Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
USAI


__ADS_3

Embun menatap Nathan, tapi yang ditatap malah garuk garuk tengkuk, bersikap seolah tak terjadi apa-apa maski barusan dia telah menodai mata anak dibawah umur.


"Ang-anggap saja kamu gak lihat apa-apa tadi," Embun memperingatkan Adli. Dia tak mau kejadian tadi tersebar dan membuatnya diejek seantero keluarga.


"1 juta." Mata Embun langsung melotot mendengar Adli mencoba memerasnya.


"Kau gila, 100 ribu," tawar Embun.


"999."


"199."


Nathan menatap Embun dan Adli bergantian. Dia sama sekali tak paham apa yang mereka bicarakan. Dalam hati, dia menebak nebak, apa yang sebenarnya 2 orang itu perdebatkan, kenapa sejak tadi yang disebutkan hanya angka?


"900 deal."


"200 deal."


Melihat Bu Siti masuk kedapur, Adli langsung tersenyum penuh arti.


"Bude, tadi Mbak Embun ci_"


"500," potong Embun cepat. Sumpah demi apapun, dia tak mau ibunya tahu. Mau ditaruh mana mukanya, malu banget. Udah barusan ketahuan mandi 2x, masih mau ditambah ciuman didapur. Astaga, yang ada entar dia dikira maniak.


"Kenapa tadi Mbakmu?" tanya Bu Siti.


"Ciii_"


"1 juta,"


Adli seketika tersenyum sangat lebar. Ada untungnya juga hari ini dia main kerumah Embun. Udah dapat 100 ribu dari nyikat kamar mandi, masih lagi ditambah 1 juta. Mimpi apa dia semalam.


"Ci apa?" ternyata Bu Siti masih membahasnya karena penasaran.


"Cii, cii, ciptratin Adli air. Gak tahu terimakasih banget, padahal Adli udah mau bantuin nyikat kamar mandi."


"Halah kamu kok bantuin? Palingan juga ada uangnya, kalau enggak mana mau," Bu Siti mencebikkan bibir. Dia sudah sangat hafal perangai ponakanya itu.


Bu Siti melihat kearah Nathan yang sedang duduk dikursi makan. Terlihat tudung saja masih tertutup dan belum tampak ada piring berisi makanan didepan Nathan. "Mbun, itu suami kamu kok belum diambilin makan?"


"Astaga, iya Bu." Embun segera mendekati Nathan lalu membuka tudung saji yang berukuran lumayan besar. Disana ada banyak sekali jenis lauk yang tampak enak-enak, sampai Nathan langsung lapar. Belum lagi bau rendang diatas kompor yang menggoda iman.


Embun mengambilkan nasi dari magigcom lalu meletakkan didepan Nathan.


"Kok cuma sepiring, kamu dan Ibu gak makan?"

__ADS_1


"Aku dan ibu udah makan tadi."


"Aku belum," Adli yang ada di kamar mandi ikut menyahuti.


"Gak nanyak," sahut Embun ketus.


"Aku ngasih tahu."


"Udah-udah, kalian ini apa-apaan sih. Malu tau gak sama Nathan," Bu Siti menengahi. "Nak Nathan, makan yang banyak, gak usah sungkan. Anggap rumah sendiri."


Didalam kamar mandi, Adli langsung tertawa ngakak. "Ya gak mau lah Bu De. Orang rumahnya Mas Nathan bagus. Mana mau nganggap rumah ini rumahnya."


Nathan menahan tawa, sementara Bu Siti, langsung menghampiri Adli dikamar mandi dan menjewer telinganya.


...----------------...


Setelah Nathan selesai makan dan mandi, Embun mengajaknya berjalan jalan keliling Malang menggunakan motor matic milik Adli yang baru kredit beberapa bulan yang lalu. Kapan lagi coba bisa pacaran halal dikampung halaman kayak gini. Boncengan diatas motor sambil pelukan ala Dilan dan Milea. Mengobrol sepanjang jalan meski terkadang harus sedikit teriak ngomongnya.


Embun tampak sangat antusias untuk mengenalkan kampung halamannya pada sang suami. Mulai dari menunjukkan sekolah, kampus tempat dia kuliah dulu, mall, sampai alun-alun. Sebenarnya pengen ngajak ke sumber maron sesuai permintaan reader, sayangnya Embun capek banget.


Dan sore ini, mereka istirahat sambil ngemil cilok dan jasuke dialun-alun kota Malang.


"Aku tuh sejak dulu suka banget ke alun-alun, soalnya gratis. Selain itu, banyak burung merpati yang bikin enak dipandang mata."


"Emang kalau iya kenapa sih?" Embun bergelayut manja dilengan Nathan. Memberi senyuman termanisnya dengan harapan Nathan tak mempermasalahkan tempat ini.


