Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
BUKANNYA SUDAH MANDI?


__ADS_3

"Kiss me," Embun hanya memutar bola mataya malas, sama sekali tak berniat mencium Nathan. Enak saja, habis marah-marah, bahkan sampai berlaku kasar, eh...serakang tiba-tiba minta cium.


Sejujurnya dia tak marah pada Nathan, hanya kesal saja. Mudah sekali marah, gak mau cari tahu lebih dulu. Kalau dia langsung melunak begitu saja, takutnya Nathan akan kembali melakukan hal yang sama seperti tadi saat marah.


Karena Embun tak kunjung mau menciumnya, Nathan jadi tak sabaran. Dia mempererat rengkuhannya dipinggang Embun lalu menciumnya. Tak lama, dia melepaskan pagutan bibirnya.


"Kok diam aja, gak bales?"


"Aku ngantuk, mau tidur," Embun melepaskan lengan Nathan yang membelit pinggangnya lalu berbaring memunggungi pria itu.


Nathan ikut rebahan disebelah Embun sambil memeluk pinggangnya dari belakang. Berkali kali mengucap maaf didekat telinga Embun sampai wanita itu risih.


"Diem!" pekik Embun tertahan. Telinganya sampai panas mendengar Nathan puluhan bahkan ratusan kali bilang maaf. Embun membalikan badan sambil membuang nafas dan memelototi Nathan. Tapi yang dipelototin, alih alih takut, malah tertawa. "Ada yang lucu?" tanyanya dengan wajah serius.


Melihat itu, seketika Nathan terdiam. Saat ini, Embun tidak sedang berada dalam mode santai apalagi becanda. Jelas sekali, wajahnya menunjukkan mode serius setengah marah.


"Aku minta maaf."


"Cuma minta maaf doang?"


"Aku janji gak akan ngulangin."


"Gak akan ngulangi?" Embun mengulang kalimat Nathan sambil tersenyum kecut. "Padahal yang barusan itu, pengulangan loh. Belum lupakan, kalau tadi sore, kamu bentak-bentak aku?" Nathan terdiam dengan rasa bersalah. "Dan barusan, kamu ngulangin lagi, bahkan lebih parah." tekan Embun.


"Masih sakit?" Nathan menyentuh bahu Embun tapi langsung ditepis oleh wanita itu.


"Menurut Kakak?" Melihat mata Embun yang berkaca-kaca, Nathan langsung memeluknya, mengusap punggung dan rambutnya serta mencium puncak kepalanya berkali kali.

__ADS_1


"Aku janji gak akan mengulangi lagi. Aku terlalu cemburu tadi."


Embun melepaskan pelukan Nathan lalu mendongak menatap wajahnya. "Lain kali, kalau ada apa-apa itu tanya, jangan langsung marah-marah, apalagi sampai bentak-bentak dan main kasar kayak tadi."


"Iya, aku salah, aku salah." Nathan menghujani wajah Embun dengan kecupan. "Aku tadi udah nyoba telepon kamu berkali-kali, mau tanya tentang siapa itu Johan, tapi gak diangkat."


"Aku tadi ke rumah Johan gak bawa HP." Embun menyesal, kalau saja dia bawa hp, gak akan terjadi kesalah pahaman kayak gini. "Pas aku lihat banyak misscall dari kamu, aku langsung telepon balik, tapi ternyata Mama yang jawab. Oh iya, Kakak kenapa langsung ngira Johan mantan aku?"


Nathan seketika berdecak pelan. "Semua ini gara-gara Rama, nyesel aku tanya ke dia kau taunya dibohongin kayak gini." sahutnya dengan bersungut sungut.


"Masak sih, Rama bilang kalau Johan mantanku?" Embun rasanya tak percaya seorang Rama berani membohongi Nathan.


