Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
ADA APA DENGAN NAVIA?


__ADS_3

"Mama mau Embun belikan sarapan apa?" tanya Embun setelah selesai menyeka tubuh sang ibu mertua. Sejak bangun pagi tadi, dia langsung mengurusi Mama Salma, membantunya buang air kecil serta aktifitas lainnya seperti ganti baju, menyisir rambut, sampai memakaikan hijab.


"Tidak perlu, bentar lagi juga ada makanan dari rumah sakit."


"Kali aja Mama pengen makan lainnya, soalnya Embun mau keluar buat beliin Kak Nathan sarapan."


"Gak usah, Mama makan yang dari rumah sakit saja."


"Baiklah kalau begitu." Embun menghampiri Nathan yang masih tidur diatas sofa. Teringat jika pagi ini Nathan ada meeting dengan Pak Satria, Embun segera membangunkannya. "Kak, udah pagi," dia menunduk sambil menepuk pelan lengan suaminya. Kalau saja tak ada meeting, pasti dia biarkan saja Nathan tidur sampai puas, sayangnya dia harus melalukan tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan.


Setelah berkali ditepuk dan dipanggil, akhirnya Nathan terbangun. Dia mengerjabkan mata beberapa kali sambil menguap. Meregangkan tubuhnya yang terasa kaku sebab semalaman terpaksa tidur sedikit menekuk karena sofa yang kurang panjang atau dia yang ketinggian.


"Bangun gih, udah jam 7. Ada meeting jam 9 kan?" Embun mengingatkan.


Bukannya segera bangun, Nathan memonyongkan bibirnya. "Kiss me, please."


"Ogah, bauk."


Nathan berdecak pelan sambil pura-pura marah. "Gak romantis," gerutunya.


"Iya nanti aku beri kissing tapi mandi dulu, gosok gigi." Embun menarik lengan Nathan agar segera duduk. "Buruan, nanti telat."


"Iya, iya, bawel." Nathan kembali meregangkan otot lalu berdiri. Mencuri sebuah kecupan dipipi Embun hingga membuat wanita itu melotot karena terkejut.


"Ish malu, ada Mama," desis Embun sambil melirik kearah Mama Salma. Tahu jika mamanya melihat, Nathan sama sekali tak ambil pusing. Yang muda yang bercinta, mamanya juga pernah muda, pasti tahu seperti apa rasanya kasmaran. Betul gak Mah?


"Mandiin dong Yang, biar cepet."

__ADS_1


Embun mencubit lengan Nathan. Udah dikatain ada mama, masih aja ngumbar kemesraan, dia kan jadi malu.


"Udah buruan mandi," Embun mendorong Nathan kearah pintu kamar mandi. "Aku keluar bentar ya, nyari sarapan buat kita."


"Gak usah," Nathan menahan lengannya. "Kita sarapan diluar aja, sekalian jalan ke kantornya Pak Satria. Kamu ikut aku meetingkan?"


Embun menggeleng cepat. "Aku disini saja temenin Mamah. Lagian habis meetingkan Kakak kesini lagi. Mama jadi pulangkan hari ini?"


"Iya juga sih. Tapi..." Nathan garuk garuk kepala. Dia tak yakin meninggalkan Embun disini, apalagi sebentar lagi Navia dan suster ida datang. Takut jika terjadi keributan, tahu sendirikan gimana sikap Navia.


"Aku gak papa kok," Embun paham apa yang dikhawatirkan Nathan.


"Gak akan diapa apain sama Mama," Mama Salma tiba-tiba menyahuti. "Udah kamu kerja aja yang tenang."


Embun menoleh kearah mama Salma. Apa kalimat barusan menandakan jika dia sudah diterima kembali? Enggak, dia gak boleh seneng dulu. Mungkin saja Mama Salma ngomong seperti itu hanya agar Nathan tenang saat bekerja.


"Aku beli sarapan dulu ya," pamit Embun.


"Nabrak dong nanti," sahut Embun yang langsung disambut tawa oleh Mama Salma. Dan disaat Nathan dan Embun melihat kearahnya, Mama Salma langsung diam dan pura pura melihat kearah lain.


...----------------...


Siang ini, Mama Salma sudah diizinkan pulang. Jika biasanya pagi hari giliran Navia dan suster ida yang jaga, hari ini hanya suster ida saja yang datang. Sedangkan Navia beralasan kurang enak badan.


Mama Salma menghela nafas lega saat kembali memasuki rumahnya. 4 hari dirumah sakit, membuatnya kangen rumah. Mulai dari halaman sampai meja makan, Embun yang mendorong kursi rodanya.


Hari ini memang ada jamuan kecil-kecilan dari art untuk menyambut kepulangan Mama Salma. Mereka memasakkan makanan kesukaan beliau, tapi tentu saja yang tidak membuat tekanan darah naik.

__ADS_1


"Mana Navia?" Mama Salma celingukan saat dan melihat batang hidung putrinya tersebut.


"Dikamarnya Nyonya, mau saya panggilkan," tawar Bi Siti.


Belum juga Mama Salma menjawab, terlihat Navia menuruni anak tangga. Tadi katanya gak enak badan, tapi kok dandan rapi dan bawa tas, pikir Mama Salma.


Navia menghampiri Mamanya, mencium tangan lalu pipi dan kening. Setelah itu ganti Nathan, tapi tidak untuk Embun. Meski berstatus kakak ipar, Navia hanya menatapnya sebentar tanpa ada niat untuk sekedar bersalaman, apalagi cipika cipiki.


"Kamu kenapa?" tanya Nathan yang melihat mata bengkak Navia.


"Gak papa," sahutnya sambil menatap Embun nanar. Teringat kembali kejadian semalam saat Rama menyebut nama Embun. Wanita dihadapannya ini, dialah pemilik hati sang suami, sedangkan dia, dia hanya pemilik raganya saja. Dada Navia kembali terasa sakit. Hampir saja air matanya luruh, buru buru dia mengalihkan pandangan sambil menarik nafas dalam dan membuang perlahan.


"Kamu mau kemana?" tanya Mama Salma.


"Navia mau keluar sebentar Mah, ada urusan sedikit." Sebenarnya bukan karena ada urusan, dia hanya sedang menghindari Embun. Terlalu menyakitkan melihat wajahnya.


"Tadi katanya gak enak badan?" Mama Salma kembali bertanya.


"Udah lumayan enakan kok. Ya udah, Navia pergi dulu," pamit Navia sambil buru-buru keluar.


Embun dan Nathan saling bertatapan. Mereka yakin ada sesuatu yang terjadi pada Navia. Wanita itu terlihat sedang tak baik-baik saja.


Nathan berjalan tergesa gesa menyusul Navia. Dia memanggil Navia saat masih ada diteras rumah. "Ada apa?" tanya Nathan.


Navia hanya menjawab dengan gelengan saja. Tapi Nathan tak mau menyerah, dia yakin terjadi sesuatu.


"Apa Rama menyakitimu?" Navia meremat gaunnya, matanya berkaca-kaca, tapi sebisa mungkin dia tahan agar air matanya tak sampai luruh.

__ADS_1


Nathan memegang bahu Navia, mengangkat dagunya agar adik kesayangannya tersebut mau menatapnya. "Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri. Cerita sama Kakak."


"Aku baik-baik saja," Navia mencoba untuk tersenyum. "Aku harus segera pergi Kak, ada janji dengan teman." Navia mengecup pipi Nathan lalu pergi menuju mobilnya yang sudah terparkir dihalaman. Tampak Pak Feri, sang supir, membukakan pintu untuk Navia.


__ADS_2