
Pagi-pagi sekali, Embun sudah bangun dan bersiap-siap. Hari ini hari pertama masuk sekolah ajaran baru. Sebagai wali kelas 1, dia akan bertemu dengan anak-anak baru. Sejak beberapa hari yang lalu, dia sudah mempersiapkan materi MPLS. Ini tahun pertama dia resmi jadi wali kelas, karena sebelumnya, dia hanya menjadi guru pengganti saat wali kelas 5 sakit stroke dan tak bisa mengajar selama beberapa bulan.
Selesai make up, dia memasukkan semua barang pribadi dan kebutuhan lainnya kedalam tas. Nathan yang baru bangun, terkejut melihat Embun yang sudah rapi.
"Masih pagi kok udah cantik aja?" tanya Nathan. Dia bangun lalu duduk bersandar dikepala ranjang.
"Emang kapan aku jelek, bukannya selalu cantik ya?" goda Embun sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Astaga, aku sampai lupa kalau istriku ini tak pernah jelek. Bahkan saat tidur dengan mulut mengangapun, masih saja terlihat cantik. Tapi tetep aja, paling cantik saat goyang diatas," sahut Nathan sambil terkekeh pelan.
"Ish, mulai deh. Pagi-pagi udah bahas goyangan." Embun memutar kedua bola matanya jengah. "Aku harus segera berangkat." Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 6 lebih.
"Ini masih terlalu pagi sayang, masih bisa 1 ronde," bujuk Nathan.
"Kamu mana bisa 1 ronde," ledek Embun sambil menyebikkan bibir.
"Kalau gak bisa 1, itu tandanya khilaf."
"Khilaf?" Embun langsung ngakak. "Khilaf kok tiap hari," lanjutnya sambil geleng-geleng. "Udah ah, aku harus berangkat. Takutnya Dinar terlalu lama nungguin." Nathan berdecak pelan mendengar nama Dinar. Cewek gendut yang selalu merepotkan Embun.
"Dia nebeng kamu lagi?"
"Iya. Motornya dipakai adiknya kuliah."
"Aku ngajarin kamu bawa mobil, biar gak perlu dempet-dempetan sama driver ojol. Eh...sekarang kamu malah nambah profesi jadi driver taksi online," gerutu Nathan. Dia selalu sebal setiap Embun harus menjemput dulu temannya yang bernama Dinar itu. Menurutnya, itu terlalu merepotkan.
"Udah ah, pagi-pagi jangan marah," Embun duduk disebelah Nathan lalu mengecup pipinya. "Rumah Dinar searah dengan sekolah. Gak ada salahnyakan, aku kasih tumpangan."
"Tumpangan kok tiap hari. Sekali-kali kamu mintain duit bensin ke dia." Embun seketika ngakak.
"Apa sumiaku yang bos ini udah gak kuat beliin bensin?" Embun bergelayut manja dilengan Nathan. "Udah ah, ntar pahalaku ilang kalau niat nolongnya gak ikhlas. Bye Hubby, love you." Embun meraih tangan Nathan lalu menciumnya, dan dibalas Nathan dengan kecupan dikening. Saat Embun turun dari ranjang, Nathan menarik tangannya.
"Gimana rencana honeymoon kita?"
__ADS_1
"Ini tahun ajaran baru sayang, aku gak bisa ngambil cuti."
"Astaga, tapi ini untuk memperingati anniversary kita yang pertama." Ya, tak terasa, sudah 1 tahu Nathan dan Embun menikah. Sebenarnya Nathan sudah merencanakan libuaran romantis ke Paris. Tapi sepertinya tak akan terlaksana karena terkendala jadwal Embun.
...----------------...
Tin tin
Embun membunyikan klakson mobilnya tepat didepan rumah Dinar. Tak lama kemudian, tampak Dinar lari tergopoh gopoh sambil menenteng tas serta hijab.
Begitu masuk kedalam mobil Embun, Dinar langsung menyandakan punggungnya dijok sambil mengatur nafas. Maklum, tubuhnya yang gemuk, membuat dia mudah sekali lelah. Bahkan hanya untuk berlari dari dalam rumah menuju mobil yang terparkir dipinggir jalan, dia sudah tampak ngos-ngosan.
"Pagi banget sih Mbun. Aku sampai belum sempat pakai hijab nih," gerutunya sambil menunjukkan hijab yang dia pegang.
"Makanya, lain kali bangunnya lebih pagi. Perawan kok bangunnya siang," cibir Embun sambil kembali melajukan mobilnya kejalan Raya.
