
Mendekati waktu acara, makin banyak tamu yang hadir. Nathan sebagai kakak dari Navia tentu ikut menyambut tamu. Tapi tak pernah sekalipun dia melepas tangan Embun. Kemanapun dia berjalan, tangan Embun akan selalu ada dalam genggamannya. Begitupun saat ini, saat dia sedang mengobrol dengan salah satu teman almarhum papanya sekaligus koleganya.
"Kak," Embun berbisik didekat telinga Nathan. "Aku kedalam aja ya, bantu bantu disana."
"Tetap disini bersamaku," Nathan makin mengeratkan genggaman tangan mereka. Hanya dengan cara ini dia bisa tenang. Jauh dari Embun, hanya akan membuatnya kepikiran tentang wanita itu. Takut jika lagi-lagi, akan ada yang bertanya soal anak.
Sementara yang dilantai bawah sedang asyik becanda, mengobrol serta beberapa orang terlihat sibuk foto-foto, si pemilik acara malah sebaliknya. Rama sedang ribut besar dengan Navia dikamar.
"Jangan menyangkal lagi Nav. Ini sudah menjadi bukti perselingkuhan kamu." Rama mengangkat ponsel Navia. Ponsel yang beberapa saat lalu dia rebut paksa saat siempunya ponsel sedang dimake up. Rama pikir, hanya dengan cara itu dia bisa tahu dengan siapa Navia sering chatingan. Rama bisa membaca semua isi chat Navia karena ponsel belum terkunci secara otomatis. Dan ternyata dugaan Rama benar, Navia ada main hati dengan pria lain, terbukti dari chat mesranya dengan kontak bernama Rian.
"Kenapa kamu melakukan ini Navia, kenapa?" tanya Rama dengan nada tinggi sambil mencengkeram sebelah bahu Navia.
"Kau tanya kenapa Mas. Bagaimana jika aku balikkan pertanyaannya, kenapa kamu selingkuh dengan Embun?" teriak Navia. "Kamu yang mulai Mas, bukan aku."
Prakkk
__ADS_1
Rama membanting ponsel Navia yang ada ditangannya. Dia berteriak frustasi sambil menendang kaki ranjang.
"Jadi kau ingin balas dendam hah? Apa kau sudah puas sekarang?" Rama merasakan sakit luar biasa. Disaat dia mati-matian melupakan Embun dan belajar mencintai Navia, Navia malah mengkhianatinya. "Puas kamu Nav?" Rama yang tengah naik darah mencengkeram lengan Navia dengan sangat kuat.
"Sakit Mas, lepas," Navia terus berontak.
"Sebentar lagi kau akan jadi ibu Navia," Rama menatap nanar perut Navia sambil melepaskan cengkeraman tangannya. Dia tak menyangka jika dalam keadaan perut sebesar ini, Navia masih bisa selingkuh. Tak habis pikir dengan pria bernama Rian itu, sudah tahu Navia punya suami dan sekarang sedang hamil besar, masih mau maunya dia dengan Navia. "Sudah sejauh mana hubungan kalian?" tanya Rama dengan mata berkaca-kaca.
"Sebaiknya kita keluar Mas, acara mau dimulai," Navia sengaja ingin berhenti membahas ini. Dia tak mau ada yang mendengar pertengkarannya dengan Rama. Hari ini hari istimewa mereka, jangan sampai rusak karena pertengkarang ini.
"Tak sejauh itu."
"Bohong," teriak Rama. "Aku membaca sendiri chat pria itu, dia menunggumu di hotel de sunrise. Aku bukan orang bodoh Navia," Rama mencengkeram kedua bahu Navia dengan kuat. "Seorang pria dan wanita bertemu dihotel, menurutmu apa yang mereka lakukan?"
"Sakit Mas, lepas," Navia berusaha berontak.
__ADS_1
"Katakan dulu, kalian sudah tidur bersama?" Dada Rama terasa seperti tertimpa sesuatu yang berat. Ini sangat menyakitkan. Dia memang pernah selingkuh dengan Embun, tapi tak sampai sejauh ini, sampai tidur bersama. "KATAKAN!"
"Tidak," sahut Navia sambil menggeleng cepat. Air matanya jatuh bercucuran.
"Pembohong." Rama melepaskan bahu Navia lalu keluar dari kamar. Dia menyeka air matanya lalu berjalan cepat menuruni tangga. Sesampainya dibawah, dia berhenti karena beberapa orang mencegatnya untuk memberi selamat.
"Ini nih, calon bapaknya udah turun," ujar Pak Bambang, rekan sesama manager. "Selamat ya Bro." Rama tersenyum getir. Selamata? Pantaskah saat ini, dia diberi selamat. Apakah selamat untuk kehancuran rumah tangganya?
"Kira-kira boy or girl nih, kita ikutan kepo," Dimas ikut menimpali.
"Kamu sendiri, laki apa perempuan? Si Cindy juga udah gede perutnya.Ya, meskipun baru beberapa bulan nikah," celoteh Ana, sekretaris Rama yang kebetulan ada dibelakang Dimas. Dan sialnya, Dimas tak tahu itu, jadi malu kan.
"Eh, bumilnya udah keluar nih," kata Ana yang melihat Navia keluar.
Rama menoleh kebelakang. Nafasnya kembali memburu dan rahangnya mengeras melihat Navia. Saat tatapan mata mereka beradu, Rama langsung memalingkah wajah. Ingin sekali Rama pergi dari sini untuk sekedar menenangkan diri, tapi dia tak mau jadi bahan permbicaraan jika acara ini sampai berantakan. Kali ini, dia mati-matian menekan egonya, tak ingin kembali menjadi bahan gosip setelah dulu skandal perselingkuhan dengan Embun menjadi tranding topik di kantor.
__ADS_1