
"Kakak gak kerumah sakit malam ini. Nanti kamu suruh saja Bi Ijah buat jagain Mama gantiin Kakak." Nathan bicara pada Navia yang saat ini sedang menghubunginya via telepon.
"Kenapa, gak dibolehin sama pelakor itu?" sinis Navia.
Nathan menoleh kearah Embun yang saat ini sedang terlelap disebelahnya. "Namanya Embun, bukan pelakor."
"Halah sama saja. Toh kenyataannya dia memang pelakor."
Nathan berdecak kesal. Malas sekali dia meladeni Navia yang tak ada lelahnya menyudutkan serta menyalahkan Embun.
"Besok pagi Kakak ada meeting. Kalau dirumah sakit, Kakak gak bisa tidur. Jadi Bi Ijah saja yang jagain mama malam ini."
"Siapa yang telepon Kak?" tanya Embun yang terbangun karena suara Nathan.
"Navia sayang," Nathan mengusap pelan kepala Embun. "Udah kamu tidur lagi aja."
Mendengar Kakaknya memanggil Embun sayang, rasanya Navia pengen muntah. Tak terima kalau Nathan mulai mencintai wanita itu. Dia hanya menyuruh Nathan memisahkan Embun dari Rama, bukan mencintainya.
"Ada apa dia telepon? Mama baik-baik sajakan?" tanya Embun sambil merubah posisinya menjadi duduk disebelah Nathan.
"Mama baik-baik saja," sahut Nathan sambil merangkul bahu Embun. Dikecupnya puncak kepala Embun beberapa kali sampai suaranya terdengar oleh Navia.
Astaga, Navia makin muak.
"Pokoknya Kakak kesini sekarang," tekan Navia. Dia benar-benar meradang mengetahui jika Embun diperlakukan sangat manis oleh Nathan. "Jangan jadi anak durhaka karena lebih mentingin pelakor daripada mama sendiri," lanjutnya dengan nada ketus.
Embun yang saat ini sedang bersandar dibahu Nathan dan menyorokkan wajah diceruk lehernya, jelas bisa mendengar suara Navia yang marah-marah.
"Kakak mau kerumah sakit?" tanya Embun. "Aku ikut."
"Bagus kalau dia ikut" sahut Navia cepat. Dia bisa mendengar ucapan Embun barusan. "Biar sekalian dia tanda tangan surat perjanjian."
__ADS_1
"Surat perjanjian, surat apa?" Embun menatap Nathan penuh tanya.
"Nanti aku jelasin." Nathan menutup telepon setelah bilang pada Navia jika dia akan segera datang.
"Surat perjanjian apa sih Kak?" Embun masih sangat penasaran.
Nathan menghela nafas berat, mengusap puncak kepala Embun lalu mendaratkan kecupan disana. Dia lalu menceritakan kejadian kemarin saat dia menyuruh Rama tanda tangan surat pernjanjian yang dia buat. Dan sekarang, Navia menuntut hal yang sama pada Embun.
"Apa Kakak tidak percaya padaku?"
Nathan menggeleng cepat. "Bukan seperti itu sayang. Aku sangat percaya padamu, makanya aku setuju saat Navia meminta kamu untuk dibuatkan surat perjanjian yang sama." Nathan menggenggam kedua tangan Embun lalu menciumnya. "Aku sangat percaya padamu." Dia merengkuh bahu Embun lalu mendekapnya didada. "Aku mencintamu sayang, sangat mencintaimu." Nathan mengecup puncak kepala Embun beberapa kali.
"Aku juga mencintai Kak Nathan," balas Embun sambil makin meringsek kedada Nathan.
...----------------...
Setelah magrib, Nathan dan Embun pergi kerumah sakit, mereka mampir lebih dulu ke toko kue agar tak datang dengan tangan kosong. Tekanan darah Mama Salma sudah normal, jadi sekarang sudah mulai ada kelonggaran untuk masalah makanan.
Saat Nathan dan Embun mau masuk keruangan Mama Salma, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam. Muncul Navia yang kebetulan hendak keluar untuk membeli sesuatu.
