Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
HADIAH PERNIKAHAN


__ADS_3

Nathan benar-benar sibuk, sesampainya dirumah, dia hanya punya waktu untuk mandi dan siap-siap. Sebentarpun, tak ada waktu untuk istirahat, sampai-sampai, Embun merasa kasihan.


"Kakak pasti capek banget. Baru juga sampai, udah harus berangkat kerja,"ujar Embun sembari membantu Nathan mengancingkan kemeja.


"Yang penting nanti malam dikasih 10 ronde udah deh," sahutnya santai sambil menoel hidung mancung Embun.


"Yang ada makin capek."


"Enggak, aku tuh makin semangat kalau udah dapat jatah." Embun seketika tertawa jumawa.


"Udah yakinkan sekarang, surganya suami ada pada istri. Sekali pintu surganya ditutup, puyeng puyeng deh itu kepala," kelakar Embun.


"Terserah kamulah, asal jangan nutup pintu surgaku aja." Nathan mencium bibir Embun begitu wanita itu selesai membantunya berpakaian. "Udah gak usah nganterin aku kedepan, kamu istirahat aja. Biar nanti malem kuat dihajar 10 ronde," lanjutnya sambil mengedipkan sebelah mata.


"Terserah Kakak, aku pasrah aja." Embun mencium punggung tangan Nathan dan langsung dibalas dengan kecupan dikening oleh pria tersebut.


Bagitu Nathan pergi, Embun langsung membongkar kopernya. Untung kemarin pas jalan-jalan, dia sempat beliin Mama Salma dan Navia oleh-oleh, kalau enggak, pasti gak ada waktu karena kepulangannya sangat mendadak.


Embun membongkar kopernya serta milik Nathan, tapi barang yang dia cari masih tak ketemu. Apalagi kalau bukan kering kentang titipan ibunya Rama.


"Perasaan aku masukin ke koper ini deh," Embun bermonolog sambil mengeluarkan seluruh isi koper miliknya. Tapi nihil, tidak dia temukan makanan kesukaannya dan Rama tersebut.


Tok tok tok


"Masuk Bi," sahut Embun dari dalam. Sekarang dia dan Nathan tak lagi tinggal berdua, karena sudah ada Bi Lasih, ART baru yang sudah mulai kerja sejak Embun pulang kampung.


"Nona, mau bibi masakin apa buat makan siang? Tadi Mas Nathan pesen sama saya supaya masakin dan mastiin Non Embun makan." Embun langsung terkekeh. Dikira dia bocil apa, sampai harus mastiin dia makan segala.


"Bibi bisa buat kering kentang gak?"


"Bisa Non."


"Ya udah bikinin itu aja yang pedes. Sama sayur terserah Bibi."


"Baik Non," sahut wanita berumur 40-an tersebut. "Oh iya, Nona ada alergi lain selain udang?"


"Kok Bibi tahu saya alergi udang?"


"Mas Nathan yang kasih tahu. Dia juga ngasih tahu kalau Nona gak suka yang terlalu manis. Suka yang asem dan pedes. Suka ayam goreng krispi, es krim, dan sambel pencit. Jijik sama cicak, tikus dan ulet." Lagi-lagi, Embun tak bisa menahan senyuman. Seperhatian itu Nathan padanya, sampai menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dia suka dan tidak pada ART baru.

__ADS_1


"Terus apa lagi yang Kak Nathan pesen?" Embun jadi kepo.


"Mas Nathan pesen, kalau masak jangan terlalu pedes meski Nona suka. Dia tak mau Nona sampai sakit. Selain itu, Non Embun gak boleh capek capek. Dan masih banyak lagi pesennya, sampai saya lupa. Pokoknya Mas Nathan itu suami idaman banget. Beruntung pokoknya Non Embun dapat suami kayak Mas Nathan." Embunq langsung senyum senyum sendiri. Hatinya melting gegara perhatian Nathan. Ahh... dia jadi kangen meski baru saja suaminya itu berangkat.


Begitu Bi Lasih keluar, Embun mengambil ponselnya didalam tas lalu mengirum chat pada Nathan.


[ Love you my Hubby. Setelah kerja langsung pulang, aku kangen. Nanti malam aku bonusin 1 ronde buat suami tercinta ( Emot love sekebon) ]


Sesampainya dikantor, Nathan cekikikan melihat pesan dari Embun. Kerasukan apa istrinya itu hingga se sweet ini. Kirim chat disertai emot love sekebon.


"Meetingnya udah mau dimulai Pak," panggil Anisa.


"Iya bentar." Nathan menyempatkan membalas pesan Embun.


[ Lebay ]


Dirumah, Embun langsung mencak-mencak membaca balasan chat dari Nathan. Udah dikirimin chat romantis malah dikira lebay.


...----------------...


