Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
SHE IS MINE


__ADS_3

Nathan buru-buru mengurai pelukan wanita tersebut. Wajahnya pias, takut jika Embun salah paham. "Sayang," dia melambaikan tangan kearah Embun.


"Siapa dia Nath?" wanita itu mengerutkan kening kearah Embun.


Nathan menarik tangan Embun begitu wanita itu dekat lalu menggenggamnya. "Kenalin, dia istriku, Embun. Mbun, kenalin, ini Natali, teman kuliah dulu."


Embun mengulurkan tangan kearah Natali sambil menyebutkan nama, begitupun dengan Natali, yang langsung menjabat tangan Embun. Entah hanya perasaan Embun saja, dia merasa jika tatapan Natali kurang bersahabat.


"Kamu udah nikah Tan? Kapan, kok gak ada yang tahu? Beneran loh, aku kaget banget tahu kamu udah nikah." Natali memperhatikan Embun dari atas kebawah. Tatapan yang terkesan menilai, membuat Embun sangat risih. "Kamu kok gak ngabarin kita-kita sih? Digrup alumni kita, gak ada yang bahas kamu udah nikah. Aku yakin, gak ada yang tahu soal ini. Karena kalau 1 aja tahu, pasti udah kesebar. Secarakan, kamu pemes gitu loh." Dia menyenggol bahu Nathan, membuat Embun langsung cemberut.


Apakah sih nih cewek gak jelas, pakai senggol-senggol suami orang.


Embun menggandeng lengan Nathan. Sedikit menyadarkan si Natali jika ada istri Nathan saat ini.


"Di sosmed, kamu juga gak ada posting foto nikah, sengaja dirahasiain atau gimana? Atau biar masih dikira bujang?" Natali melirik Embun sambil tersenyum gak jelas.


"Nat, sori ya, kayaknya jemputan kami udah datang. Aku juga harus segera meeting sebentar lagi." Nathan tak ingin percakapan makin melebar kemana-mana.


"Cie...sibuk banget nih kayaknya sih bos. Ya udah deh kalau gitu." Natali hendak memeluk Nathan lagi tapi kali ini, Nathan mundur lebih dulu. Dia memilih mengulurkan tangan sebagai bentuk pamit. Natali tampak kecewa, dia menjabat tangan Nathan sambil tersenyum sinis pada Embun. Entah apa maksudnya, Embun juga tak tahu, padahal mereka tak saling kenal sebelumnya.


"Kita pergi dulu," pamit Nathan.


"Tunggu Nath," seru Natali saat Nathan dan Embun baru berjalan beberapa langkah. Dan itu sungguh membuat Embun kesal. "Kamu udah tahu belum, bulan depan, kita kita mau ngadain reuni. Kamu sih, pakai keluar dari grup, jadi gak tahu infokan. Datang ya Nath." Nathan hanya menjawab dengan senyuman saja lalu lanjut berjalan menuju pintu keluar bersama Embun. Pak Madi, supir kantor yang menjemput mereka segera mengambil alih koper yang diseret oleh Embun.


Sesampainya dimobil, Embun menarik kasar tangannya dari genggaman Nathan. Dia bahkan membuka pintu mobil lebih dulu sebelum Nathan sempat melakukannya.


Nathan berdecak pelan, dia yakin kalau istrinya itu sedang marah sekarang. Saat sudah berada didalam mobil, Nathan kembali meraih tangan Embun, tapi lagi lagi Embun menarik tangannya. Wajahnya juga cemberut, sama sekali tak ada senyum.


"Maaf."


"Buat apa?" tanya Embun dengan nada ketus.

__ADS_1


"Aku tadi gak sempat menghindar saat dia meluk aku."


"Halah, bilang aja suka dipeluk cewek cantik," Embun memutar kedua bola matanya malas.


"Sumpah, gak gitu Yang. Aku tadi risih, beneran gak bohong." Embun langsung terkekeh mendengar ucapan Nathan barusan.


"Risih, apa pengen lebih?"


