Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
TRAGEDI MEMALUKAN


__ADS_3

Jantung Embun seperti berhenti berdetak, matanya membulat sempurna saat dengan mata kepala sendiri, dia melihat Navia dan seorang pemuda bergandengan tangan. Dari mata keduanya, terpancar sorot kasmaran. Ada apa ini, semoga saja ini tak seperti dugaannya. Dia melihat kearah Rama, tampak pria itu sedang gelisah. Jangan-jangan, Rama sudah tahu tentang ini, batinnya. Dan hal ini yang telah membuat Rama tampak tak nyaman saat berada dipanggung tadi.


Dada Rama bergemuruh, apalagi saat melihat pria yang dia duga adalah Rian itu naik kepanggung. Pria itu terlihat masih sangat muda, dia yakin usianya jauh dibawahnya. Ditambah dengan style ala anak muda kekinian yang membuat pria tersebut terlihat sangat tampan. Kalau urusan wajah, mungkin keduanya sama sama tampan, hanya saja Rian menang dalam hal style.


Navia menggigit bibir bawah, wajahnya bersemu merah saat melihat Rian yang ada diatas panggung sedang menatap dan tersenyum padanya. Apalagi saat ini, Rian menyanyikan lagu cinta sampai mati, hal itu tentu membuat hatinya makin jedag jedug. Tanpa diketahui oleh 2 orang yang sedang kasmaran itu, Rama sejak tadi menahan diri untuk tidak meledak dan menghancurkan acara ini.


Dengarkanlah


Di sepanjang malam aku berdoa


Bersujud dan lalu aku meminta


Semoga kita bersama


Tatapan mata Rian terus saja tertuju pada Navia saat menyanyi. Dan Rama, darahnya makin mendidih dan kedua telapak tangannya mengepal sangat kuat. Kesabarannya sungguh sedang diuji saat ini.


Teman-teman Navia dan Rian, ikut bernyanyi bersama. Tak hanya itu, beberapa orang yang memang hafal lagu ini juga ikut bernyanyi. Semesta seolah mendukung mereka, membuat Rama merasakan dadanya seperti ditusuk tusuk. Sesakit ini rasanya melihat orang yang kita cintai main hati dengan orang lain. Rasanya baru kemarin dia sakit hati melihat kedekatan Embun dan Nathan, dan sekarang, rasa sakit itu kembali terulang. Sangat cintakah rasa sakit itu pada dirinya, kenapa seolah tak mau pergi darinya, selalu saja menyiksanya lagi dan lagi.


Tidak, dia tak kuat lagi. Dengan rahang yang mengeras dan telapak tangan mengepal kuat, dia berjalan menuju panggung.


"Jangan," Embun menarik tangan Rama sambil menggeleng.


"Lepasin aku Mbun," desis Rama dengan tatapan tajam. Matanya terlihat memerah dan nafasnya memburu. Siapapun yang melihat, pasti akan tahu jika saat ini, Rama sedang emosi.


"Ini bukan waktu yang tepat, Ram." Embun tidak mau aib keluarga lagi-lagi jadi santapan publik. Karena apa, karena dia yakin, hanya akan ada 20 persen orang yang bersimpati, sedang lainnya hanya mencemooh. Dan dijaman sekarang, pasti akan ada yang mengambil keuntungan dengan memvideokan lalu memviralkan. Mendapatkan keuntungan dari menyebar aib orang.

__ADS_1


"Lepaskan aku Mbun." Rama berusaha menarik tangannya dari cekalan Embun.


"Rama please, jangan sampai kamu menyesal nantinya. Pikirkan psikis Navia, dia sedang hamil." Embun takut jika nantinya Navia akan mengalami bullying. Dia sudah pernah merasakan itu, dan itu sangat tidak mudah. Dia tak mau Navia mengalami hal yang sama, karena itu tidak baik untuk kesehatan mentalnya disaat hamil.


"Apa-apaan ini!" Dengan mata melotot, Nathan menarik kasar tangan Embun hingga terlepas dari Rama. "Bisa-bisanya kamu masih berusaha mendekati Embun?"


