
Embun yang terbangun tengah malam, langsung geleng-geleng melihat Nathan tertidur disofabed dalam posisi duduk. Mungkin suaminya itu tertidur saat kerja, terbukti dari laptop yang masih dalam posisi terbuka diatas meja.
Pelan-pelan, dia menyingkap selimut lalu turun dari ranjang. Untung sudah tak ada jarum infus yang menempel ditangannya, kalau tidak, pasti sedikit ribet. Tadi siang, Embun meminta infusnya dilepas saja. Kondisinya sudah sangat baik, tak lagi keluar flex sejak 2 hari yang lalu, dan saat diperiksa dokter, janin berusia 10 minggu diperutnya juga sudah bagus kondisinya. Ya, usia kandunganya sudah 10 minggu, lebih tua dari pada kandungan Navia, hanya saja dia terlambat mengetahui.
Embun duduk disebelah Nathan, menatap wajah teduh yang tampak lelap meski posisi tidurnya tak nyaman. Sekelebat bayangan masa lalu melintas dibenak Embun, saat Nathan menaruh sambal dimulutnya ketika dia tidur. Kalau saja ada sambal, ingin rasanya dia membalas, tapi Nathan sangat beruntung karena tidak ada sambal disana.
"Mas," panggil Embun sambil menepuk bahu Nathan beberapa kali. Nathan yang kaget, langsung membuka mata dan menegakkan duduknya.
"Sayang, ada apa? Kamu gak kenapa-kenapakan?" Nathan yang dibangunkan seketika panik. "Loh, kamu kok ada disini, gak diatas ranjang?"
"Aku gak papa kok," sahut Embun sambil tersenyum.
"Kamu kok bangun tengah malam? Mau ke kamar mandi?"
"Enggak. Aku cuma kasihan lihat Mas ketiduran sambil duduk."
"Astaga," Nathan langsung melihat laptopnya saat tersadar kalau dia ketiduran saat kerjaannya belum kelar. Memeriksanya sebentar lalu mematikannya.
"Mas tidur gih, kayaknya capek banget."
"Kangen tidur sama kamu, peluk kamu dan_" Embun langsung meletakkan telunjuknya didepan bibir Nathan sambil melotot.
"Gak boleh," ujarnya tegas tanpa mau dibantah.
"Apa?"
"Ya itu, gak boleh."
"Ya itu apa?" Nathan terus mencecarnya hingga Embun merasa kesal. Membuang nafas berat sambil melipat kedua lengannya didada.
__ADS_1
"Mommy kamu galak banget sih sayang," Nathan memeluk Embun dari samping sambil meletakkan dagu dibahunya. "Padahal Daddy cuma mau ngelus kamu yang ada diperut, tapi katanya gak boleh."
Embun menggigit bibir bawahnya, menahan senyum. Dia pikir Nathan mau minta jatah, tahunya cuma mau itu.
"Ya udah ayo."
"Hah," Nathan melepaskan pelukannya, menatap Embun sambil mengerutkan dahi. "Ayo kemana?"
Embun membuang nafas berat lalu menepuk bantal yang ada diatas sofa bed. "Tidur, katanya pengen tidur sambil meluk aku."
"Ti-tidur disini?" Nathan menunjuk sofabed yang dia duduki.
"Iya, emangnya kenapa. Kalau diubah kebentuk bed, cukup banget buat tidur kita bertiga."
"Bertiga?" Pikiran Nathan masih loading. Baru paham saat Embun menunjuk perutnya, dan seketika dia tergelak.
Dua bantal sudah berjajar diatas bed, begitupun sebuah selimut. Dengan sok romantisnya, Nathan membungkuk sambil merentangkan sebelah tangan, mempersilakan Embun naik lebih dulu.
"Thank you," ujar Embun sambil memberikan senyuman manisnya lalu naik keatas sofabed. Nathan segera menyusul, berbaring disebelahnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Embun memeluk pinggang Nathan sambil merebahkan kepala didadanya.
"Kok berdebar jantungnya?" Embun menempelkan pipinya pada dada yang terasa berdebar itu. "Ini bukan malam pertama loh," cibir Embun. "Udah malam ke 365+," lanjutnya sambil cekikikan.
Nathan memindahkan kepala Embun yang awalnya didadanya menuju bantal. Menatap lekat kedua netranya sambil merapikan anak rambut yang berantakan disekitar wajah.
"Karena kamu selalu bisa bikin aku jatuh cinta lagi dan lagi Mbun," Nathan memberikan kecupan dibibir Embun. Tapi bibir yang selalu membuatnya candu itu, seperti ada magnetnya. Menariknya untuk memagut, melu mat, bahkan menerobos masuk kedalam mulut dan bertukar saliva.
Embun mendorong dada Nathan saat merasakan gelenyar didalam tubuhnya. "Nanti kebablasan."
__ADS_1
Nathan garuk-garuk sambil tersenyum simpul. Bagaimana mungkin dia tak bisa mengontrol diri seperti ini. Padahal dokter sudah berpesan agar mereka tak melakukan hubungan dulu sebelum usia kandungan Embun menginjak 4 bulan atau 16 minggu.
Nathan kembali merebahkan kepalanya diatas bantal, menarik pelan kepala Embun agar kembali bersandar didadanya. "Good night." Diciumnya pucuk kepala Embun sebagai sambil mengusap punggungnya.
Tapi hingga hampir 30 menit, Embun belum juga bisa tertidur. Perutnya terasa lapar, tapi melihat Nathan yang sudah terlelap, dia tak tega membangunkan. Mungkin sepotong roti yang ada diatas nakas bisa untuk mengganjal perutnya.
Dia bangun dengan sangat pelan agar tak mengganggu tidur Nathan, tapi sayangnya, Nathan tetap terjaga karena gerakannya.
"Mau kemana?" tanya Nathan.
"Lapar," Embun mengusap perutnya.
Nathan bangun lalu meletakkan telapak tanganya diperut Embun sambil menatap kesana. "Kesayangan Daddy lapar ya? Mau makan apa kamu?"
"Mau nasi padang, Daddy." Embun berbicara dengan menirukan suara anak-anak.
"Anaknya Daddy mau nasi padang. Sambelnya banyak gak?"
"Hem, yang banyak," sahut Embun masih dengan suara anak-anak sambil mengangguk.
Nathan terkekeh pelan. Baru membayangkan mengobrol dengan anaknya saja, sudah sesenang ini. Rasanya dia tak sabar ingin anaknya segera lahir.
"Aku ambilkan roti sama susu ya," Nathan beranjak dari bed, berjalan menuju nakas lalu mengambilkan makanan apa saja yang ada disana untuk Embun. Tapi ketika dia sudah berdiri didepan Embun dengan beberapa makanan ditangan, wanita itu malah menggeleng.
"Aku mau nasi padang."
"What!" Nathan langsung terkesiap. Dia pikir nasi padang tadi hanya candaan, ternyata bukan. Dan seketika, tubuhnya terasa lelah. Membayangkan harus mencari nasi padang tengah malam seperti ini. Tapi sesaat kemudian dia kembali bersemangat saat ingat bisa delivery order. Jaman sudah canggih, hanya modal smart phone, apapun bisa. Jadi tak perlu takut dengan drama ngidam tengah malam. "Ya udah, aku coba pesankan." Baru juga dia hendak mengambil ponsel, suara Embun langsung menghentikannya.
"Aku mau dine in."
__ADS_1