Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
NGIDAM KEREN


__ADS_3

Embun kedapur untuk membuatkan Nathan teh jahe panas. Melihat dia yang muntah-muntah sampai pucat, kasihan juga. Habis ini pasti makannya banyak. Untung dia sudah masak yang enak-enak.


"Pagi." Sapa Nathan dengan suara renyah saat memasuki dapur. Senyuman menghiasi wajahnya yang tampak segar. Rambutnya masih terlihat basah. Pagi ini, tubuhnya seketika terasa ringan setelah Embun membantunya melepaskan sesuatu yang tertahan. Lega sekali.


Dia memeluk Embun dari belakang sambil mengecup pipinya.


"Mas, jangan gangguin dulu," Embun yang sedang mengaduk teh berusaha melepaskan belitan tangan Nathan dipinggangnya. "Aku selesaiin bikin teh jahenya."


"Berarti kalau udah selesai, boleh dong?"


"Nanti si dia malah bangun lagi," celetuk Embun.


"Kan bisa kamu bantuin lagi kayak tadi," sahutnya enteng.


"Mas," desis Embun sambil menoleh menatap Nathan dan memelototinya. Udah dibantuin sekali, malah ngelunjak, mau minta lagi.


"Habisnya enak Yang. Tangan kamu lembut, bibir ka_" Embun langsung membungkam mulut Nathan dengan telapak tangan melihat Bi Lasih datang. Jangan sampai Bi Lasih denger, bisa malu dia. Memang sih suami istri, tapi gak harus diumbarkan aktivitas seperti ini? Apalagi Bi Lasih janda. Kalau dia pengen, mau minta sama siapa coba.


Nathan melepas pelukannya saat melihat Bi Lasih. Mengambil teh jahe didepan Embun, lalu membawanya kemeja makan. Teh campur jahe yang masih panas membuat perutnya terasa hangat dan nyaman. Beberapa kali dia sendawa untuk mengeluarkan angin.


"Tumben Mas Nathan pagi-pagi minta teh jahe?" Setahu Bi Lasih, biasanya Nathan minum kopi atau teh tawar dipagi hari.


"Masuk angin Bi. Muntah-muntah tadi," sahut Embun yang sedang menyiapkan makanan kepiring untuk dibawa ke meja makan.


"Itu sih bukan masuk angin Non. Biasa itu, istrinya yang hamil, suaminya yang mual muntah. Bahkan ada juga suaminya yang ngidam."

__ADS_1


"Masak sih Bi?"


Embun jadi teringat kejadian teh rasa leci kala itu. Tak hanya itu saja, kemarin saat pulang dari periksa kandungan, Nathan teringin makan martabak yang dijual didepan pasar gede. Padahal mereka tak melewati rute itu. Meski Embun sudah memintanya untuk beli ditempat lain yang mereka lewati, dia tetap menolak. Rela menempuh perjalanan lumayan jauh hanya demi martabak.


"Yang, laper," teriakan Nathan langsung membuyarkan lamunan Embun.


"Non Embun tunggu dimeja makan saja. Biar bibi yang bawa makanannya kesana." Embun mengangguk lalu menyusul Nathan ke meja makan sambil membawa sepiring tumis bayam campur jagung.


Tak lama kemudian, Bi Lasih datang membawa makanan lainnya lalu menyusunnya diatas meja. Pagi ini menu sarapan terlihat spesial. Banyak sekali hidangan yang disajikan.


"Ayo makan," seru Embun bersemangat. Dia sudah tidak sabar untuk merasakan telur balado dan tumis bayam kesukaannya. Berdiri lalu mengambilkan nasi untuk Nathan dan meletakkan tepat didepannya.


Embun yang memang sudah lapar, segera mengambil untuk dirinya sendiri lalu buru-buru makan. Tapi baru sesuap, dia berhenti dan menatap Nathan. Pria itu belum menyentuh makanannya, bahkan belum mengambil lauk apapun.


"Kenapa Mas? Ini aku loh yang masak. Biasanya kamu sukakan sama masakan aku?"


