Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
JADI INI ALASANNYA


__ADS_3

Beberapa hari ini, Embun merasakan jika badannya mulai enakan. Mungkin karena usia kandungan yang sudah masuk trimester kedua. Kemarin saat periksa, usianya sudah 14 minggu dan kondisinya sehat. Hampir setiap hari saat bercermin, dia memperhatikan perutnya yang masih belum ada perubahan, datar-datar saja. Padahal dia sudah tidak sabar ingin perutnya membuncit dan merasakan gerakan dari dalam. Mungkin karena baru pertama kali hamil, jadi antusiasnya sangat tinggi.


"Loh, Non Embun kok udah didapur?" Bi Lasih yang baru masuk dapur, dikejutkan dengan keberadaan Embun. Sejak hamil, Embun jadi jarang sekali masuk dapur, apalagi masak, sudah tidak pernah sama sekali. Dia lebih banyak istirahat karena Nathan melarangnya melalukan aktifitas yang bikin capek. Padahal, tidur aja juga capek.


Sebenarnya Bi Lasih sudah bangun sejak tadi. Memasak nasi dimagigcom, lalu ditinggal mandi dan sholat subuh. Setiap hari, memang seperti itu cara dia mengatur waktu.


"Pengen masak Bi," sahut Embun sambil mencari-cari bahan makanan didalam kulkas yang sekiranya bisa dia eksekusi jadi makanan yang nikmat.


"Udah fit badannya? Nanti dimarahi Mas Nathan loh." Bi Lasih mulai merebus air. Pagi-pagi seperti ini, dia sudah kebiasaan ngeteh.


"Fit kok Bi, tenang aja."


Bi Lasih mulai mencium aroma nasi yang hampir matang dari magigcom. Biasanya Embun langsung mual jika mencium bau ini, tapi kali ini, tampak biasa saja. "Gak mual Non nyium mau nasi mateng?"


Embun mengendus aroma tersebut, anehnya biasa saja, tak seperti minggu-minggu lalu. "Kayaknya udah enggak deh Bi. Aku biasa aja kok."


"Alhadulilah, jadi udah bisa sering-sering lagi main kedapur. Bibi pagi-pagi begini kalau didapur sendirian, bawaannya ngantuk Non. Kalau ada temen ngobrol, kan enak."


"Teman ngobrol, apa teman bantuin?" seloroh Embun.


"Hehehe, dua-duanya Non. Non Embun mau dibuatin minuman apa, mumpung Bibi lagi ngerebus air?"


"Gak usah Bi, aku minum air putih aja."


"Lah, kalau gini, Bibi jadi gak enak. Masa ART-nya ngeteh, majikannya air putih." Embun langsung tertawa mendengar itu.

__ADS_1


"Ya dibikin enak aja. Ambil biskuit, lalu dicelupin ke teh. Makin enakkan?"


"Heis, Non Embun ini bisa aja."


Mereka berdua lalu memasak bersama sambil mengobrol. Mengolah beberapa bahan makanan yang tersisa karena kebetulan stok bahan makanan hampir habis. Kalau pagi hari, Embun lebih suka sarapan nasi. Menurutnya, roti kurang mengenyangkan. Mungkin karena sejak kecil, udah biasa sarapan nasi. Tapi tidak untuk nasi goreng, karena kalau sarapan nasi goreng, bawaanya ngantuk. Dan kebiasaannya ini, mulai dia tularkan pada Nathan. Nathan yang dulunya kenyang hanya dengan roti dan secangkir kopi, sekarang jadi butuh nasi untuk kenyang.


"Sepertinya nanti saya harus belanja deh Bi," ujar Embun.


"Bibi aja, ntar Non Embun capek kalau belanja."


"Kayaknya udah aman Bi. Kemarin pas cek, semuanya aman.Udah masuk trimester 2 juga. Lagian Embun bosen dirumah terus, pengen jalan-jalan."


Setelah beberapa menu hampir matang, Embun meninggalkan dapur untuk membangunkan Nathan. Tapi saat baru masuk kamar, dia mendengar suara orang muntah-muntah dikamar mandi. Yakin jika itu Nathan, segera dia menghampirinya.