"Yaelah Yang, gimana sih caranya ngejelasin biar kamu paham," Nathan garuk garuk kepala.


"Gak usah dijelasin, aku udah paham."


"Paham apa?"


"Paham alasan kenapa Kakak gak mau publish tentang pernikahan kita." Mata Embun seketika berkaca-kaca. Sudah nikah lama, bahkan tak ada yang tahu tentang itu. Apakah dia terlalu memalukan untuk diakui sebagai seorang istri? "Biar semua orang menganggap kalau Kakak itu masih bujang, iya kan?"


"Gak gitu yang."


Nathan berdecak pelan, meraih pinggang Embun untuk dipeluk, sayangnya Embun malah menepis tangannya.


"Nanti kita ke nikahannya Dimas. Kita umumin disana kalau kamu istri aku."


"Gak perlu, aku gak butuh diakui."


Nathan mengacak rambutnya frustasi. Dari dulu, dia paling bingung kalau urusan membujuk wanita yang lagi ngambek. Karena wanita itu spesies yang paling membingungkan menurutnya. Tak jarang saat mulut bilang tidak, tapi hati menginginkan iya. Laki-laki dituntut sehebat dukun yang bisa membaca isi hatinya.


Nathan mengambil ponsel disakunya lalu menekan kamera. Dia lalu menyandarkan kepalanya dibahu Embun.


"Apaan sih," Embun berusaha mendorong kepala Nathan.


"Diam dulu," desis Nathan sambil melotot. Tak pelak Embun langsung diam.

__ADS_1


Nathan mengarahkan kamera kearah mereka berdua. Dengan kepala yang masih bersandar dibahu Embun, dia memejamkan mata lalu mengambil foto selfi.


Dia mengupload foto tersebut diakun instagramnya dengan menambahkan caption.


[ Sandaran ternyaman sepanjang masa. I love you my wife, now and forever. She is mine ]


Dia lalu menunjukkan itu pada Embun sebagai bukti, jika dia tak seperti yang dituduhkan Embun.


"Aku gak gemar bersosial media. Bahkan bisa kamu lihat, aku post foto terakhir tahun lalu." Nathan menunjukkan akun instagramnya. "Sekarang, aku ingin satu dunia tahu, jika kamu adalah milikku dan aku milikmu."


Tak hanya meng-uploud di ig, Nathan memposting foto tersebut disemua akun sosial medianya, bahkan distatus wa.


"Jangan ngambek lagi ya, please." Nathan mengatupkan kedua telapak tangannya didada. "Aku gak bisa tahan kalau sebentar saja, dicuekin sama kamu."


"Lebay," sahut Embun sambil cemberut sekaligus menahan senyum. Hatinya meleleh melihat apa yang barusan Nathan lakukan. Dia tahu Nathan bukan tipe orang yang suka bikin story apalagi posting foto. Dan hari ini, fotonya terpampang disemua akun sosmed Nathan. Itu menunjukkan, jika dia spesial dimata Nathan.


Cup.


Nathan mengecup pipi Embun hingga semburat merah terlihat disana.


"I love you sayang," Nathan mencium bibir Embun. Mengabaikan jika saat ini, ada orang lain didalam mobil.


"Kak Nathan, malu." Embun memukul dada Nathan pelan sambil melihat kearah Pak Madi. Semoga saja, pria itu tadi tak melihat kemesuman suaminya barusan.


"Pak, istri Bapak suka ngambek gak?" tanya Nathan pada Pak Madi. "Kalau ngambek, dikasih apa Pak biar langsung luluh."


"Bini saya mah gampang Pak. Diajak jalan keminimarket dan dibeliin teh kotak aja, udah seneng dia."


"Ya udah Pak, mini market depan, kita berhenti ya. Mau ngajak bini saya jalan kesana. Dia gak suka teh, jadi mau beliin es krim aja biar meleleh."


"Dih, gak jelas," ujar Embun sambil nyengir.

__ADS_1


__ADS_2