
Dinar menangis sesenggukan, begitupun dengan beberapa guru lainnya. Padahal Embun belum ada setahun jadi guru disini, tapi persahabatan mereka sudah sangat dekat, bahkan seperti keluarga. Ditambah lagi Embun yang tak segan membantu teman serta hobi mentraktir, membuat dia makin disukai teman-temannya.
"Gak bisa ya, sampai kamu mau lahiran gitu?" tanya Dinar.
"Ya gak bisalah Din," sahut Embun. Hari ini dia terakhir mengajar setelah sekolah mendapatkan guru pengganti. Kandungan Embun lemah, dia tak mau mengambil resiko karena kecapekan. Selain itu, Nathan juga memintanya berhenti, membuatnya tak mungkin menolak permintaan suaminya.
"Gimana murid-murid kamu tadi?" tanya Tomi.
"Biasa ajalah Tom. Aku itu baru sebentar ngajar mereka, jadi ya gak ada rasa kehilangan gitu. Tapi baguslah, daripada ada drama tangis tangisan."
"Bener Mbun, daripada pisah pas lagi sayang sayanganya. Ceileh.." seloroh Tomi sambil terkekeh pelan.
Para guru patungan memberikan kenang-kenangan. Meski harganya tak seberapa tapi bagi Embun, nilainya sangat luar biasa. Dan dihari terakhirnya, tak lupa Embun delivery banyak sekali makanan untuk teman-temannya. Dia juga membagikan paket snack untuk semua murid satu sekolah sebagai tanda perpisahan.
Tadi Nathan kecil bilang, hari ini mamanya yang jemput, itu artinya, nanti jam 12 Jihan akan datang kesekolah. Tak mau ada ganjalan dalam hati, Embun berniat mengajak Jihan ngobrol sebentar.
"Mama kamu belum datang Nath?" Embun duduk dikursi panjang sebelah Nathan. Bocah itu terlihat sedang asyik menikmati snack yang tadi dibagikan Embun.
"Sebentar lagi kayaknya Bu."
"Mama kamu mau menikah ya?"
Nathan mengedikkan bahu, sepertinya Jihan belum memberitahunya. Padahal Embun pikir, Nathan sudah tahu tentang ini.
Beberapa menit kemudian, yang ditunggu datang. Jihan yang hari itu memakai seragam kerja warna biru dengan hijab senada, tampak sangat cantik.
"Lama ya nungguin mama?" tanya Jihan saat Nathan mencium tangannya.
"Enggak kok Mah."
"Makasih ya Bu Embun, sudah mau temenin Nathan."
"Mah, Bu Embun mulai besok udah gak ngajar lagi. Ada dedek diperutnya, jadi harus istirahat dirumah," terang Nathan.
Jihan tersenyum sambil menatap perut Embun. Perihal Embun yang berhenti bekerja, dia sudah tahu karena Embun berpamitan digrup wali murid. Begitupun dengan alasannya, Embun sudah menyampaikannya secara jelas.
__ADS_1
"Selamat ya Bu Embun," tutur Jihan.
"Terimakasih. Em...boleh saya minta waktu sebentar?" Jihan langsung melihat jam tangan karena waktu istirahatnya tak lama. "Hanya sebentar." Embun bisa memahami jika Jihan tak punya banyak waktu.
"Baiklah."
Keduanya lalu menuju sebuah kursi panjang yang tak jauh dari tempat Nathan duduk. Menyuruh bocah itu untuk menunggu sebentar.
"Ada apa ya Bu?" tanya Jihan. Sebenarnya Embun ragu untuk menanyakan soal ini. Tapi demi pikirannya yang plong dan gak stress, dia nekat bertanya.
"Ini tentang foto suami saya yang ada dilaci meja anda."
Jihan langsung salah tingkah. Malu sekali karena Nathan dan Embun tahu soal ini. Harusnya dia tak sembarangan menaruh foto agar Nathan tak melihatnya. Kalau sudah begini, gak mungkin nyalahin Nathan, dia hanya anak kecil polos yang tak mengerti apapun tentang masalah orang dewasa.
"Saya tahu kalian pernah punya masa lalu. Tapi saat ini Mas Nathan adalah suami saya. Jadi tak salahkan, jika saya bertanya tentang perasaan anda saat ini pada suami saya?"
"Saya paham apa yang Ibu pikirkan. Tapi percayalah, saya bukan tipe wanita yang akan menyakiti wanita lain. Kenapa foto itu belum saya buang, karena bukan hanya ada saya dan Nathan saja difoto itu, ada teman kami lainnya juga. Sehingga sayang kalau dibuang, ada nilai kenangannya." Benar, difoto itu ada 5 orang, tapi Jihan melipat bagian gambar temannya kebelakang, sehingg saat melihat, Nathan kecil hanya fokus pada foto mamanya dan Nathan saja.
