Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
PULANG KERUMAH


__ADS_3

Hari ini Mama Salma sudah diizinkan pulang. Embun izin hari ini tidak mengajar. Nathan meminta keluarga inti dan seluruh orang yang bekerja dirumah itu untuk berkumpul. Dia ingin menunjukkan pada mamanya jika semua orang menyambut kepulangannya. Semua orang menyayanginya dan menginginkan dia bisa sembuh seperti sedia kala. Menurut dokter, keinginan besar untuk sembuh serta semangat pasien itu sendiri yang membuatnya bisa cepat pulih.


Nathan menggendong mamanya begitu sampai dirumah. Sementara Navia yang berdiri diteras langsung menyongsong sambil membawakan kursi roda. Begitu Nathan menurunkan Mama Salma dikursi roda, Navia langsung mencium pipi dan keningnya. Matanya berkaca-kaca, merasa sangat bersalah karena mamanya seperti ini gara-gara dia.


"Embun dorong ya, Mah." Embun mengambil alih kursi roda dari Nathan lalu mendorongnya masuk kedalam rumah.


"Jangan nangis didepan Mama," ujar Nathan sambil merangkul bahu Navia.


"Tapi Mama kayak gini gara-gara aku Kak," Navia menyeka air matanya yang meleleh. Dulu, meskipun berada dikursi roda, setidaknya Mama Salma masih bisa bicara dan menggerakan tangan serta sebelah kakinya. Tapi sekarang, jangankan untuk berbicara, menelan minuman saja kesulitan.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Lebih baik sekarang kita fokus pada pemulihan Mama. Semoga saja dengan terapi yang teratur, Mama bisa lebih baik." Navia mengangguk, keduanya lalu mengikuti Embun masuk kedalam rumah.


Didekat pintu, semua pekerja berbaris, mereka menyapa Mama Salma satu persatu. Memberikan senyuman serta kalimat penyemangat agar Mama Salma bisa segera pulih.


Sesampainya dikamar, Rama memindahkan Mama Salma menuju ranjang. Dan Susted Ida segera datang dengan segelas air putih yang sudah dilengkapi dengan sedotan. Embun mengambil alih gelas tersebut lalu membantu mertuanya minum.


Navia duduk disebelah mamanya, mengeluarkan print out USG 4D yang ada disaku dasternya lalu menunjukannya pada Mama Salma.


"Kemarin Navia periksa lagi. Lihatlah, calon cucu Mama tampan sekalikan?" Mata Mama Salma berkaca-kaca menatap hasil USG 4D cucunya. Bibirnya bergerak, seperti mau bicara, sayang tak ada sepatah katapun yang mampu dia keluarkan. Dan hal itu membuat Nathan langsung memalingkan wajah karena tak tega.


Embun menggenggam tangan Nathan sambil berbisik padanya. "Mama pasti akan bisa bicara lagi nanti."


"Anak Navia gak mirip Mas Rama ya Mah," Navia melihat kearah Rama. "Dia malah mirip Kak Nathan," lanjutnya sambil cekikikan menatap Nathan.


"Lebih tepatnya mirip kamu, bukan aku," sahut Nathan.


"Kamu sama Navia kan sebelas dua belas. Kamu versi cowok, Navia versi ceweknya," Embun menimpali. "Karena anak Navia cowok, jadinya kayak mirip kamu."


"Nanti kalau kita punya anak, aku maunya mirip kamu aja," timpal Nathan sambil menoel hidung Embun. Sedetik kemudian, dia baru sadar jika salah ngomong. Tapi sudah terlanjur, ekspresi wajah Embun sudah terlihat berubah, tak lagi secerah tadi.

__ADS_1


"Navia dan Mas Rama mau babymoon ke Singapura." Navia mengusap lengan mamanya sambil menatapnya. "Mama cepat sembuh ya, biar nanti kita bisa kesana sama-sama."


Nathan duduk disisi ranjang didekat kaki ibunya. "Ya, Nanti kita jalan-jalan sama sama. Mama harus segera sembuh. Apalagi sebentar lagi Navia mau lahiran. Emang Mama gak mau main sama cucu?"


Mata Mama Salma berkaca-kaca, sesaat kemudian, cairan bening keluar dari sudut matanya. Navia yang ada disebelahnya segera menyeka menggunakan telapak tangannya.


"Mama semangat ya, Mama harus segera pulih, Navia sayang Mama." Navia memeluk Mama Salma sambil mencium pipinya.