"Pulang yuk," Nathan langsung berdiri dengan wajah masam.


"Yaelah, gitu aja langsung ngajak pulang. Sore-sore paling enak disini. Udah duduk dulu." Embun menarik lengan Nathan agar kembali duduk dibangku panjang yang dia duduki. "Jangan cemberut dong." Embun menarik gemas hidung mancung Nathan.


"Bukannya aku cemburu, tapi males aja nemenin kamu yang lagi menapaki jejak cinta kalian disini." Sahut Nathan sambil mengusap hidungnya yang sedikit sakit karena ditarik Embun.


"Aku itu lagi mengukir jejak cinta kita, bukan menapaki kembali jejak cintaku dan Rama. Kami udah usai, benar-benar usai." Embun berusaha menyakinkan. "Kamu sendiri gimana? Masih ada kontak dengan Jihan gak?"


Mendengar nama Jihan disebut, Nathan langsung menatap Embun heran. Gimana gak heran, belum pernah dia cerita tentang Jihan, lalu darimana Embun tahu nama itu.


"Aku tahu dari Mama. Kamu masih sayang sama dia?"


"Ck, gak usah bahas dia." Nathan tampak kesal.


"Kenapa gak mau, kamu masih sayang sama dia?" desak Embun.


Nathan kembali berdecak sambil menatap Embun tajam. "Aku cuma gak mau kamu sakit hati karena membahas masa lalu."


"Berapa lama kalian pacaran?"

__ADS_1


Sebenarnya Nathan malas menjawab. Tapi kalai gak dijawab, pasti Embun masih nanya terus nanti.


"4 tahun lebih."


"Kenapa putus?"


"Udahlah, gak usah bahas itu," Nathan tampak malas sekali.


"Aku udah cerita semua tentang aku dan Rama. Jadi sekarang giliran Kakak dong."


Nathan membuang nafas berat. "Dia non muslim. Orang tuanya gak menyetujui hubungan kami."


Embun seketika membulatkan bibirnya. Jadi perbedaan kepercayaan yang membuat mereka putus, bukan pengkhianatan seperti dia dan Rama. "Apa dia udah nikah sekarang?"


"Belum," sahut Nathan sambil menggeleng.


Embun meremat blousenya sambil menggigit bibir bawah. Kenapa perasaanya mendadak galau gini. Nathan dan Jihan saling mencintai, hanya saja tak bisa bersama. Setelah putus dari Jihan, Nathan tak mau lagi untuk menjalin hubungan, sepertinya, Jihanpun demikian. Tragis sekali nasib cinta mereka, tak bisa bersatu karena terhalang perbedaan keyakinan. Apa itu artinya, keduanya masih saling mencintai?


"Hai," Nathan meraih tangan Embun dan menggenggamnya. "Inilah kenapa aku gak mau bahas masa lalu. Aku gak mau kamu sakit hati."


"Apa Kakak masih mencintainya?" Embun menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca.


"Pertanyaan macam apa itu?" Nathan merengkuh bahu Embun lalu menyandarkan kepala wanita itu didadanya. "Seperti kamu bilang tadi. Antara kamu dan Rama, kalian sudah usai. Begitupun denganku dan Jihan, kami sudah usai."


"Kakak yakin?" Embun tak bisa menahan air matanya. Dia merasa takut kehilangan Nathan.


"Ck, inilah hobi wanita. Suka sekali mengorek hal hal yang membuat mereka sakit hati. Apa sudah jadi hobi wanita, cari sakit?"


Embun cemberut sambil mencubit lengan Nathan.


"Semua udah usai, sekarang hanya tinggal kisah kita berdua, Nathan," dia menepuk dadanya sendiri. "Dan Embun," lalu meletakkan telapak tangan didada Embun. "Ih Yang, kok makin gede sih."


"Ish, mesuum," Embun menyingkirkan tangan Nathan sambil melotot.


"Beneran loh Yang, makin gede. Hebat banget sih aku, bisa bikin langsung gede gitu," Nathan geleng geleng sambil menatap dada Embun. Yang tampak semakin besar karena hasil karyanya.


"Gak jelas," maki Embun.


"Gak jelas apanya. Orang jelas banget gede gitu."


"Tauk ah." Embun menyunduk sebiji cilok lalu memasukkan kemulut Nathan agar diam. "Kakak harus tanggung jawab."


"Tanggung jawab, kamu hamil Yank?"


"Ish," Embun melotot sambil mencubit lengan Nathan. "Bukan hamil, tapi tanggangung jawab karena kakak, aku kehilangan uang 1 juta. Pokoknya, aku mau Kakak ganti 10 kali lipat." Nathan hanya nyengir dimintai ganti rugi.

__ADS_1


__ADS_2