dan Navia." Bu Sri menyerahkan sebuah bungkusan pada Embun. Ya, Bu Sri adalah ibunya Rama, Nathan seketika ingat. Pantas saja dia merasa pernah bertemu. Wanita itu datang saat pernikahan Rama dan Navia. Demi sopan santun, Nathan menghampiri Bu Sri lalu mencium tangannya.


"Kamu kakaknya Navia kan?"


"Iya Bu," sahut Nathan sambil mengangguk.

__ADS_1


"Didalam kresek itu, ada 2 bungkusan. Yang satunya buat Rama, satunya buat kamu Mbun. Kamu suka sekalikan, kering kentang buatan Ibu? Ibu masih ingat loh, Rama bakal minta ibu bungkusin buat kamu kalau pas bikin kering kentang. Dia bahkan sampai rela gak makan demi bisa bungkusin buat kamu, padahal dia juga suka." Ya, secinta itu dulu Rama pada Embun. Dia bahkan rela lembur dibengkel sampai jam 10 malam saat hari sabtu, hanya demi bisa dapat uang untuk ngajak ngedate Embun dihari minggu. Uang tak seberapa yang hanya bisa untuk mereka makan bakso dan beli es krim. Tapi pria seperti itu, ternyata bisa mencampakkannya demi harta dan jabatan.


Entah kenapa, Nathan mendadak kesal. Kenapa pula harus membahas Rama dan kenangan keduanya. "Sepertinya kami harus segera pergi, takut ketinggalan pesawat."


Setelah berpamitan, mereka langsung masuk kedalam mobil yang disupiri Paklik. Bu Siti tak ikut mengantar ke Bandara karena dia suka mabuk kalau naik mobil. Jadi hanya Paklik saja yang mengantar.


Karena jam sudah mepet, tak perlu menunggu lama, setibanya dibandara, mereka langsung masuk pesawat dan terbang menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan, Nathan sama sekali tak melepaskan tangan Embun. Beberapa kali mengangkat genggaman tangan mereka hanya untuk mengecup tangan Embun. Sampai Embun merasa malu pada orang yang duduk disamping mereka.


Turun dari pesawat, Nathan langsung sibuk dengan ponselnya. Anisa menghubungi karena tak ada waktu lagi untuk membahas materi meeting kalau tidak sekarang. Mereka duduk dikursi tunggu sambil menunggu jemputan dari supir kantor yang masih otw karena macet.


"Kak, aku ketoilet bentar ya?"


"Mau aku temenin?"


"Gak usah," desis Embun. "Udah lanjutin aja bahas kerjaan sama Anisa." Setelah mengatakan itu, dia langsung ngibrit ketoilet.


"Kamu siapin tempatnya sekarang juga. Pokoknya saat klien datang, semua sudah harus siap. Saya hanya pulang untuk ganti baju dan ambil laptop, setelah itu langsung ke kantor." Nathan mengakhiri panggilan setelah urusannya dengan Anisa selesai. Dia berdiri sambil celingukan mencari tulisan toilet. "Kenapa Embun lama sekali?"


"Nathan."

__ADS_1


Nathan menoleh kesumber suara yang mendengar namanya dipanggil. Seorang wanita terlihat tersenyum dan berjalan kearahnya.


"Gak nyangka bisa ketemu kamu disini Tan. Udah lama sekali kita gak ketemu. Apa kabar kamu?" wanita itu langsung memeluk Nathan. Pelukan tiba-tiba itu, membuat Nathan tak sempat menghindar. Dan sepertinya, dia dalam masalah besar, karena saat ini, Embun sedang berjalan kearahnya. Dan istrinya itu, sedang menatap tajam dirinya.


__ADS_2