Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
NYURI START


__ADS_3

Nathan terus saja mencumbui Embun. Padahal seharian ini mereka jalan-jalan keliling kota Malang, tapi tak tampak gurat kelelahan sama sekali diwajah pria itu, justru tampak sangat bersemangat. Sampai-sampai Embun heran dengan staminanya yang salalu prima.


Berbanding terbalik dengan Embun, sebenarnya dia lelah, banget malahan, tapi dia dalam posisi tak bisa menolak. Selain karena takut dosa, juga karena tubuhnya terlalu sensitif terhadap sentuhan Nathan. Dikit saja disentuh dititik tertentu, tubuhnya langsung menginginkan lebih. Menyebalkan bukan?


Dering ponsel Nathan terdengar sedikit mengganggu. Tapi kedua insan yang lagi menikmati percumbuan ria itu tak menggubris, sejenak pura-pura tuli. Karena saat ini, ada yang lebih butuh dituntaskan daripada sekedar mengangkat telepon.


Tapi dering ponsel yang tak mau berhenti itu, membuat Nathan kesal. Terpaksa dia berhenti sejenak dan bangkit dari atas tubuh Embun.


Melihat nama Dimas dilayar, tanpa pikir panjang, Nathan langsung mematikan ponselnya.


"Siapa Kak?"


"Gak penting." Dia kembali menghampiri Embun lalu mencumbunya.


Selesai menyalurkan hasrat, keduanya tampak kelelahan. Baru saja hendak memejamkan mata, giliran ponsel Embun yang berdering. Ada panggilan masuk dari Cindy. Tumben gadis itu meneleponnya malam-malam.


"Hallo," Embun menjawab teleponnya.


"Mbun, kamu masih di Malang?" dari suaranya, terdengar sedikit panik.


"Iya Cin," sahut Embun sambil menoleh kearah Nathan. Suaminya menatapnya, bertanya tanpa suara, siapa yang telepon? "Cindy," lirih Embun.


"Pak Nathan belum balik ke Jakarta Mbun?"


"Belum Cin." Terdengar suara decakan yang disusul dengan nafas berat dari Cindy.


"Ada apa Cin?"


"Please Mbun, suruh suami kamu balik ke Jakarta malam ini."


"Emangnya kenapa Cin?"


"Besok aku nikah sama Kak Dimas." Embun lumayan terkejut mendengarnya. Mereka akan menikah? Bukankah dulu kata Dimas, masih beberapa bulan lagi. "Kalau suami kamu belum balik, gimana Kak Dimas bisa cuti. Padahal minggu lalu sudah di acc cutinya. Kata Kak Dimas, besok ada beberapa meeting penting. Please Mbun, suruh suami kamu balik ke Jakarta sekarang juga. Aku tahu dia bos, tapi jangan egois gini dong." Entah karena kalut acara pernikahannya gagal atau apa, Cindy terdengar marah marah.


Embun melihat kearah Nathan yang sudah memejamkan mata. Bisa-bisanya pria itu terlihat santai saat diseberang sana, sepasang kekasih yang besok mau nikah, dibuat kalang kabut. "Iya, nanti aku bilangin sama Kak Nathan."

__ADS_1


"Jangan nanti Mbun, sekarang," tekan Cindy.


"Iya Cin, sekarang maksud aku." Setelah itu, Embun langsung mematikan sambungan telepon.


Embun meletakkan kembali ponselnya lalu menepuk pelan bahu Nathan. "Kak."


"Hem, kenapa Sayang, mau lagi?" tanya Nathan sambil membuka mata dan menggeliat pelan. Dia lalu menarik lengan Embun hingga wanita itu tersungkur dan langsung mendarat didadanya.


"Kak Nathan, ih..lepas." Embun berusaha berontak saat Nathan mulai menciumi leher dan belakang telinganya. "Kakak harus pulang sekarang." Embun yang berhasil lepas dari dekapan Nathan segera memunguti pakaiannya dan memakainya kembali.


"Pulang?" Nathan mengerutkan kening sambil mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kakak lupa, besok Dimas nikah."


Nathan seketika menepuk jidat. Pantesan dari tadi Dimas telepon mulu. Pria itu pasti ingin memastikan apakah dia sudah pulang atau belum.


"Kok malah bengong, buruan Kak." Embun yang berpakaian tergesa gesa sampai memakai kaos terbalik.


"Buruan kemana?"


Embun menggeram tertahan sambil menghentak hentakkan kakinya ke lantai. "Ya buruan pulang," tekannya sambil melotot.


