
Nathan sampai menyipitkan matanya melihat wanita yang dipanggil mama oleh Nathan kecil. Benarkah itu Jihan? Bukankah Jihan non muslim, tapi kenapa berhijab?
Sama seperti Nathan, Jihan rasanya tak percaya jika dia akan kembali bertemu dengan Nathan. Setelah mereka putus secara baik-baik, keduanya memutuskan untuk tidak saling berkomunikasi lagi. Alasannya sudah pasti, mereka takut gagal move on.
Dua orang yang dulu pernah saling cinta dan terpaksa berpisah, sekarang bertemu kembali. Dada Embun terasa nyeri melihat seperti apa Nathan memperhatikan Jihan. Suaminya itu bahkan terlihat tidak berkedip. Ya, penampilan Jihan memang berubah drastis, sampai Nathan rasanya tak mengenalinya lagi.
Saat Jihan turun dari mobil, entah hanya perasaan Embun saja atau apa? Jihan tampak malu-malu. Jantung Embun jedag jedug, melihat Jihan jalan sambil menatap Nathan. Terlihat seperti adegan slow mo dimata Embun. Menyakitkan, menyebalkan dan meresahkan. Segera dia melingkarkan tangannya dilengan Nathan.
Nathan menoleh kearah Embun. Tersenyum saat istrinya itu menunjukkan sikap posesif.
"Mama," Nathan kecil berlari menghampiri Jihan. "Itu Om Nathan, yang fotonya ada dilaci meja Mama." Ucapan Nathan membuat wajah Jihan seketika merah padam. Dia sangat malu karena pasti dianggap belum move on.
"Apa kabar Han?" sapa Nathan.
"Alhamdulillah, baik Nath," sahut Jihan sambil melempar senyum. "Bu Embun?" Jihan mengerutkan kening sambil menatap Embun yang menggandeng Nathan.
"Dia istriku," sahut Nathan.
"Ohh..." Jihan manggut-manggut.
Suasana yang terasa canggung itu membuat mereka bertiga sama-sama diam. Hingga suara bel yang berbunyi, membuat Embun seketika lemas. Karena itu artinya, dia harus masuk dan meninggalkan Nathan berdua dengan Jihan. Sungguh, dia tidak rela.
"Bu Embun, sudah bel." Nathan kecil menarik tangan Embun. "Ayo kita masuk." Embun menggerutu dalam hati, kenapa bel harus berbunyi, tak bisakah ditunda 10 menit atau seenggaknya 5 menit lagi. Ditambah lagi ada Nathan kecil, kalau tak segera masuk, entar dianggap malah memberi contoh yang tidak baik.
"Aku masuk dulu, Mas," pamit Embun. "Kamu buruan ke kantor, entar telat," sedikit memberikan penekanan agar Nathan paham kalau dia tak mau dia dan Jihan berduaan.
__ADS_1
"Iya," sahut Nathan sambil tersenyum dan mengusap kepala Embun.
Dengan langkah berat, terpaksa Embun masuk kedalam sekolah. Dia menoleh sebelum gerbang ditutup, Nathan dan Jihan, tampak masih berdiri ditempat tadi.
Embun meletakkan tas diruang guru sebelum akhirnya berkumpul dilapangan untuk acara penutupan MPLS. Pikirannya tak bisa fokus sama sekali sekarang. Matanya terus saja melihat kearah pintu gerbang. Apakah Nathan dan Jihan masih berduaan disana?
Tiba-tiba Embun merasakan perutnya nyeri. Dia meninggalkan lapangan untuk ketoilet sebentar. Dibilik toilet, Embun melihat bercak darah dicelana dallamnya.
"Ternyata aku datang bulan," Embun tersenyum getir. Dia kembali teringat ucapan Bi Lasih tadi pagi. Wanita itu mengatakan jika kemungkinan dia hamil. Tapi ternyata dia malah datang bulan. Embun keruang guru untuk mengambil pembalut lalu kembali lagi ketoilet. Setelah itu baru kembali kelapangan untuk berkumpul dengan yang lain.
"Mbun, muka kamu pucet banget," ujar Dinar yang saat ini memperhatikan Embun.
"Aku datang bulan."
"Enggak, malah dikit banget, cuma kayak flek gitu. Mungkin karena itu, badanku rasanya gak nyaman."
"Kita keruang guru aja, kamu sedang gak sehat Mbun," ajak Dinar. Embun mengangguk, tubuhnya memang terasa tak baik-baik saja sekarang. Tapi baru beberapa langkah, kepalanya terasa berat, dan semuanya terasa berputar. Reflek, dia berpegangan pada bahu Dinar.
"Mbun, Mbun kamu kenapa Mbun? Tolong," teriak Dinar. Untung badan Dinar lumayan besar jadi kuat menahan bobot tubuh Embun. Beberapa orang guru langsung datang dan mengangkat Embun yang sudah tak sadarkan diri menuju ruang guru. "Kita langsung bawa ke rumah sakit saja," ujar Dinar yang panik. Gimana gak panik, wajah Embun sudah seperti mayat hidup.
Mereka akhirnya membawa Embun ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Dinar menelepon Nathan, mengabarkan jika Embun dibawa kerumah sakit. Nathan yang hampir sampai di kantor, seketika putar balik menuju rumah sakit yang terletak didekat sekolahan Embun.
Untung jarak dari sekolah kerumah sakit lumayan dekat, jadi tak butuh waktu lama untuk Embun sampai disana. Embun langsung dinaikkan kebrankar lalu didorong menuju IGD.
"Tolong teman saya Pak, tadi dia mengeluh sakit datang bulan, tapi malah pingsan," terang Dinar pada petugas pria yang mendorong brankar Embun.
__ADS_1
"Silakan tunggu disini," ujar petugas itu lalu menutup pintu IGD. Sebenarnya Embun sudah sadar saat didorong dibrankar. Dia bisa mendengar ucapan Dinar, tapi kepala yang terasa sangat berat, membuat dia tetap memejamkan mata.
Tak lama kemudian, Nathan sudah tiba di depan IGD. Nafasnya tersengal sengal karena berlari dari tempat parkir ke IGD.
"Bagaimana Embun?" tanyanya pada Dinar dan Joko yang ada disana.
"Masih ditangani didalam," sahut Dinar.
Nathan tampak sangat cemas, karena ini untuk kedua kalinya Embun pingsan setelah tadi malam.
"Semoga saja Embun baik-baik saja," ujar Joko. "Bagaimana bisa dia pingsan 2 hari berturut turut," gumamnya.
Mendengar itu, Nathan langsung kaget. "Apa maksud kamu 2 hari?"
"Bapak tidak tahu, kemarin Embun juga pingsan di sekolah," terang Joko.
"Astaga Mbun, kenapa kamu gak bilang," gumam Nathan sambil memijit pangkal hidungnya.
Setelah lumayan lama, tampak seorang dokter keluar dari IGD. Segera mereka bertiga menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Nathan dengan wajah panik.
"Istri anda mengalami pendarahan, tapi untungnya janin dalam kandungannya tidak apa-apa. Tidak ada masalah serius, hanya saja mungkin butuh bedrest beberapa hari."
"Ja-ja-janin," Nathan langsung syok.
__ADS_1