Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
INGAT, KAU JUGA PERNAH JATUH CINTA PADA RAMA


__ADS_3

Mendengar suara gagang pintu ditarik, Rama dan Navia menghentikan obrolan. Menatap kearah pintu dan mendapati Nathan dan Embun masuk. Nathan mendekati brankar mamanya. Mengecek apa infusnya masih berjalan lancar lalu mengecup kening wanita yang telah melahirkannya tersebut.


Embun berdiri disebelah Nathan, mengusap lengannya sebagai bentuk dukungan. Nathan menyeka air mata. Saat ini, dia benar-benar takut saat bangun nanti, mamanya tak lagi bisa melakukan apapun. Entah hanya terlalu khawatir atau apa, dia merasa jika bentuk rahang dan bibir mamanya sedikit berbeda. Semoga saja bukan masalah besar, semoga saat bangun nanti, Mama Salma masih bisa bicara seperti biasa.


Puas memandangi mamanya, Nathan dan Embun menghampiri Navia dan Rama. Tampak kedua mata Rama maupun Navia memerah, entah apa yang barusan mereka bicarakan.


Rama berdiri, memberi tempat untuk Embun duduk, tapi Embun menggeleng, dia lebih nyaman berdiri disebelah Nathan. Dan akhirnya Rama kembali duduk disamping Navia.


"Apa kalian sudah bicara tadi? Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Nathan.


"Aku ingin bertahan."


"Aku ingin bercerai."


Rama dan Navia memberikan jawaban yang bertolak belakang.


"Aku ingin bercerai, Kak," tekan Navia.


Nathan berdecak pelan, dugaannya benar. "Ternyata kau masih sama Navia, belum dewasa, padahal sebentar lagi kau akan menjadi ibu."


"Aku dan Mas Rama sudah tak saling cinta, lalu untuk apa dipertahankan?" kekeh Navia.


"Aku mencintamu," ucap Rama cepat.


"Kau tidak mencintaiku Mas, yang kau cintai dia," Navia menunjuk dagu kearah Embun.

__ADS_1


"Dengan cara apalagi aku harus membuktikan jika kamu yang aku cintai, Navia." Rama mengacak rambutnya frustasi.


Ingin sekali Embun ikut bicara, tapi dia tak mau masalah semakin runyam. Dia buruk dimata Navia, apapun yang dia katakan, akan tetap dinilai buruk, jadi lebih baik dia diam.


"Lihatlah itu, Navia." Nathan menunjuk kearah mamanya yang terbaring diranjang. "Mama seperti ini gara-gara kamu. Apa kau ingin sesuatu yang lebih buruk lagi terjadi pada Mama karena kegilaanmu. Cobalah berfikir dewasa, kau mau punya anak, dan anak itu butuh ayahnya, butuh Rama. Meski aku tak begitu menyukai Rama, tapi kali ini, aku ada dipihaknya."


Navia menunduk sambil menangis. Dia merasa bersalah telah membuat mamanya seperti ini, tapi dia mencintai Rian, dia ingin bersama pria itu.


"Jangan egois Navia," tekan Nathan. "Anakmu butuh Rama, bukan pria sialan tadi." Nathan kembali berapi api jika mengingat kejadian sore tadi.


"Rian mau menerimaku dan anak ini, Kak. Dia cinta sama aku, aku juga cinta sama dia."


Rama memejamkan mata sambil meremat sofa. Hatinya seperti ditusuk belati yang sangat tajam, sakit sekali.


"Bulshit," umpat Nathan. "Dia tidak cinta padamu, Navia. Jika dia mencintaimu, dia tidak akan mengajakmu selingkuh, tapi akan membantumu menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah, cinta tidak seperti itu. Kau benar-benar membuatku kecewa. Pulanglah, aku tak mau melihatmu," usir Nathan yang muak pada adiknya itu.


"Tidak perlu, Mama seperti ini karenamu, pulanglah."


"Ayo kita pulang, kamu butuh istirahat," ajak Rama. Dan kali ini, Navia menuruti suaminya.


...----------------...


Nathan tak kuasa menahan air mata saat melihat kondisi Mamanya. Hasil CT scan menunjukkan jika terjadi pendarahan diotak Mama Salma karena tekanan darah yang terlalu tinggi. Dan akibatnya sekarang, Mama Salma lumpuh total. Dia juga mengalami kesulitan untuk menelan maupun bicara. Tatapannya seperti orang linglung, bahkan seperti tak mengenali Nathan maupun Navia yang saat ini ada disebelah brankar.