Embun merias wajahnya didepan cermin. Barusan Nathan menelepon jika dia akan segera pulang dan mereka akan langsung ke nikahannya Dimas dan Cindy. Embun yakin jika orang-orang kantor pasti sudah tahu siapa dia setelah status yang dibuat Nathan. Beberapa saat tadi saja, banyak dari temannya didivisi lama yang menanyakan tentang kebenaran kabar itu.


Selesai minum, Nathan iseng membuka tudung saji. Alangkah kagetnya dia saat mendapati kering kentang diatas meja makan.


"Bukannya tadi sudah aku buang, kenapa bisa ada disini?"


"Pantesan ilang, jadi udah Kakak buang?"


Nathan langsung menoleh mendengar teriakan Embun. Astaga, bisa bisanya dia sampai tak tahu jika Embun datang. Pakai ngomong dia buang lagi. Padahal tadi saat dibandara, udah sembunyi sembunyi buangnya.


Akhirnya Embun paham, kenapa setelah membongkar 2 buah koper, dia tak menemukan kering kentang titipan Ibu Rama, ternyata Nathan sudah membuangnya saat masih di bandara Abdul Rahman Saleh.


"Itu titipan, kenapa Kakak buang?" tanya Embun sambil menarik kesal lengan jas yang dipakai Nathan.


"Aku gak suka sama apapun yang menjadi kenangan buat kamu sama Rama. Aku gak suka, sama apapun yang bisa mengingatkan cinta kalian yang 10 tahun itu."


"Ya tapi itu titipan Kak, amanah," tekan Embun sambil menatap Nathan. "Kakak ngerti gak sih, apa itu amanah?" kali ini, dia sungguh tak habis pikir. Apa masuk akal cemburu pada kering kentang?


"Aku bilang gak suka ya gak suka, titik, gak pakai koma."

__ADS_1


Embun menghela nafas berat, bingung harus ngomong apa kalau Rama atau ibunya tanya.


"Nanti biar aku yang ngomong sama Rama, gak usah terlalu dipikirin. Kamu udah siap, kita harus segera ke nikahannya Dimas."


"Bentar, aku ganti baju dulu." Embun memilih tak memperpanjang urusan ini. Keduanya lalu masuk kedalam kamar untuk ganti baju lalu berangkat ke rumah Cindy.


Pernikahan Cindy dan Dimas hanya digelar secara sederhana dirumah Cindy. Tak ada tenda atau apapun karena hanya diadakan didalam rumah dan teras. Tentu saja karena semua serba dadakan. Sebenarnya rumah Cindy tak terlalu jauh dari kantor. Tapi wanita itu lebih memilih tinggal dikos biar bisa bebas. Alhasil malah kebablasan sampai hamil. Untung Dimas mau tanggung jawab.


Beberapa tamu yang rata-rata karyawan diperusahaan tersenyum dan mengangguk sopan pada Embun dan Nathan. Embun sedikit gugup, ini untuk pertama kalinya, dirinya dipandang sebagai istri bos. Tangannya tak pernah lepas dari lengan Nathan.


"Udah kenalkan sama istri saya?" tanya Nathan pada segerombolan orang yang baru saja menyapanya.


"Udah Pak," sahut beberapa orang sambil mengangguk.


"Sore Bu Embun," sapa mereka sambil tersenyum ramah, beda sekali dengan dulu yang selalu mencibirnya disaat panas panasnya skandalnya dengan Rama.


"Tahukan, seperti apa nanti harus bersikap istri saya?" tanya Nathan sambil menoleh pada Embun.


"Ta-tahu Pak."


"Bagus," ujar Nathan sambil menepuk bahu salah satu dari mereka.


Setelah itu, dia menghampiri Dimas dan Cindy yang ada dipelaminan minimalis yang sangat sederhana. Hanya sofa yang dibelakangnya diberi hiasan.


"Selamat ya," Nathan menyalami Dimas. Sementara Embun, dia menyalami Cindy sambil cipika cipiki.


"Makasih Pak Nathan dan Bu Embun mau datang," ujar Dimas.


"Saya ada sesuatu buat kamu." Nathan mengelurkan sesuatu dari kantong jasnya. "Paket babymoon ke Bali."


Huk huk huk


Seseorang yang tak sengaja mendengar langsung terdesak minuman. Dan beberapa orang lainnya, langsung menatap ke arah Cindy, lebih tepatnya kearah perutnya.


Wajah Cindy merah padam, dia sangat malu sekali karena ketahauan udah isi lebih dulu..


"Kak Nathan," Embun menarik lengan Nathan sambil memelototinya. Tak suka dengan apa yang barusan suaminya itu lakukan.


"Biar dia tahu, seperti apa rasanya malu. Dan biar kedepannya, dia mikir panjang dulu sebelum mempermalukan orang." Nathan hanya ingin membalas apa yang dulu Cindy lalukan pada Embun.

__ADS_1


__ADS_2