
Saat tidur, Embun merasa ada yang menggerayangi tubuhnya. Seseorang seperti menindih tubuhnya, membuat nafasnya sedikit sesak. Tak hanya sebatas digerayangi, leher dan dadanya dihujani dengan ciuman basah. Apakah dia sedang mimpi? Tapi rasanya seperti nyata. Bahkan saat ini, dadanya terasa sedikit nyeri akibat rematan yang lumayan kuat. Sakit, ini bukan mimpi.
Embun membuka mata, alangkah kagetnya dia saat melihat ada yang benar-benar menindih tubuhnya.
"To_" Dia tak bisa lanjut berteriak tolong karena mulutnya tiba-tiba dibekap dengan ciuman. Hendak menggunakan lutut untuk menendang, kakinya sedang terhimpit, jadi tak bisa gerak. Dia tak boleh diam saja, dia harus melawan. Kehormatanmya milik sang suami, dia tak sudi disentuh oleh pria lain.
"Aww...." Pekik pria itu saat Embun menggigit bibirnya dengan kuat. Saat pagutan terlepas, Embun langsung berteriak minta tolong dan mendorong tubuh diatasnya hingga jatuh dari atas ranjang.
Bugh, tubuh pria itu terhempas kelantai yang keras dan dingin. Pasti sakit sekali, teebukti dari suara jatuhnya yang lumayan keras.
"Tolong! Tolong!"
"Sayang, ini aku." Embun berhenti berteriak saat mendengar suara yang sangat familiar. Ya, itu suara suaminya.
"Kak Nathan," gumam Embun. Lampu tidur dikamarnya hanya remang-remang, tapi wajah pria itu seperti Nathan, begitupun suaranya. Tapi, bagaimana Nathan bisa tiba-tiba ada disini?
Embun turun dari ranjang lalu menyalakan lampu. Mulutnya menganga lebar saat mendapati Nathan terduduk dilantai sambil mengusap punggungnya.
Tok tok tok , ceklek, ceklek, ceklek.
"Mbun, buka pintunya Mbun," terdengar suara panik ibunya dari balik pintu. "Mbun, kamu kenapa, Nduk?" Bu Siti terus mengetuk dan menarik gagang pintu yang dikunci dari dalam.
Embun tak jadi mendekati Nathan, lebih dulu dia membukakan pintu untuk ibunya.
"Kamu kenapa Nduk?" Dengan wajah pias, Bu Siti memindai tubuh Embun dari atas kebawah.
"Embun gak papa Bu," sahut Embun. Sumpah, dia malu banget karena sudah membuat ibunya panik tengah malam.
"Gak papa kok teriak minta tolong? Kamu dikasari sama suami kamu?" Sebuah tuduhan yang langsung membuat Nathan terhenyak.
Bu Siti membuka lebar pintu kamar Embun untuk mencari keberadaan Nathan. Menantu yang baru beberapa saat lalu dia bukakan pintu dan dia izinkan masuk ke kamar Embun tapi sudah membuat putrinya teriak minta tolong.
Bu Siti mengerutkan kening melihat Nathan yang terduduk dilantai dan saat ini berusaha untuk bangun. Dia tersenyum sambil mengangguk sopan pada ibu mertuanya.
"Hanya ada kesalah pahaman dikit Bu. Gak ada apa-apa kok, Embun baik-baik saja. Tadi Embun pikir ada penyusup yang masuk, eh taunya Kak Nathan."
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu," Bi Siti merasa lega lalu pergi dari sana.
Embun segera menutup pintu dan menguncinya kembali, menghampiri Nathan yang duduk disisi ranjang. Melihat bibir Nathan yang berdarah, segera dia mengambil tisu dan mengusapnya pelan.
"Aww...pelan," ringis Nathan yang merasakan perih.
"Iya, maaf." Embun meniup niup bibir tersebut untuk mengurangi perihnya. "Lagian Kakak ngapain sih, dateng-dateng malah langsung kayak tadi, bukannya ngebangunin aku dulu."
"Gimana mau ngebangunin, orang milikku dateng dateng udah langsung kamu bangunin. Kamu tidurnya menantang. Daster tersingkap keatas sampai kelihatan daleman. Terus itu puncak dada, jelas banget ngejiplak, kayak minta di hap aja. Aku yang udah berhari-hari gak dapet jatah, gimana gak langsung napsu coba?" Nathan malah curhat.
Yaelah, lebai banget. Berhari-hari katanya, orang baru 3 hari.
"Oh iya, Kakak kok tiba-tiba ada disini sih?"
"Aku kangen kamu."
Embun tak bisa menahan tawanya kali dia. Dia bahkan sampai menutup mulut dengan telapak tangan agar tawanya tak sampai kedengaran ibunya.
"Astaga, malah diketawain," gerutu Nathan.
"Oh....co cweet banget sih suamiku." Embun memeluk Nathan dari samping sambil menghujani wajah dan lehernya dengan ciuman. "Saking kangennya sampai disusulin segala."
