Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
MUNDUR TERATUR


__ADS_3

Pagi ini, rumah Mama Salma sudah sangat riuh. Tak hanya suara orang dewasa yang sibuk, tapi juga suara tangis anak-anak. Siapa lagi kalau bukan Juna. Disaat semua orang sedang riweh mempersiapkan aqiqah baby Cahaya dan Sagara, Juna seperti minta perhatian. Rama sampai kewalahan menanganinya, begitupun dengan ibunya. Ibu Rama datang ke Jakarta bersama Bu Siti, dan sama-sama belum pulang sampai sekarang.


"Mama, Mama." Juna terus merengek mencari mamanya. Sedangkan Navia masih sibuk mengurus Cahaya. Bu Salma ingin bantu menenangkan, sayangnya dia tak bisa apa-apa selain cuma duduk dikursi roda.


"Sini sama Om." Nathan menghampiri Juna yang baru bisa jalan. Merentangkan kedua tangan hendak menggendong, sayangnya Juna menolak. Dia tetap ingin mamanya.


"Udah Ram, kasih sana ke Navia." Telinga Nathan sampai panas denger Juna nangis. Tak hanya itu alasannya, dia takut tidur baby Gara terganggu karena tangis Juna.


"Navia masih nenenin Cahaya. Kalau dibawa kesanapun percuma, Juna gak akan ngebiarin Navia gendong Cahaya. Juna cemburu, belum bisa nerima adiknya," Rama menjelaskan.


Nathan menghela nafas berat. "Makanya kalau mau punya anak dipikirin dulu. Ujung-ujungnya ribet kayak ginikan," omel Nathan.


"Namanya juga kebobolan," geram Rama. Udah tahu orang lain pusing, malah ceramah, gumamnya dalam hati. "Gak usah ngatain orang, aku doain Embun kebobolan juga, biar kamu tahu rasa."


"Si_" Nathan tak melanjutkan umpatannya karena Rama udah ngibrit lebih dulu sambil membawa Juna. "Dasar ipar gak ada akhlak," gerutunya.


Nathan kembali masuk kamar, melihat Embun yang sedang make up.


"Kok masih nangis aja sih Mas, Junanya?" tanya Embun yang sedang memakai eyeliner.


"Tauk lah, pusing aku." Nathan mendekati Gara yang terlelap diatas kasur. Bayi gembul itu sudah didandani memakai setelan koko putih dan kopiah rajut putih, couplean sama Nathan. "Ganteng banget anaknya Papa Nathan," pujinya sambil menyentuh pipi Gara dengan telunjuknya.


"Jangan digangguin Mas, nanti dia kebangun. Aku belum selesai make up nya," ujar Embun tanpa menoleh. Dia hanya memperhatikan Nathan dari cermin didepannya. Hari ini, Embun juga mamakai gamis putih serta hijab senada. Begitupun dengan Navia sekeluarga, mereka juga mamakai pakaian serba putih.


"Gara kalau bobok gini, persis banget sama kamu," ujar Nathan sambil memperhatikan Gara.


"Hidung sama alisnya ya?"


"Enggak, tapi mangapnya," sahut Nathan sambil menahan tawa.


Embun menoleh kearah Nathan sambil mendengkus sebal. Tapi sesaat kemudian, kembali menghadap cermin untuk lanjut make up. Tak ada waktu untuk membalas Nathan karena urusan make up lebih penting.


"Yang, nanti kalau udah selesai nifas, kamu langsung KB aja. Aku takut kayak Rama. Ngelihat aja udah pusing."


Embun menyebikkan bibir mendengar keluhan Nathan. Padahal dulu dia yang ngajak balapan sama Dimas. Ternyata udah mundur sebelum perang. Cemen.

__ADS_1


"Padahal aku udah pengen hamil lagi."


Nathan langsung melotot. Dia yang melihat aja udah capek, udah ngos-ngosan ngebayangin bawa perut segede gambreng, eh ini Embun malah pengen hamil lagi. Dia beranjak dari ranjang lalu mendekati Embun, berdiri tepat dibelakang Embun yang sedang duduk dikursi rias.


"Yakin kamu udah pengen hamil lagi?"


"Hem," jawab Embun sambil mengangguk cepat. Tak terlihat keraguan sedikitpun diwajah ayunya.


"Kenapa?"


"Biar bisa minta apapun sama kamu, hehehe," sahutnya sambil tersenyum absurd.


Nathan sama sekali tak menyangka jika alasannya sesimpel itu. Tapi kalau ingat apa aja ngidamnya Embun, dia kayak udah gak kepengan lagi punya anak. Sumpah, capek banget. Tapi kalau udah ngeliat anaknya lahir, semua capek itu seketika hilang. Kebahagiaan menjadi ayah itu tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Nathan melingkarkan kedua lengannya dileher Embun lalu menunduk untuk mengecup pipinya.


"Meski kamu gak hamil, sebisa mungkin aku juga bakal ngebulin semua permintaan kamu kok."


Embun melepaskan belitan tangan Nathan lalu berdiri dan membalikkan badan. Saat ini, keduanya saling tatap dengan kedua lengan Embun yang melingkar dileher Nathan.