Kata dokter, pendarahan diotak juga mempengaruhi ingatan Mama Salma. Saat ini, wanita itu seperti lupa apapun, tapi seiring berjalannya waktu, ingatan itu akan kembali. Tapi kedepannya ingatannya akan lemah.

__ADS_1


"Bu Salma harus rutin menjalani terapi agar bisa setidaknya menggerakkan bagian tubuh tertentu dan bisa kembali bicara," ujar Dokter.


Navia tak kuasa melihat kondisi mamanya, rasa bersalahnya makin besar. Dia memilih keluar dan menumpahkan air matanya disebuah bangku yang tak jauh dari runganan Mama Salma. Dia sangat menyesal, semua ini karena dia.


Navia menoleh saat seseorang duduk disebelahnya. Embun menyodorkan tisu, dan langsung diambil oleh Navia karena saat ini, dia sangat membutuhkan benda itu.


"Aku tahu sampai detik ini, kau masih tak suka padaku. Tapi bagaimanapun, aku kakak iparmu. Kau tidak bisa menyangkal itu." Navia tak memberikan tanggapan apapun, dia menyandarkan punggung dikursi sambil menatap nanar lorong rumah sakit.


"Saat kita merusak sesuatu, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah memperbaiki, dengan catatan masih bisa diperbaiki, bukan malah merusaknya. Percaya atau tidak, Rama mencintaimu saat ini. Tatapan yang dulu Rama berikan padaku, sekarang dia berikan padamu. Aku dekat dengan Rama 10 tahun Navia, dan sangat mengenal dia. Dia mencintaimu Navia."


Navia tersenyum getir sambil mengusap perutnya. Tak menyangka jika Embun yang selama ini dia benci, duduk disebelahnya dan mengajaknya bicara dari hati kehati.


"Rian, namanya Rian kan?" Embun menoleh kearah Navia. "Apa kau yakin mencintainya?"


"Ya, aku mencintainya," sahut Navia lemah.


" Benar-benar cinta, bukan pelampiasan atau alat untuk balas dendam? Tanyakan pada hatimu Navia. Kau sungguh mencintai Rian, atau hubungan kalian ini hanyalah pembuktian. Pembuktianmu pada Rama dan dunia, jika kau juga bisa selingkuh, kau juga bisa melakukan seperti yang Rama lakukan. Wanita selalu mengandalkan perasaan Nav. Dan ketika dia sakit hati, perasaan yang lebih dominan dibanding logika itu membuatnya sedikit menggila. Dulu, aku juga pernah ada diposisimu. Aku pernah gila karena Rama meninggalkanku dan memilih menikah denganmu," Kali ini, Navia menoleh arah Embun. Melihat kakak iparnya itu tersenyum sekaligus menangis.


Embun teringat kembali hal paling gila yang pernah dia lakukan karena sakit hati, yaitu menjadi pelakor.


"Pembuktian, itu juga yang dulu aku lakukan. Aku ingin membuktikan jika Rama bukanlah pria setia. Aku ingin membuktikan jika Rama masih mencintaiku. Aku tak mau Rama bahagia, dia harus menderita sama sepertiku, dia harus merasakan sakit yang aku rasakan." Embun menepuk dadanya. Dia sudah move on dari Rama, tapi kenapa rasanya masih sakit jika ingat 10 tahun penantiannya sia sia.


"Apa kau bahagia sekarang, saat Rama dan aku hancur?"


"Harusnya aku bahagia saat ini? Saat rasa sakitku terbalasakan, saat Rama hancur. Tapi nyatanya, sedikitpun aku tidak bahagia. Aku tidak bahagia Navia," sahut Embun sambil menggeleng. "Jangan sampai kau sepertiku Navia. Saat kau berhasil membalaskan sakit hatimu pada Rama dan kalian berpisah, kau malah tidak bahagia. Mungkin saat ini kau merasa jatuh cinta pada Rian. Tapi ingatlah kembali, kau juga pernah merasakan hal yang sama pada Rama, kau pernah jatuh cinta pada Rama. Kau pernah ada dititik tergila gila pada Rama. Pikirkan kembali sebelum mangambil keputusan. Ingat ingat kembali jejak cinta kalian. Tumbuhkan kembali rasa itu. Aku yakin itu tidak sulit karena saat ini, ada buah cinta kalian didalam perutmu.

__ADS_1


"Dia juga berhak bahagia Navia. Kalian, kau dan Rama yang membuatnya ada disini." Embun menyentuh perut Navia. "Jadi sudah sepatutnya kalian bertanggung jawab dengan membuat dia bahagia." Embun kembali masuk keruangan Mama Salma setelah mengatakan itu.


__ADS_2