"Navia!" bentak Nathan. "Jaga bicaramu. Semua ini gak ada sangkut pautnya dengan Embun."
Navia menatap Embun sengit. Tangannya mengepal karena tak terima Nathan lebih membela Embun. "Apa kau sudah siap untuk tanda tangan surat perjanjian?" Navia membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah kertas yang dia lipat menjari dua.
"Sini, biar aku baca dulu," Nathan merampas kertas tersebut dari tangan Navia. Dia harus meneliti lebih dulu, jangan sampai Navia memasukkan poin poin yang merugikan dia maupun Embun. "Sayang, aku tinggal bentar ya," pamitnya pada Embun.
"Sayang?" Navia melipat kedua lengan didada sambil tersenyum mengejek. "Lebay bangat sih Kak Nathan."
"Bukan urusan kamu." Nathan menarik tangan Navia. Membawanya menjauh dari Embun karena ada yang harus dia bicarakan mengenai surat perjanjian tersebut.
Embun terdiam didekat pintu ruang rawat Mama Salma. Bersandar didinding sambil menunduk, memperhatikan lantai rumah sakit yang sebenarnya tak ada menarik menariknya. Dia ragu untuk masuk. Saat ini, dia dalam kondisi tak percaya diri menghadapi ibu mertuanya itu jika tanpa Nathan.
__ADS_1
"Mbun."
Embun mengankat wajahnya saat mendengar suara yang sangat familiar memanggilnya. Seorang pria berdiri tak jauh darinya, dan sekarang berjalan menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Rama.
"Apa kabar?" tanya Rama.
"Baik," sahut Embun. Dia melihat kearah dimana Nathan membawa Navia. Takut jika mereka tiba-tiba muncul dan salah paham.
"Kenapa tidak masuk?"
"Aku sedang menunggu Kak Nathan. Dia pergi kesana bersama Navia," Embun menunjuk koridor yang tadi dilalui Navia dan Nathan. Tapi mereka tak terlihat, mungkin berbelok atau kemana, Embun tidak tahu pasti.
Tiba-tiba tatapan Rama tertuju pada leher Embun. Leher jenjang seputih susu yang saat ini, tampak dua buah tanda merah. Rama bukan orang bodoh yang tak tahu tanda apa itu.
"Apa kau mencintai Nathan?"
"Tentu saja, dia suamiku."
"Bukan karena dia suamimu yang aku maksud. Tapi apakah kau benar benar tulus mencintainya dari hati? Aku tahu kalian menikah bukan karena cinta."
Embun kurang suka saat Rama mengulik tentang kehidupan pribadinya. Selain itu, dia kurang nyaman bicara berdua saja dengan Rama. "Lebih baik kamu masuk saja Ram. Jangan sampai ada yang melihat kita ngobrol berdua dan salah paham."
"Sepertinya kamu yang salah paham dengan pertanyaanku barusan."
"Maksudnya?"
"Aku hanya ingin tahu apakah kau bahagia Mbun," tiba-tiba saja mata Rama berkaca-kaca. "Hanya itu, bukan berarti aku ingin ikut campur urusan rumah tanggamu. Kalau saja kau tahu Mbun, penyesalan terbesarku adalah meninggalkanmu. Aku pikir harta dan jabatan yang utama, tapi aku salah, aku tak sepenuhnya bahagia karena semua itu. Andai saja waktu bisa diputar ulang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Sayangnya itu tidak bisa, Ram. Semua sudah terlambat," sahut Embun.
"Ya, kau benar. Tak ada yang bisa diperbaiki lagi diantara kita, semua sudah terlambat. Aku tak mau mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Navia sangat baik padaku, sebentar lagi, kami juga akan punya anak. Aku akan berusaha untuk melupakanmu dan mulai belajar mencintai Navia dengan tulus."
__ADS_1
Embun mengangguk. "Itu keputusan yang paling tepat."
"Sekali lagi, maafkan aku Mbun," Rama menyeka air mata yang meleleh dari sudut matanya.