
Nathan duduk diatas ranjang, sibuk dengan laptop dan ponselnya. Mata dan sebelah tangannya fokus dilaptop, sedangkan sebelah tangannya lagi memegangi ponsel. Dia sedang telepon dengan Dimas saat ini, maklum ini bukan hari libur, jadi dia sibuk sekali.
Sementara Embun, dia bergelayut manja dilengan Nathan sambil menonton drakor.
"Mau kemana?" tanya Nathan saat Embun melepaskan lengannya.
"Saya gak kemana-mana, Pak," sahut Dimas dari telepon.
"Saya gak bicara dengan kamu," sinis Nathan.
Disana, Dimas langsung terdiam sambil menelan ludah. Sebenarnya sudah dari tadi dia pengen marah. Obrolannya dengan Nathan kurang jelas karena gangguan suara drakor yang berasal dari laptop Embun. Tapi apalah daya, si bos tak keberatan dengan gangguan itu, mana berani dia protes.
"Mau ketoilet sebentar," jawab Embun.
"Cepetan jangan lama-lama."
Dasar bucin, kintilin aja sekalian ke toilet, gerutu Dimas dalam hati.
"Iya, iya," Embun memutar kedua bola matanya jengah. Seharian ini, dia sudah mirip tahanan kamar, gak boleh kemana-mana, dikekepin terus sama Nathan.
Sepeninggalan Embun, Nathan kembali membahas masalah pekerjaan bersama Dimas sekaligus memeriksa file yang baru dikirim asistennya tersebut.
Tak lama kemudian, Embun kembali. Melihat Nathan yang masih sibuk, dia berniat untuk beres-beres rumah saja.
"Mau kemana?"
Langkah Embun seketika terhenti. Padahal dia pikir Nathan sedang fokus dan tak melihatnya, tapi ternyata dia salah. Meski sibuk, pria itu tetap memperhatikannya.
__ADS_1
Kali ini, Dimas tak bertanya karena sudah paham bukan dia yang diajak bicara. Lagi-lagi, dia hanya bisa menggerutu dalam hati. Ya, hanya dalam hati, karena kalau diucap langsung, resikonya adalah dipecat.
"Mau beres-beres," sahut Embun sambil membalikkan badan dan tersenyum pada Nathan.
Nathan menepuk sisi kosong disebelahnya. "Disini saja."
Embun menghela nafas. Padahal banyak pekerjaan yang menunggunya karena seharian ini, Nathan tak membiarkannya menjauh walau sebentar saja.
"Tapi ba_"
"Aku bilang kesini," ulang Nathan. Raut wajahnya terlihat sedang tak ingin dibantah.
Embun menunduk sambil berjalan gontai menuju ranjang. Naik lalu duduk tepat disebelah Nathan sambil memeluk pinggang pria itu. Dan sebuah kecupan, langsung didaratkan Nathan dikening istri tercintanya itu.
Lama-lama Embun mulai bosan karena Nathan belum selesai juga teleponan dengan Dimas. Dan tiba-tiba, muncul ide nakal dikepalanya.
Gila, lagi ngapain mereka.
Dimas kipas-kipas menggunakan telapak tangannya. Entah kenapa, dia mendadak panas dingin karena membayangkan sesuatu.
Sementara Embun, dia tertawa cekikan saat Nathan memelototinya.
"Suruh Anisa membuat kontrak kerjasamanya. Setelah selesai, kamu cek dulu baru kirim kesaya."
Dimas yang pikirannya sedang melanglang buana hingga nyasar kemana-mana, tak mendengar ucapan Nathan barusan.
"Dim, kamu paham kan?" Nathan mengecek layar ponselnya, masih tersambung, tapi kenapa tak ada jawaban. "Dimas," serunya lumayan keras.
__ADS_1
"I-iya Pak," sahut Dimas gelagapan.
"Cepat lakukan perintah saya."
"Pe-perintah? Perintah apa, Pak?"
Nathan berdecak pelan. Rasanya pengen marah, tapi dia tahan demi jaga imej didepan Embun. Terpaksa dia mengulang lagi perintahnya pada Dimas lalu menutup telepon.
Nathan meletakkan ponsel dan laptopnya diatas nakas lalu mendorong Embun hingga telentang. "Nakal kamu ya," ujarnya sambil mengungkung Embun menggunakan kedua lengannya. Sekarang, giliran Embun yang gugup. Dia berharap semoga saja Nathan tak kembali minta jatah setelah 2 ronde tadi. Miliknya masih terasa perih.
Pandangan Nathan mulai berkabut, tak mau membuang waktu, dia langsung mencium bibir Embun. "Kamu harus terima balasan karena telah menggodaku sayang." Nathan kembali memajukan wajahnya, tapi lebih dulu, Embun menahan dadanya.
"Udah sore, aku harus masak buat makan malam," Embun mencari alasan agar bisa lepas dari terkaman Nathan.
"Kita bisa beli." Nathan kembali memajukan wajahnya tapi lagi-lagi, Embun mendorong dadanya.
"A-aku mau nyapu."
"Embun," tekan Nathan sambil memberikan tatapan penuh intimidasi.
"I-iya," akhirnya Embun pasrah. Dia biarkan saja Nathan melakukan apapun pada tubuhnya. Bahkan saat Nathan menyuruhnya berada diatas, dia hanya bisa menurut. Sebenarnya bukan hanya menurut saja, tetapi sekaligus menikmati. Bersama sama mendaki menuju puncak kenikmatan.
"Kak Nathan," teriak Embun saat dia mencapai puncak. Tubuhnya terasa lemas, dia ambuk menimpa Nathan. Ternyata mendaki ke surga melelahkan juga, tenaganya sampai habis.
Setelah beberapa saat, Nathan membalikkan posisi, lanjut mengejar apa yang belum dia dapat. Embun tak henti-hentinya mende sah dan meracau tak karuan. Sampai akhirnya, Nathan mendapatkan apa yang dia mau lalu berbaring disebelah tubuh Embun.
"Capek," keluh Embun sambil memeluk tubuh Nathan yang penuh dengan peluh.
__ADS_1
"Tidurlah, I love you." Nathan mencium kening Embun lama. Dia mengusap punggung istrinya hingga tak lama kemudian, nafas Embun terlihat teratur, menandakan jika wanita itu sudah terlelap.