Jawaban itu belum bisa membuat Embun seratus persen tenang. Karena tetap saja, Jihan masih menyimpan foto Nathan.
"Maaf jika saya sudah berprasangka yang kurang baik pada anda," ujar Embun sambil menoleh kearah Jihan. Merasa bersalah karena masih mencurigai Jihan. Urusan hati, harusnya dia tak ikut campur. Tapi demi menjaga kewarasan serta keutuhan rumah tangga, dia jadi membahas soal ini.
"Itu sangat wajar Bu." Jihan lalu melihat jam tangannya. "Maaf Bu, saya tidak punya banyak waktu. Saya harus segera kembali bekerja."
Embun mengangguk sambil berdiri. "Terimakasih atas waktunya. Maaf jika pertanyaan saya membuat anda kurang nyaman."
"Tidak masalah Bu." Jihan memeluk Embun sambil mengusap punggungnya. "Nathan beruntung sekali mendapatkan istri seperti Bu Embun."
Jihan dan Nathan kecil pulang setelah itu. Tapi beberapa saat kemudian, ganti Nathan yang datang. Pas banget waktunya, batin Embun. Kalau saja Nathan datang sedikit awal, bisa ketemu lagi mereka.
"Kok kamu kesini Mas?"
"Mau jemput kamu. Udah selesaikan semuanya?" Embun mengangguk, kemudian mengajak Nathan masuk keruang guru untuk membantu membawa barang-barangnya. Tak lupa Nathan berterimakasih pada teman-teman Embun yang sudah mau menerima Embun dengan baik selama mengajar disini. Setelah berpamitan, mereka langsung pulang.
"Pengen sesuatu gak, mumpung masih siang. Jangan kayak dulu, tengah malem baru bilang mau sesuatu. Mumpung kita diluar dan masih siang, ngomong kalau pengen apa-apa." Tawar Nathan saat mobilnya melaju dijalan raya yang padat.
__ADS_1
"Yang namanya ngidam itu mendadak Mas. Tiba-tiba gitu aja pengennya."
"Ya kamu yang spesial dong, jangan sama kayak lainnya. Kalau bumil yang lain ngidamnya dadakan, kamu pakai rencana dulu, biar lain daripada yang lain."
Embun memutar kedua bola matanya malas sambil menghela nafas. Dapat ilmu darimana sih, ngidam pakai perencanaan dulu. Untung suami, cakep pula, kalau enggak, udah pasti dia semprot.
"Kok malah bengong? Cepetan sebutin, ngidam apa? Rujak, ice krim, mangga, durian, tahu gejrot, atau seblak, atau apalah."
"Gak keren kalau ngidamnya terlalu biasa kayak gitu," sahut Embun. "Tadi kamu bilang, aku harus spesial ngidamnya. Aku pikirin dulu deh."
Nathan menelan ludah susah payah. Tiba-tiba dia merasakan firasat buruk. Semoga saja kali ini, firasatnya gak benar.
Saat jalanan macet, Nathan tak sengaja melihat seseorang menegak teh botol dihalte bis. Panas-panas gini, kayaknya seger banget minum teh rasa leci dingin. Melihat ada minimarket didekat sana, Nathan langsung membelokkan mobilnya.
"Mau beli apa Mas?" tanya Embun saat Nathan membuka seatbeltnya.
"Beli teh bentar." Karena Embun juga haus, jadi dia ikut masuk kedalam. Embun yang memang mengurangi asupan gula, mengambil sebotol air mineral dingin, beda dengan Nathan, yang terlihat masih memelototi showcase.
"Nyari apa sih Mas?"
"Teh rasa leci."
Embun ikut memperhatikan showcase mencari teh rasa leci. "Habis kali Mas, gak ada. Ambil aja yang rasa lain."
"Aku pengen yang rasa leci, Yang. Kita nyari di minimarket lainnya aja deh." Dia menarik Embun kekasir untuk membayar air mineral lalu lanjut mencari teh rasa leci di minimarket lain. Dan lagi-lagi gak ada.
"Udahlah Mas, ambil yang rasa lainnya saja," Embun yang pengen langsung pulang, jadi kesel karena kelakuan Nathan. Cuma mau minum aja, seribet ini.
"Tapi aku pengen yang rasa leci, Yang."
Embun hanya bisa menghela nafas berat. Mereka lanjut ke minimarket lain, tapi kali ini Embun tak mau ikutan turun karena capek. Akhinya di minimarket ke-4 Nathan mendapatkan apa yang dia cari. Dengan wajah berseri-seri, dia yang baru masuk kedalam mobil, langsung membuka tutup botol teh tersebut. Baru minum beberapa tegak, dia sudah berhenti.
"Kenapa?" Embun mengerutkan kening.
"Gak enak." Seketika Embun langsung tepok jidat.
__ADS_1