"Tadi katanya lapar?"


"Entahlah, tiba-tiba aja pengen makan gado-gado." Embun berdecak pelan sambil menepuk jidat. Ini mah fix, suaminya ngidam. Kalau saja tadi Bi Lasih tidak memberitahunya tentang ini, dia pasti udah ngereok karena Nathan tak mau makan masakannya. Tapi karena sudah tahu, dia hanya bisa menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Membuang pelan-pelan rasa dongkol didadanya.


Sabar Mbun, Nathan gak mau makan, masih ada kamu dan Bi Lasih yang siap menghabiskan. Meski lelahmu tak membuahkan hasil, tapi seenggaknya membuahkan pahala.


"Aku DO in buat kamu ya," Embun mengambil ponsel yang ada dikamar lalu membuka aplikasi pesan makanan. Tapi karena masih pagi, belum ada warung gado-gado yang buka. "Belum ada yang buka Mas." Ujarnya sambil terus menscroll layar ponselnya.


"Bi, buatin aku gado-gado dong," teriak Nathan.

__ADS_1


"Mas, aku sama Bi Lasih baru aja selesai masak, masih capek. Kasihan kalau dia kamu suruh lagi. Nanti aja kenapa sih, nunggu warungnya buka."


"Tapi aku pengennya sekarang."


Embun mengelus dada. Tadi udah mencoba untuk sabar, tapi sekarang udah mulai dongkol lagi. Tak bisa apa, sabar beberapa jam lagi?


Bi Lasih yang tadi mendengar teriakan Nathan langsung menghampirinya ke meja makan.


"Udah Bi gak usah. Aku ajak Mas Nathan keluar aja nyari gado-gado sekalian belanja. Lagian mau bikin gado-gado juga gak ada bahannya. Isi kulkas hampir kosong." Embun tak tega harus membuat Bi Lasih kembali repot. Seengaknya biar wanita itu sarapan dulu. Selain masak, Bi Lasih juga harus bersih-bersih, kalau disuruh masak terus, kapan megang kerjaan lainnya. "Bibi kembali aja ke dapur, sarapan dulu." Setelah Bi Lasih pergi, Embun menatap Nathan tajam. "Kamu makan dulu apa yang ada Mas, setelah itu kita nyari gado-gado."


Melihat raut wajah Embun yang tampak kesal, Nathan tak berani menolak. Dia memakan apa yang ada saja meski tak selera. Tapi saat makanan itu masuk kedalam mulut, ternyata enak juga. Dan dengan tak tahu malunya malah nambah, padahal tadi sok bilang gak selera.


Selesai sarapan, mereka berdua masuk kedalam kamae untuk bersiap-siap belanja ke supermarket. Nathan sengaja tak datang kekantor sebagai bentuk permintaan maafnya pada Embun karena beberapa hari ini tak meluangkan waktu untuknya.


"Mas," panggil Embun manja sambil mendekati Nathan yang hendak memakai kaos. Mendapatkan sentuhan tangan Embun didada telanjangnya, seketika membuat tubuhnya meremang. "Aku lagi ngidam nih."


"Ngidam?" Nathan mengerutkan kening sambil memegang tangan Embun agar tak nakal kemana mana. "Ngidam apa?"


"Kamu bilang hari itu, ngidamnya harus kerenkan?"


Nathan mengangguk sambil tersenyum absurd. Perasaannya mendadak tak karuan. Semoga saja ngidamnya masih masuk akal dan gak bikin dia pusing tujuh keliling. "Pengen apa?" tannyanya sedikit ragu.


"Em....pengen pizza."


Nathan seketika menghembuskan nafas lega setelah sesaat yang lalu dibuat deg degan dengan ngidam yang katanya keren itu. Ternyata hanya pizza.

__ADS_1


"Pengen makan pizza sambil naik gondola di Venesia."


"WHAT!" Kedua mata Nathan langsung terbeliak lebar. Ternyata setelah kata pizza, masih ada terusannya yang bikin dia langsung melongo.


__ADS_2