"Ya beneran lah. Apa sih yang enggak buat kamu." Nathan mendekatkan wajahnya dengan wajah Embun lalu menempelkan kening mereka. "Aku sayang sama kamu, sayang sama Gara. Aku bakal berusaha semaksimal mungkin buat ngebahagiain kalian. Kalian berdua adalah rumahku, duniaku."


Embun menarik wajahnya dan juga melepaskan kedua lengan yang melingkar dileher Nathan. "Jangan ngomong gitu, aku jadi terharu, pengen nangis." Embun mendongak, menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Jangan sampai air katanya menetes hingga menyebabkan make up nya luntur.


Nathan kerkekeh melihat Embun mati-matian menahan tangis.


"Kok malah ketawa." Embun mencubit lengan Nathan karena kesal.


"Nangis, nangis aja kali, gak usah ditahan."


"Nanti make up ku luntur," rengek Embun masih dengan posisi mendongak.


Nathan benar-benar dibuat gemas dengan tingkah Embun. Dia memegang pinggang dan tengkuk Embun lalu mencium bibirnya. Mata Embun langsung melotot. Bukannya menikmati ciuman, yang ada dia malah kepikiran dengan lipstiknya yang sudah bisa dipastikan akan hancur.


Embun mendorong Nathan saat dirasa ciuman itu sudah melebihi batas lamanya. Dengan nafas terengah-engah, dia memukul dada Nathan.

__ADS_1


"Aku kehabisan nafas tahu gak," sentaknya.


Oek oek oek


Embun sampai lupa kalau ada Gara yang lagi tidur. Bayi itu pasti kaget karena suara kerasnya barusan. Sambil menatap Nathan sengit, dia menghampiri Gara lalu menggendongnya. Kalau sudah seperti ini, jurus terampuh untuk membuat Gara berhenti menangis hanya dengan disodori nen. Dan terbukti, jurus itu sangat ampuh, Gara langsung diam dan kembali memejamkan mata.


"Anak sama Bapak, sama aja. Langsung diam kalau udah disodorin ini."


Nathan tak kuasan menahan tawa melihat Embun menunjuk dadanya. Senjata paling ampuh untuk membuat bapak dan anak langsung anteng.


...----------------...


Sekitar jam 10 pagi, acara aqiqah dimulai. Tamu yang diundang sangat banyak karena dari pihak Nathan dan juga Rama. Karena 3 ekor kambing dirasa tak cukup untuk semua undangan, Bu Salma menambahkan lagi 3 ekor kambing dengan niat sedekah.


Backdrop bertuliskan aqiqah Baby Cahaya dan Sagara terlihat sangat mewah. Hidangan, hampers, dekorasi, semuanya serba mewah. Mereka sangat total merencakan acara ini. Kehadiran 2 cucu yang hampir bersamaan, membuat Bu Salma sangat bahagia. Kesehatannya juga makin membaik, sudah lumayan lancar bicara serta bisa menggerakkan sebagian anggota badan.


Selama acara, Sagara dan Cahaya sangat anteng, dan lagi-lagi, Juna yang bikin riweh. Kali ini tak hanya minta digendong Navia terus, dia juga menangis saat Rama menggendong Cahaya. Alhasil Nathan yang menggendong Gara, sedang Cahaya, digendong Embun.


Baru setelah Juna tidur, Navia mengambil alih Cahaya dari gendongan Embun. "Makasih ya Budhe, udah gendongin Cahaya," ucap Navia. "Aku pusing banget Mbun, Juna posesif, langsung ngamuk kalau aku gendong Cahaya," keluhnya.


"Juna hanya sedang cemburu Nav. Lama-lama, dia pasti akan mengerti."


"Aku udah ganti baby siter sampai 4 kali. Dan hasilnya tetap sama, Juna gak mau sama siapapun, maunya cuma sama aku. Dan terpaksa, Cahaya yang ngalah, dia sama baby sitter. Cuma pas nen aja dia sama aku."


Navia menghela nafas berat. Stres memiliki 2 anak dengan jarak yang terlalu dekat. Umur Juna baru 1 tahun, tapi dia sudah punya adik.


"Belajar dari aku Mbun. Jangan terlalu dekat jarak antara Gara dan adiknya. Nunggu Gara 3 tahun dulu aja baru hamil. Kalau kayak aku, bisa stres. Malam gak tidur kalau Cahaya rewel, dan siang, gantian Juna yang rewel." Mata Navia sudah mirip panda karena kurang tidur.


"Rencananya memang mau aku kasih jarak Nav. Apalagi aku kan lahiran caesar. Seenggaknya 2 tahun lagilah baru hamil."


"Tadi katanya pengen langsung hamil lagi." Entah kapan datangnya, tahu-tahu Nathan ikut nimbrung.


"Hehehe, gak jadi." Ngelihat Navia, Embun milih mundur teratur.


TAMAT ( Buat yang baca, please tinggalin like dan komen di bab terakhir ini )

__ADS_1


[ Kali ini tamat beneran ya. Makasih dukungannya buat Nathan dan Embun. Love sekebon buat pembaca setia Nathan dan Embun ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️]


__ADS_2