
Sepulang dari rumah Cindy, Nathan dan Embun mampir kesebuah taman yang cukup ramai saat malam seperti ini. Sebenarnya Nathan lelah, tapi demi Embun yang katanya pengen corndog, dia iyakan saja permintaannya.
Saat ini, dia sedang duduk disebuah bangku panjang, menunggu Embun yang sedang antri membeli corndog. Beberapa kali, Embun menoleh padanya dan tersenyum. Sumpah demi apapun, hanya disenyumin saja, dia sudah sangat bahagia. Bahkan sudah bisa membuat rasa lelahnya seketika berkurang.
Embun berlari kecil ketempat Nathan dengan sebungkus corndog ditangannya. Rambutnya yang bergerak karena lari serta hembusan angin, membuat Nathan tak mampu berpaling, cantik.
"Lama ya?" Dengan senyum yang masih menghiasi bibir, Embun duduk disebelah Nathan. Membuka mika pembungkus corndog dengan tidak sabaran hingga saos dan mayo yang ada diatas corndog mengotori tangannya.
Nathan membuka tas Embun yang ada disebelahnya lalu mengambil tisu dari sana. "Sini aku bersihin," ditariknya lembut jemari tangan Embun yang terkena saos lalu dia seka dengan tisu.
"Em....so sweet banget sih Pak Su," puji Embun sambil memanyunkan wajahnya menatap Nathan.
Nathan tersenyum, mencolek sedikit saus diatas corndog lalu mengolesnya ke hidung Embun.
"Ish...hidung aku kan kotor jadinya." Embun hendak membersihkan hidung tapi tangannya ditahan oleh Nathan. Pria itu membersihkan hidung yang beberapa saat lalu dia sendiri yang mengotori. Dasar gak jelas, batin Embun.
Embun mulai memakan corndognya, beberapa kali menawari Nathan tapi pria itu menolak dengan alasan sudah kenyang.
Nathan menyandarkan kepalanya dibahu Embun sambil memejamkan mata. Semilir angin membuat dia makin ngantuk.
"Ngantuk ya?"
__ADS_1
"Hem," sahut Nathan dengan mata yang tetap tertutup.
"Ya udah kita pulang kalau gitu."
"Habisin dulu makanannya." Embun mengangguk lalu melanjutkan makan. Dia memperhatikan anak anak yang sedang asyik bermain ditaman. Senyumnya merekah, dia rindu bermain dan bercengkerama dengan anak-anak.
"Kak."
"Hem."
"Aku ingin jadi guru lagi." Nathan membuka mata sembari mengangkat kepalanya dari bahu Embun. "Kalau boleh jujur, aku tak begitu suka kerja kantoran, aku lebih suka jadi guru. Aku suka anak-anak. Aku rindu melihat murid-muridku mendatangiku dengan senyuman mereka yang lebar. Datang hanya untuk sekedar menyapa atau mencium tangan. Aku suka momen saat aku berhasil membuat muridku memahami pelajaran. Bahkan aku juga suka saat mereka berkeluh kesah, dan aku berhasil membuat mereka tertawa kembali. Aku rindu saat saat seperti itu." Mata Embun berkaca-kaca, teringat kembali saat dia masih menjadi guru. Meski hanya guru honorer dengan gaji rendah, tapi Embun menyukai profesi itu. Dan menjadi guru, adalah cita-citanya sejak kecil.
Nathan merangkul bahu Embun, menyandarkan kepala wanita itu didadanya. "Aku dukung pekerjaan apapun yang membuatmu nyaman dan bahagia kala menjalaninya. Aku tak keberatan sama sekali kamu jadi guru lagi, asal,"
"Asal jangan jadi guru SMA, takut muridnya naksir kamu." Embun langsung tergelak. "Usiaku bentar lagi udah 28, mana mau anak SMA sama aku."
"Mau 28, tapi masih kayak 18, masih imut," Nathan mencubit gemas pipi Embun. Pipi yang terlihat menggemaskan apalagi saat sipemilik pipi sedang malu malu kucing, warnanya seketika bersemu merah.
"Seorang Nathan, cemburu sama anak SMA? Astaga, memalukan sekali," cibir Embun.
Nathan tergelak diejek seperti itu. Tapi bagaimapun, itulah faktanya, dia adalah seorang pencemburu. Jangankan sama anak SMA, sama Johan bocah SD dan kering kentang aja, dia cemburu.
__ADS_1
Melihat Embun yang tampak kedinginan, Nathan melepas jasnya lalu memakaikannya pada Embun. Tiba-tiba, dia terkekeh pelan.
"Ada apa?" tanya Embun yang heran kenapa Nathan tiba-tiba tertawa.
"Mungkin nanti saat anak kita 3, kamu akan seperti ibu itu." Nathan menunjuk ibu ibu yang sedang menggendong seorang bayi dan menuntun seorang balita. Tak hanya itu, dibelakangnya terlihat seorang anak memegangi gamisnya. Ibu itu tampak kerepotan karena selain menggendong dan menuntun, dia juga masih membawa kantong keresek.
"Aku gak mau seperti itu."
"Gak mau?" Nathan mengerutkan kening. "Kamu gak mau punya anak 3, padahal aku ingin punya banyak anak."
Embun menggeleng. "Bukan itu maksudku."
"Lalu?"
"Aku suruh bapaknya yang momong. Enak aja 3 anak disuruh ngintil aku semua, lha bapaknya buat apa? Masa bapaknya cuma mau ikut buatnya aja, tapi gak mau ikut ngerawat, enak sekali." Nathan terkekeh melihat Embun bersungut-sungut.
"Iya-iya, nanti aku ikutan gerawat. Tapi kalau gitu, gak jadi 3 deh, tapi 6. Bukankah banyak anak banyak rezeki." Embun langsung melotot. Dikiran enak apa punya banyak anak. Iya Nathan enak, tinggal buat aja, lha dia, dia harus ngelahirin.
"Kamu aja yang hamil dan lahiran kalau minta 6."
"Becanda sayang," Nathan tergelak, meraih tangan Embun lalu menciumnya.
__ADS_1
"Oh iya, kamu tadi kok ngomong gitu sih Kak sama Cindy, kasihan tahu dia. Wajahnya langsung pucet."
"Biarin aja, sesekali dia harus dikasih pelajaran. Itu tadi juga peringatan buat yang lain, biar semua orang gak berani macam-macam lagi sama kamu, apalagi sampai bikin kamu sakit hati. Aku gak rela Yang, gak rela lahir batin kalau ada yang bikin kamu sakit hati." Wanita mana yang gak melting mendengar ucapan seperti itu. Begitupun Embun, hatinya langsung meleleh, dan sebuah kecupan langsung dia daratkan dikening Nathan.