"Kamu gak percaya sama aku? Gak percaya kalau Rama bilang gitu?" Embun tersenyum absurd sambil garuk garuk kepala. "Nanti pas kita pulang ke Jakarta, kita tanya dia sama-sama." Dan kali ini, Embun hanya menanggapi dengan anggukan kepala. "Aku kangen yang," Nathan mulai jurus dusel dusel. Membombardir wajah, leher, hingga dada Embun dengan kecupan. Lengannya memegangi pinggang Embun, membuat wanita itu tak bisa bergerak untuk menghindar sebentar saja.


Nathan membalikkan badan, mengungkung Embun lalu mencium bibirnya dengan rakus. Kali ini, Embun membalas, karena sebenarnya, dia juga sangat merindukan sentuhan Nathan. Mereka hanya berhenti untuk mengambil nafas lalu kembali berciuman, lagi dan lagi. Entah siapa yang mulai duluan, keduanya sudah sama-sama polos sekarang.


Cuaca kota Malang yang dingin, menambah semangat keduanya untuk saling menghangatkan. Jika biasanya setiap hari terasa enak, setelah puasa 3 hari, ternyata jauhhhh...lebih enak. Sampai Embun terpaksa menutup mulutnya dengan bantal agar suara syahdunya tak sampai terdengar kekamar ibunya yang berada tepat disebelah kamarnya.


Setelah 2 ronde, Nathan benar-benar terkapar. Letih sekali karena baru saja menempuh perjalanan, harus olah raga sampai berkeringat seluruh tubuh. Sambil memeluk Embun, Nathan langsung tertidur nyenyak.


...----------------...


Bunyi spatula yang beradu dengan wajan sama sekali tak mengganggu tidur Nathan. Padahal jarak antara dapur dan kamar lumayan dekat. Mungkin karena Nathan terlalu nyenyak tidurnya.


"Mbun, kamu ke pasar sana. Belanja daging, ikan dan apa aja yang enak-enak. Masa iya, hidangannya cuma ayam goreng dan oseng tempe aja. Gak enak ibu sama Nathan." Titah Bu Siti yang sedang sibuk memasak oseng tempe campur teri.


"Kan sayur nangkanya masih ada Bu."

__ADS_1


"Jangan becanda kamu. Masa bos kamu suruh makan sayur nangka 2 hari yang lalu. Mbok yo mikir dulu kalau mau ngomong. Jangan bikin malu ibu...." Bu Siti terus mengomeli Embun yang sedang menggoreng ayam.


"Iya, Embun kepasar setelah ini." Baru setelah itu, Bu Siti berhenti ngomel. Embun sampai heran, dia pulang rasanya tak seheboh ini, eh...giliran si mantu pulang, kok ribet banget.


Selesai goreng ayam, Embun kembali ke kamar untuk ganti baju. Dilihatnya Nathan masih tertidur pulas. Dikecupnya kening sang suami lalu mengambil baju dialmari.


Embun dibuat kaget saat tiba-tiba dipeluk dari belakang. Kapan bangunnya, perasaan tadi masih tidur. Dan tunggu, apa ini, kenapa ada yang keras menempel dipantatnya?


"Kamu kenapa pagi-pagi udah godain aku sih yang?" tanya Nathan dengan suara serak, khas bangun tidur.


Embun melotot, dia baru sadar jika saat ini hanya memakai dalaman karena belum sempat ganti.


"Aku pikir Kakak masih tidur."


"Aku kebangun pas kamu buka pintu tadi."


Astaga, jadi dia tahu kalau aku diam diam nyium keningnya tadi.


"Sebenarnya masih ngantuk, tapi kamu malah godain kayak gini." Nathan membalikkan badan Embun lalu mengangkatnya menuju ranjang.


Setengah jam kemudian, dengan tubuh yang terasa remuk, Embun berjalan menuju kamar mandi.


"Loh, udah pulang dari pasar? Mana belanjaannya?" todong Bu Siti yang kebetulan masih ada didapur.


"Belum Bu, masih mau mandi."


"Mandi? Bukannya udah mandi? Perasaan tadi pas masak rambut masih basah, kok mau mandi lagi?"

__ADS_1


Embun hampir saja menangis karena malu setengah mati. Tak bisa menjawab, segera saja dia masuk kedalam kamar mandi.


__ADS_2