
Embun kangen sekali momen seperti ini, memasak didapur bersama ibunya. Dulu hampir setiap hari, tapi sekarang, belum tentu bisa sebulan sekali. Dapur dirumahnya sangat sederhana, berbanding terbalik dengan dirumah Nathan. Tapi tetap saja, disini Embun merasa sangat nyaman. Memasak terasa lebih menyenangkan.
"Mas Fajar gak pernah pulang, Bu?" Embun menanyakan tentang kakak laki-lakinya yang sekarang ada di Kalimantan. Setelah menikah, dia ikut ikut pindah kerumah istrinya disana.
"Jauh Mbun, butuh biaya banyak kalau mau pulang."
"Ya tapi apa gak kangen sama Ibu?"
"Ibu sering telepon dia kok." Embun tersenyum miris. Bukan kakaknya yang telepon ibunya, tapi malah ibunya yang selalu telepon. "Dia sering nanyain nomor kamu, tapi gak ibu kasih."
"Palingan nanyain nomor Embun buat minta uang," lagi-lagi Embun hanya bisa tersenyum getir. Saat ganti nomor baru, Embun memang tak memberitahu kakaknya. Terlalu malas karena yang ada diotaknya hanya uang dan uang. Kerjaannya tak habis-habis merecoki ibu mereka hanya untuk meminta uang. Padahal ibunya hanya seorang janda yang dapat pensiunan.
"Udahlah, gitu-gitu juga mas kamu." Selalu seperti itu ibunya, tak pernah marah meski Fajar tak pernah memberi uang yang ada malah minta uang.
"Ibu ikut Embun tinggal di Jakarta aja ya? Embun sering kepikiran kalau Ibu dirumah sendirian."
"Lha terus siapa yang mau jaga rumah ini. Ini rumah peninggalan Bapakmu. Ibu harus jaga."
Embun menghela nafas sambil mematikan kompor. Sayur lodeh nangka muda bikinannya sudah matang. Dia mengambil sedikit disendok lalu menyuruh ibu mencicipinya.
"Tambah gula sedikit," ujar Bu Siti saat merasakan kuras pas manisnya.
"Rumahkan bisa dititipin sama Pak lik Bu, suruh jagain, entar Embun kasih uang." Dia mengambil gula yang ada ditoples kecil lalu menambahkan setengah sendok kedalam sayur.
"Ibu gak enak tinggal dirumah orang." Bu Siti memarinasi tempe yang handak digoreng.
"Rumah Embun, bukan rumah orang."
"Ya tetep aja, bukan rumah Ibu. Tak masalah jika anak ibu menumpang dirumah Ibu. Tapi ibu gak mau numpang dirumah anak. Sebagus apapun rumah orang, tetap nyaman dirumah sendiri."
__ADS_1
Embun kehabisan kata-kata untuk membujuk ibunya agar mau diajak tinggal di Jakarta. Tapi dia tak akan menyerah, sekarang gagal, besok akan dia bujuk lagi. Setelah memindahkan sayur lodeh keatas meja, Embun menaruh kuali diatas kompor dan bersiap menggoreng tempe.
Saat baru memasukkan beberapa potong tempe, Embun mendengar ponselnya yang ada dikamar berdering. Dia meminta ibunya menggantikan menggoreng tempe sementara dia ke kamar untuk melihat siapa yang telepon.
Ternyata Nathan melakukan video call. Tak mau membuat Nathan menunggu, Embun segera menggulir tombol hijau keatas.
"Kakak lagi dimana?" Embun melihat Nathan berada diatas ranjang. Tapi itu bukan dikamar mereka.
"Di rumah Mama. Kamu kan udah pernah tidur disini dulu, lupa ya?" Embun hanya menanggapi dengan tawa ringan. "Hari ini 4 bulanannya Navia. Pasti lupa juga lupa? Ya iyalah, sama aku aja lupa." Nathan memutar kedua bola matanya malas. Sudah 3 hari Embun ada di Malang, dan selama itu pula, selalu Nathan yang telepon duluan.
"Mulai deh," keluh Embun sambil menghela nafas berat. Semalam udah ditemenin video call sampai jam 2 malam, tapi masih aja ngeluh bilang dilupain. Embun hanya sedang menikmati quality time bersama keluarga, bukannya melupakan Nathan. Menurutnya, selama disini, lebih baik dia menggunakan waktu sabanyak mungkin untuk mengobrol dengan ibu dan temu kangen dengan beberapa saudara serta teman.
"Kenapa gak bangunin aku pagi ini?"
"Niatnya bentar lagi mau aku bangunin. Lagian ini belum jam 7." Embun melihat kearah jam dinding yang ada di kamarnya.
"Kangen Yang."
"Kangen apa?"
"Ya kangen Kakak lah."
"Oh...kirain kangen lainnya."
"Lainnya?" Embun mengerutkan kening.
"Ini." Mata Embun melotot saat Nathan menunjukkan celana kolornya yang menggembung. "Dia kangen kamu Yang." Sudah jadi kebiasaan jika bangun pagi, si itunya ikutan bangun.
"Ihh..apaan sih Kak." Wajah Embun memerah, tak menyangka jika Nathan malah menunjukkan miliknya.
__ADS_1
"Pengen Yang."
"Baru juga ditinggal 3 hari."
"Tapi udah kayak 3 tahun. Buka dong."
"Buka, buka apanya?" Nathan menunjuk dagu kearah dada Embun. "Apaan sih Kak, gak jelas deh." Tubuh Embun mendadak panas dingin saat pembicaraan makin mengarah ke yang plus plus.
"Harus gitu ya Kak?"
"Kepalaku pusing banget nih Yang, bakalan gak bisa kerja hari ini. Butuh vitamin mata."
Embun membuang nafas kasar. Bingung harus mengiyakan atau menolak. Tapi demi menjaga Nathan dari pandangan yang tak halal, Embun memenuhi kemauan suaminya. Dia mulai membuka atasannya dan menunjukkan apa yang ingin dilihat Nathan.
"Deketin dong Yang,"
Wajah Embun makin memerah. Kenapa rasanya lebih malu seperti ini daripada dilihat langsung oleh Nathan.
Ceklek
"Mbun."
Embun langsung syok saat ibunya tiba-tina masuk. Segera dia menarik bantal untuk menutupi dadanya yang polos.
"Kamu ngapain?"
"A-a, i-i, itu Bu," Embun bingung harus jawab apa.
"Buruan keluar, dicariin Johan."
__ADS_1
"I-iya Bu." Embun segera menutup panggilan dari Nathan dan memakai bajunya kembali begitu ibunya keluar.