Hoek hoek hoek


Nathan kembali mengeluarkan isi perutnya hingga cairan warna kuning yang terasa pahit ikutan keluar. Segera dia kumur-kumur untuk menghilangkan rasa pahit dimulut. "Yang t_"


"Apa! Makanya kalau dibilangin nurut." Belum juga Nathan selesai ngomong, Embun sudah kembali nyerocos. Padahal dia mau minta dibuatin teh hangat. "Awas kalau nanti malam masih sibuk sama laptop mulu. Sebenarnya istri kamu itu aku apa laptop?" Nathan yang pusing jadi tambah pusing denger ocehan Embun. "Sekalian aja itu laptop kamu kelonin saat tidur, kamu peluk, kamu ajak mandi sekalian." Setelah membersihkan area mulut, Nathan membalikkan badan lalu menatap kedua netra Embun tajam. Kata-kata yang tadinya keluar mulus dan lancar kayak jalan tol, mendadak ngadat ditenggorokan.


"Udah curhatnya?"


"Si-siapa yang curhat," Embun menunduk sambil garuk garuk kepala. Tadi dia curhat ya? Masak sih, enggak deh. Cuma ngeluarin unek-unek aja.


"Iya, nanti malam aku kelonin. Kalau mau cemburu, yang masuk akal dikit, gak sama laptop juga kali."

__ADS_1


Embun masih saja menunduk sambil mengetuk ngetukkan ujung kakinya kelantai. "Ya habisnya kamu sih." Sebenarnya Embun kesal pada Nathan yang sekitar semingguan ini sibuk banget terutama saat malam. Siang udah seharian kerja, tapi pulang kerumah, malamnya juga masih kerja. Embun hanya ingin Nathan meluangkan waktu untuk mengobrol, quality time berdua.


"Maaf," Nathan mengangkat dagu Embun agar manatap kearahnya. "Aku sibuk banget memang akhir-akhir ini. Aku janji deh, nanti malam waktuku buat kamu."


"Cuma nanti malam?" tanya Embun dengan mata berkaca-kaca.


"Ya enggaklah, tiap malam buat kamu."


"Tiap malam doang?"


"24 jam. Udah ya, jangan sedih lagi. Mas minta maaf." Nathan menghela nafas lalu memeluk Embun. Sebenarnya tiap malam, dia sengaja menyibukkan diri. Beberapa hari ini, dia merasa jika gairahnya sedikit meletup. Takutnya jika tak jaga jarak, malah kebablasan. Sebelum dokter membari lampu hijau, dia tak mau berjudi alias bertaruh dengan nasib. Jangan sampai karena naffsu yang tak bisa ditahan, akan menimbulkan penyesalan pada akhirnya.


"Mas, aku kangen kamu." Embun menyorokkan wajahnya ke ceruk leher Nathan sambil mempererat pelukannya. Hembusan nafasnya yang mengenai kulit leher mampu membuat darah Nathan berdesir.


Nathan mendesis pelan. Ini nih, yang bikin dia jaga jarak. Embun makin manja saat hamil. Bentuk badannya yang lebih berisi, juga semakin tampak menggoda hasrat kelelakiannya. Dipeluk erat kayak gini, dengan dada yang menempel, bukannya tak suka, tapi ada sesuatu dibawah sana yang protes.


Tahan Nathan, tahan. Dua minggu lagi, kamu pasti bisa.


Embun melepaskan pelukannya saat merasakan sesuatu yang keras menekan perut bagian bawahnya. Dia menunduk lalu menatap sesuatu itu.


Sadar kemana arah mata Embun, Nathan langsung menutup ular kobranya dengan kedua telapan tangan sambil tersenyum simpul.


"Sekarang kamu tahukan Yang, kenapa aku jaga jarak sama kamu. Salah satunya karena ini. Dia tak tahu sikon, suka main bangun aja."


Embun membuang nafas kasar sambil menepuk jidat. Jadi ini alasannya. Bisa-bisanya dia sudah mengkambing hitamnya pekerjaan dan menjadikan laptop tersangka utama.

__ADS_1


__ADS_2