Nathan mengambil ponselnya lalu mengaktifkan kembali. Rentetan pesan dan panggilan tak terjawab dari Dimas langsung masuk.


Embun membuang nafas berat lalu kembali duduk disisi ranjang. Merasa bersalah pada Cindy dan Dimas karena gara gara Nathan menyusulnya, mereka jadi kalang kabut kayak gini. "Terus gimana? Mereka mau nikah loh besok?"


"Nikah ya nikah aja," sahut Nathan enteng, membuat Embun seketika berdecak sebal.


"Kakak itu jangan terlalu menggampangkan pernikahan. Jangan menganggap semua orang nikah itu kayak kita, hanya modal datang ke KUA. Mereka pasti udah nyiapin segalanya, termasuk pesta." Entah kenapa, Nathan merasa tersindir dengan ucapan Embun barusan. Hanya modal datang ke KUA. Astaga, kalau ingat hari itu, dia jadi merasa bersalah.


"Kamu mau kita ngadain pesta?"


Embun seketika nyengir. "Kok kita? Yang mau nikah itu, Dimas sama Cindy," tekan Embun sambil melotot.


"Ya tapi kamu barusan bilang hanya modal datang ke KUA, aku kan merasa tersindir."

__ADS_1


Embun memutar kedua bola matanya malas sambil membuang nafas berat. Telat banget tersindirinya, kenapa gak dari dulu. Udah hampir 3 bulan nikah, baru kesindir.


"Udah gak usah bahas kita, udah expired. Mending nyari jalan keluar buat Dimas dan Cindy. Kata Dimas, besok ada meeting penting. Kalau Kakak gak ada otomatis Dimas yang gantiin, terus dia nikahnya gimana?"


Nathan memandangi Embun yang panik sambil geleng geleng. Dan itu, tentu saja membuat Embun makin naik darah


"Kak Nathan," geram Embun.


Nathan menunjukkan sesuatu dilayar ponselnya pada Embun. "Udah dapat tiket buat besok pagi. Udah gak usah marah-marah, besok pagi kita balik ke Jakarta." Nathan menarik Embun agar mendekat lalu memeluknya. Seketika, Embun bernafas lega. "Mereka yang mau nikah, kok kamu yang panik? Lagian kamu kenapa baru ngingetin, gak dari tadi?"


"Aku aja baru tahu, kalau besok Dimas dan Cindy mau nikah."


"Emang Cindy gak ngasih tahu kamu?" Embun menggeleng. "Jangan-jangan, kamu juga gak tahu kalau Cindy hamil?"


"Ha-hamil?" Embun menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia tak menyangka jika Cindy yang kelihatannya seperti gadis baik baik, ternyata hamil diluar nikah. Pantas saja pernikahannya maju dari rencana awal.


"Aku kira kalian teman dekat."


"Aku hanya sebatas teman biasa gak deket."


"Siapa teman dekat kamu di Jakarta?" Embun menggeleng. Meratapi nasibnya yang memang tak memiliki satu teman dekatpun di Jakarta.


"Aku gak punya teman di Jakarta," sahut Embun dengan wajah sendu. Nathan mencium pucuk kepalanya beberapa kali sambil membelai punggungnya.


"Kamu punya aku, teman mengarungi behtera kehidupan, teman berbagi suka maupun duka, berbagi makanan, hingga berbagi ranjang." Embun mendongak, menatap Nathan dengan mata berkaca kaca.


"Berjanjilah tak akan membagi ranjang kita dengan yang lain." Nathan seketika mencubit gemas pipi Embun. Menghujani wajahnya dengan kecupan hingga Embun geli dan menutup mata.


"Aku hanya milik kamu Sayang selamanya. Dan kamu, berjanjilah akan selalu menjadi milikku." Embun mengangguk lalu menyorokkan wajah didada bidang Nathan. Menghirup dalam dalam aroma tubuh suaminya yang mulai membuatnya candu.


"Selamanya, Embun hanya milik Kak Nathan, selamanya Kak. Aku tak menginginkan pria manapun lagi selain Kakak. Aku mencintaimu Kak."


"Aku juga mencintaimu Sayang." Nathan mencium lembut bibir Embun. "Bolehkan aku minta sekali lagi?"


Embun terkekeh mendengar permintaan suaminya tersebut. Dan tanpa berfikir panjang, dia langsung mengangguk.

__ADS_1


"Dimas udah nyuri start duluan, kita gak boleh kalah. Sebelum dia 2, kita udah harus 3."


What! Mata Embun langsung terbeliak lebar.


__ADS_2