"Gak usah bahas-bahas soal perawan kalau ujung-ujungnya mau ngeledekin aku perawan tua." Sahut Dinar. Dia menghadap kejendela sambil memasang hijab. Tak butuh cermin karena sudah sangat terampil. Sejak TK, dia sudah berhijab.
"Din, minggu depan, anniv pernikahan pertamaku. Enaknya aku ngasih hadiah apa ya ke Kak Nathan?" Embun masih juga belum menemukan ide hadiah meski waktunya tinggal seminggu lagi.
"Iya, dia demen, tapi aku yang lemes. Yang ada besoknya gak bisa jalan, apalagi ngajar."
"Ya kalau enggak, kasih apa yang sekiranya paling ingin dia punya saat ini. Mungkin jam tangan, ponsel keluaran terbaru, dasi, atau apalah. Kan banyak tuh pilihan."
Raut wajah Embun seketika mendung. Dia tahu apa yang sangat diinginkan Nathan saat ini, apalagi kalau bukan anak. Tapi sayangnya, sampai sekarang, dia masih belum bisa memberikannya.
"Kamu kenapa, muka kok langsung galau gitu?"
"Andai saja aku hamil, itu pasti hadiah terspesial buat suami aku, Din." Mata Embun mulai berkaca-kaca. Dia sudah berusaha dengan malakukan apapun yang kata orang bisa membuat cepat hamil, tapi nyatanya, dia belum juga hamil.
"Apaan sih Mbun, pakai sedih gitu? Baru setahun juga nikahnya. Banyak loh, yang udah bertahun-tahun tapi baru dikasih momongan."
"Tapi usiaku udah hampir 30 tahun Din."
__ADS_1
"Yaelah, masih muda itu. Kalau kamu stres terus, yang ada malah susah hamil. Coba deh, buang tuh pikiran pengen hamil. Nikmati hidup, punya suami ganteng dan kaya, puas puasin dulu pacarannya. Lagian duit suami kamu banyak, kalian bisa coba program bayi tabung." Mungkin dia bisa membicarakan dengan Nathan masalah bayi tabung ini.
Tak terasa mobil yang dikendarai Embun sampai disekolah. Hari ini ada upacara penyambutan peserta didik baru sekaligus pembukaan MPLS. Terlihat didekat halaman, terlihat anak-anak dengan seragam baru yang diantar oleh orang tua mereka. Sudah bisa ditebak, jika mereka adalah murid baru, calon anak didik Embun.
Selesai pembukaan MPLS, Embun memasuki ruangan kelas 1. Anak anak yang masih terlihat imut itu tak banyak bicara, sepertinya mereka masih takut, malu atau mungkin belum saling kenal dengan teman.
Kegiatan pertama yang dilakukan Embun, adalah perkenalan. Sebagai wali kelas, Embun yang pertama memperkenalkan diri. Selanjutnya satu persatu anak maju bergantian.
Embun tersenyum melihat anak laki-laki tampan yang memakai name tag Nathan. Astaga, nama suaminya itu sangat pasaran, sampai muridnya saja, namanya juga Nathan.
Selesai acara perkenalan, mereka makan bekal bersama. Embun sangat antusias melihat satu persatu bekal muridnya yang rata-rata dibentuk dengan sangat cantik. Apakah nanti kalau dia punya anak, akan seperti itu juga? Membuatkan bekal dengan bentuk menarik agar anak suka.
"Bu Embun, Ibu mau mencicipi bekalku?" Nathan, bocah tampan itu menyodorkan kotak bekal berisi sushi kehadapan Embun.
Embun memperhatikan isian sushi tersebut, karena selain ayam, juga ada udang disana, Embun terpaksa harus menolak.
"Maaf sayang, Ibu alergi udang, jadi gak bisa makan bekal kamu."
"Yah, sayang sekali. Padahal tadi mama nyuruh aku berbagi dengan Bu Guru," Nathan tampak kecewa.
"Tidak masalah, lain kali, Bu Guru akan mencicipi bekal kamu," bujuk Embun sambil mengusap lengan Nathan.
"Baiklah, kalau begitu, besok aku akan meminta Mama untuk buatin sushi isi ayam dan sosis saja."
"Sepertinya kamu sangat menyukai sushi?"
Nathan mengangguk cepat. "Ya, itu makanan favorit aku."
Embun tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Lucu, kenapa bisa semirip ini. "Kamu tahu gak, kamu mirip sekali sama suami Ibu. Namanya juga Nathan, dan dia juga suka sushi."
"Benarkah?" Nathan tampak tak percaya.
"Benar, nama kalian sama, makanan kesukaan juga sama."
__ADS_1
"Tapi aku yakin, aku lebih tampan dari dia." Lagi-lagi Embun tak bisa menahan tawa melihat kenarsisan Nathan.