Karena Mama Salma harus istirahat, mereka semua keluar dari kamar tersebut. Hanya tertinggal suster Ida yang berjaga.


...----------------...


Setelah makan malam, Nathan dan Embun kembali ke kamar. Beberapa hari tidur di rumah sakit, membuat kualitas tidur Nathan kurang bagus. Malam ini, dia ingin merasakan tidur nyenyak dikasur empuk nan luas miliknya. Baru saja matanya hendak terpejam, Embun sudah membuatnya kembali terbuka lebar.


Mulut Nathan menganga melihat Embun keluar dari kamar mandi dengan memakai lingerie hitam yang kontras dengan kulitnya. Lekuk tubuhnya terlihat jelas dibalik lingeri menerawang tersebut.


Jantung Embun berdebar kencang, meski sudah lama menikah, ini untuk pertama kalinya dia menggoda Nathan seperti ini. Dia ingin membuat Nathan melupakan kesedihannya sejenak dan kembali bersemangat.


Embun naik keatas ranjang. Dan tanpa ragu-ragu, du itu. Mengedipkan sebelah mata sambil memilin rambut bagian depannya yang menjuntai. Tak lupa sedikit menggoyangkan pantat untuk membangunkan yang ada dibawah sana.


Tapi reaksi Nathan tak seperti perkiraannya. Pria itu malah menutupi mulut dan tampak menahan tawa. Tak pelak Embun langsung melotot kesal. "Ish, kok malah ketawa?"


"Maaf, aku cuma aneh aja lihat kamu kayak gini? Pengen banget ya, sampai menggodaku seperti ini?" Nathan masih saja ketawa, dan itu sungguh membuat Embun makin dongkol. Dia hendak bangkit dari pangkuan Nathan tapi pria itu menahannya. "Mau kemana?"


"Tidur dikamar Mama," sahutnya asal.


"Loh, loh, loh, kok jadi ngambek gini sih."


"Habisnya kamu malah ketawain aku." Udah menekan rasa malu, eh...malah diketawain. Siapa yang gak kesal coba?

__ADS_1


"Maaf, maaf. Aku cuma ngerasa aneh."


"Aneh?" Embun makin membeliakkan matanya. "Pantesan meski pahalanya banyak, jarang ada wanita yang minta duluan. Gimana mau minta duluan, orang malah diledekin, diketawain," ujarnya bersungut-sungut.


"Maaf, maaf." Nathan hendak memagut bibir Embun tapi wanita itu lebih dulu memalingkan wajah. "Astaga, beneran marah nih?" Nathan mendesis pelan sambil garuk garuk kepala. Dia mendekatkan bibirnya ketelinga Embun sambil berbisik. "Aku pengen."


"Aku enggak," Embun hendak bangkit tapi lagi-lagi Nathan menahan pundaknya.


"Aku mau kamu," Nathan kembali berbisik.


"Aku gak mau," sinis Embun.


"Tapi aku mau," desak Nathan sambil memberikan kecupan kecupan basah disekitar leher dan dada Embun.


Embun berusaha menahan de sahan dengan menggigit bibir bawahnya. Malu bilang gak mau tapi tubuh gak bisa bohong.


"Kamu cantik banget dengan baju ini," Nathan meremat dada Embun. Bibirnya menurunkan satu persatu tali li ngeri dibahu Embun. Dan seketika, benda kesukaannya langsung terekspos dan bisa dia nikmati dengan bebas.


"Aku mau kamu," Nathan kembali berujar lirih. Embun yang tak kuasa menahan semua kenikmatan dari sentuhan Nathan, hanya mampu menjawab dengan anggukan kepala.


Krekk


Embun yang awalnya terpejam langsung membuka mata mendengar suara sesuatu sobek. Sudah bisa dia duga, jika suara itu berasal dari lingerinya.


"Kak Nathan, sobek." Benar saja, Nathan yang terlalu terburu buru hendak mengenyahkan baju dinas itu dari tubuh Embun, malah membuatnya sobek.


"Nanti beli lagi," sahut Nathan santai.


"Tapi kan sayang, masa dipakai sekali lang_" Embun tak bisa protes lagi karena Nathan membungkam mulutnya dengan ciuman. Nafsu yang sudah diubun-ubun membuat Nathan tak mau mendengar apapun lagi kecuali suara seksih Embun serta teriakan kecilnya.

__ADS_1


Malam itu, keduanya kembali bisa menuntaskan hasrat. Menikmati sentuhan demi sentuhan yang dirindukan selama hampir 3 minggu ini.


__ADS_2