"Ngapain tadi Johan nyari kamu? Dia udah tahukan, kalau kamu udah nikah?"
"Johan?" Embun mengerutkan kening. Kenapa Nathan ujug ujug ngebahas Johan?
"Gak usah sok bingung. Tapi pagi dia datang nyariin kamu kan?"
Embun mengangguk pelan. "Darimana Kakak tahu?"
"Jadi benar dia datang?" Nathan tampak mulai emosi. "Ngapain dia itu masih nyamperin kamu?"
"Emang gak boleh ya?" Tanya Embun tanpa rasa bersalah, membuat Nathan meradang. "Dia ngajak aku kerumahnya." Mata Nathan melotot, sampai bola matanya terlihat mau keluar. Kedua telapak tangannya mengepal kuat, membuat Embun menelan ludah susah payah karena takut. "Maaf, aku gak izin sama Kakak dulu. Karena aku pikir, rumahnya deket, hanya jarak 2 rumah dari sini."
"Aku gak nyangka kamu kayak gini Mbun." Nathan tak lagi memanggilnya sayang, itu artinya, suaminya itu benar-benar marah. "Di Jakarta aku mati-matian merindukan kamu. Eh...disini kamu malah seneng-seneng sama Johan. Tadi aku sempet merasa bersalah karena udah bentak-bentak kamu. Tapi kamu malah gak merasa bersalah sedikitpun karena mendatangi rumah Johan tanpa sepengetahuan aku. Sekarang jujur sama aku," Nathan memegang kedua bahu Embun kuat. "Ngapain saja kamu dirumah Johan?"
__ADS_1
Air mata Embun mulai merembes. Cengkeraman Nathan dikedua bahunya sangat sakit.
"Jawab Mbun?" bentak Nathan.
"A-aku hanya melihat kucingnya yang baru melahirkan, cuma itu. Dia mau ngasih 1 tapi aku tolak karena ingat Kakak gak suka ada binatang peliharaan dirumah," sahut Embun sambil terisak. "Sakit Kak, tolong lepasin," pintanya sambil memelas.
"Yakin kesana cuma mau ngelihat kucing, gak ngapa ngapain lagi?" Nathan belum juga melepas cengkeraman tangannya karena belum puas dengan jawaban Embun.
"A-aku bantuin dia ngerjain PR yang katanya sulit."
"PR?" Nathan mengerutkan kening.
"Dia bilang, gurunya yang sekarang agak susah kalau ngejelasin, jadi dia kurang paham. Gak kayak aku dulu pas jadi wali kelas dia. Jadi tadi aku ngajarin dia sampai paham dan bantu ngerjain PR."
Nathan melepakan cengkeramannya dibahu Embun. "Johan itu...."
"Dia dulu muridku, sebelum aku resign dan pindah ke Jakarta."-
Mulut Nathan langsung menganga lebar. Jadi Johan itu anak-anak, muridnya Embun dulu. Ya salam, kenapa bisa sampai salah paham gini sih. Dan lihatlah, Embun sampai menangis karena ulahnya barusan.
Buru-nuru Nathan menyeka air mata Embun lalu memeluknya. "Maaf sayang, maaf. Aku tidak tahu kalau Johan itu murid kamu disekolah."
Embun segera melepaskan pelukaan Nathan sambil menatap wajah pria yang tampak menyesal itu. "Maksud Kakak apa?"
"Aku pikir, Johan itu mantan pacar kamu." Sekarang, gantian Embun yang melotot.
Nathan menyentuh bahu Embun lalu mencium keduanya bergantian. "Maaf sayang, sakit ya?"
"Ya sakitlah," pekik Embun sambil mendelik tajam. Kali ini, gantian dia yang meradang.
"Please, jangan marah dong. Ini itu gara-gara Rama, dia yang ngasih tahu aku kalau Johan itu mantan kamu. Sepertinya dia sengaja ingin membuat kita ribut, kurang ajar dia." Nathan hendak memeluk Embun tapi tubuhnya didorong oleh wanita itu. "Jangan marah dong, aku kangen banget tahu gak?" Nathan coba memelas, menarik simpati Embun.
Embun menatapnya tajam sambil melipat kedua tangan didada. Enak aja sekarang mau peluk peluk setelah tadi sempet ngasarin.
"Kamu gak kasihan sama aku Yang. Tadi pas denger dari Rama kalau Johan mantan kamu, aku langsung nyari tiket buat nyusul kamu ke Malang. Masih capek karena perhalanan jauh, eh, malah didorong sampai jatuh." Embun jadi sedikit melunak kalau ingat kejadian tadi.
__ADS_1
"Belum lagi ini," Nathan menyentuh bibirnya yang terluka. "Sakit Yank." Pertahanan Embun jadi runtuh. Mana bisa dia marah kalau begini. Alhasil, dia diam saja saat Nathan merengkuh pinggangnya. "Kiss me please, biar ilang sakitnya."
"Dih, modus." Embun menyebikkan bibir.