"Ini tak seperti yang Kakak pikirkan," Embun mendorong Nathan sedikit menjauh dari Rama. Jangan sampai karena dia menahan Rama yang mau gelut dengan selingkuhan Navia, eh..malah Nathan yang gelud dengan Rama.


"Lalu seperti apa? Jelas-jelas aku melihat dia_" Nathan menunjuk Rama, tapi yang ditunjuk ternyata sudah tidak ada ditempat, Rama sudah berjalan menuju panggung dan,


Bugh


Pria itu langsung menghadiahi Rian bogem mentah hingga jatuh tersungkur. Semua orang mulai teriak teriak, tak terkecuali Navia.


"Aku sedang mencegah itu, tapi Kakak malah membuat Rama makin emosi," sungut Embun.


"Pisahkan mereka, buruan," sentak Embun. Dia kesal sekali pada Nathan yang tempramen, mudah sekali marah. Sumbunya terlalu pendek, cepat meledak kayak petasan.


Melihat Rian tersungkur, bukannya berhenti, Rama malah menggila dengan makin menghajarnya. Dan Rian juga tak tinggal diam, dia memcoba membalas semua pukulan yang Rama layangkan.


"Kurang ajar, tak tahu diri, berani beraninya kamu mendekati istriku." Rama yang emosi terus memukul sambil memaki. Dia tak peduli lagi jika saat ini, banyak mata yang menyaksikan.


Tak pelak, semua orang yang ada disana langsung tercengang mendengar itu, tak terkecuali Nathan.


"Kau tidak pantas untuk Navia," balas Rian. "Pria tukang selingkuh sepertimu tak pantas mendapatkan Navia." Keduanya terus berkelahi sambil saling menyudutkan.

__ADS_1


"Hentikan, hentikan Mas," seru Navia yang gemetaran. Dia hendak mendekat tapi teman teman wanitanya mencegah karena terlalu berbahaya. Sedang beberapa orang pria termasuk Nathan, berusaha memisahkan Rama dan Rian.


Rama berusaha berontak saat 4 orang memegangi tangannya. Sedangkan Rian, dia terlihat mengusap hidung dan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Pergi dari sini," usir Rama pada Rian. "Dan jangan pernah mendekati Navia lagi."


"Aku dan Navia saling mencintai." Dengan lantangnya, Rian mengakui itu didepan semua orang. Dengan nafas tersengal-sengal, dia menoleh kearah Navia yang sedang menangis.


Komentar orang sudah tak bisa dicegah lagi. Semua langsung menghujat, menghakimi, bahkan sampai tak bisa berkata kata.


Nathan mengepalkan kedua telapak tangannya. Dan beberapa detik kemudian.


Bugh


Ganti dia yang memukul Rian. Setelah itu dia tarik Rian turun dari panggung dan menyeretnya keluar.


"Kak Nathan," dengan gilanya, Navia malah mengejar selingkuhannya itu. Rama yang tangannya sudah dilepaskan, seketika lunglai dan terduduk dilantai panggung. Dia tak menyangka jika Navia malah mengejar Rian. Ini lebih menyakitkan dari pada pukulan luka lebam diwajahnya.


"Berhenti Navia," bentak Nathan.


"Tolong jangan sakiti Rian Kak," pinta Navia sambil menggeleng. "Kami berdua yang salah," ujarnya sambil menangis sesenggukan. Nathan rasanya hampir gila. Dia melepaskan cengkeramannya dikerah baju Rian lalu menonjoknya sekali lagi hingga tersungkur.


"Keluar dari rumahku," hardik Nathan sambil menunjuk pintu gerbang. Rian menatap kearah Navia, melihat Navia mengangguk, dia bangkit lalu jalan terseok seok, keluar dari sana. Navia tak mau Rian kembali dihajar jika tak segera pergi.


"Kamu membuatku kecewa Navia," ujar Nathan dengan kedua mata memerah. Embun berlari menghampiri Nathan dan langsung memegangi lengannya. Tak mau Nathan yang emosional itu malah melakukan sesuatu pada Navia.

__ADS_1


"Sudah Kak, banyak orang," bisiknya sambil berusaha mengurai kepalan tangan Nathan.


"Mas, Mas Nathan, ibu pingsan," seru suster Ida sambil berlari menghampiri Nathan.


__ADS_2