
Sudah 2 minggu lebih Mama Salma dirawat dirumah sakit. Dan Nathan, seharipun dia tak pernah meninggalkan mamanya. Tidur dirumah sakit, bahkan bekerja dari rumah sakit. Dia hanya akan meninggalkan mamanya jika ada meeting yang tidak bisa diwakilkan saja.
Dan Embun, sebagai seorang guru, dia tentu tak bisa meninggalkan kewajibannya. Sepulang dari mengajar, dia langsung ke rumah sakit, dan baru pulang saat malam. Nathan melarangnya tidur dirumah sakit karena tak mau Embun kurang nyenyak tidurnya.
Suster Ida dan Navia akan pulang saat Embun datang. Dan malamnya, ada Pak Jo, supir Mama Salma yang menemani Nathan di rumah sakit. Sedangkan Rama, dia hanya datang untuk mengantar dan menjemput Navia.
Dan sore ini, Embun kembali datang dengan sekantong besar makanan. Baru masuk, dia sudah dihadapkan dengan pemandangan memilukan. Mama Salma tersedak saat minum. Ya, saat ini, selain susah untuk bicara, Mama Salma juga kesulitan untuk menelan, membuatnya kerap kali tersedak saat makan maupun minum.
Nathan mengelap bibir dan leher mamanya menggunakan tisu. Matanya berkaca-kaca, namun berusaha untuk tidak menangis didepan sang mama.
Embun memijit pelan kaki mertuanya. Meski tak bisa bergerak alias lumpuh, tapi Mama Salma masih bisa sedikit merasakan. Embun berharap mertuanya itu merasakan sedikit kenyamanan dari pijatannya. Setelah Mama Salma tertidur, Embun mengajak Nathan duduk disofa. Lingkaran mata pria itu tampak menghitam, serta bibirnya terlihat pecah pecah dan sedikit pucat. Mungkin efek dari kurang tidur dan stres.
"Kakak belum makan?" tanya Embun sembari membuka totebag yang dia bawa dari rumah.
"Udah tadi."
"Tadi kapan, pagi? Ini sudah sudah sore, Kak." Embun mengambil kotak bekal yang dia siapkan dari rumah. "Hari ini aku sengaja masak dulu dirumah. Kakak pasti kangen masakanku kan?" Hari-hari biasanya, Embun membawakan masakan Bi Lasih ataupun beli diluar untuk dibawa kerumah sakit. Tapi kali ini, demi membuat selera makan suaminya kembali, dia menyempatkan untuk masak. Saat kotak makan dibuka, aroma sedapnya langsung menguar. "Aku suapin ya?"
Nathan mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya dia tak selera makan, tapi karena Embun sudah repot-repot memasak untuknya, mana tega dia menolak.
"Kakak harus tetap jaga kesehatan. Kalau Kakak ikutan sakit, siapa yang bakal jagain Mama?" Ujar Embun sambil menyuapi Nathan. "Aku gak mau Kakak sampai sakit." Dia menggenggam tangan Nathan lalu meletakkan dipangkuannya.
"Besok Mama sudah boleh pulang."
"Benarkah," wajah Embun seketika berbinar. "Itu berita yang bagus."
__ADS_1
"Tapi Mama masih harus terus kontrol dan terapi. Aku meminta agar terapinya dirumah saja. Aku kasihan kalau Mama harus dibawa bolak balik ke rumah sakit."
"Itu ide bagus, aku juga setuju."
"Emmm..." Nathan meremat telapak tangan Embun yang ada digenggamannya. "Apa kamu keberatan jika untuk sementara waktu, kita tinggal dirumah Mama? Aku masih ingin dekat dengan mama dan mengontrol perkembangan kesehatannya."
Embun menghela nafas lalu kembali menyuapi Nathan. "Aku tidak keberatan, asal Kakak mau janji sama aku."
"Janji?"
"Hem, janji. Janji buat gak terlalu cemburu buta." Embun mengusap sudut bibir Nathan yang terkena kuah makanan. "Aku dan Rama pasti ada interaksi jika tinggal serumah. Dan aku males kalau kita harus berantem gara-gara itu."
Nathan tersenyum, mengambil alih kotak makan ditangan Embun lalu ganti menyuapinya. "Ya, aku janji." Ujarnya sambil mengusap lembut kedua pipi Embun dengan kedua ibu jarinya. "Tapi kamu juga harus janji satu hal."
"Gak usah dandan cantik kalau dirumah."
Embun mengunyah makanan dimulutnya sambil menggeleng. "Aku gak bisa janji kalau itu."
Dahi Nathan seketika mengekerut.
"Gak dandan aja aku cantik, gimana coba, mau buat gak cantiknya?"
"Ish dasar," Nathan menoel hidung mancung Embun sambil terkekeh pelan.
Embun menangkup kedua pipi Nathan sambil tersenyum. "Gitu dong, ketawa. Aku rindu banget ketawanya Kakak."
__ADS_1
"Cuma rindu ketawanya aja? Gak rindu yang lainnya juga?" Nathan menaikkan sebelah alisnya. "Maaf ya, aku udah lama banget gak nyentuh kamu. Padahal dulu udah janji bakal jabanin sehari 4 kali." Nathan tersenyum getir. Karena sibuk menunggu Mamanya dan stres mikirin Navia, dia sampai tak memenuhi kewajibannya menganai nafkah batin pada Embun.
"Apaan sih ngomong gitu. Ini kan udah disentuh," Embun menunjukkan genggaman tangan mereka. "Aku sayang Kak Nathan," Embun mengecup pipi Nathan. "Gak usah mikirin sesuatu yang gak penting."
...----------------...
Rama duduk disebuah cafe, termenung sambil menunggu kedatangan Rian. Bukan untuk mengajaknya melanjutkan duel, tapi untuk berbicara dari hati kehati. Sejak Rama membanting ponsel Navia hari itu, Navia terlihat jarang sekali memegang ponselnya yang baru. Rama tak bertanya sama sekali soal hubungannya dengan Rian, dia hanya fokus menjadi suami yang baik untuk Navia, dan berusaha merebut kembali hatinya.
Setiap pagi, Rama membuatkan Navia sarapan. Bertanya apa dia nitip sesuatu saat hendak pulang, dan memijit kakinya saat malam. Tak lupa mengajaknya deeptalk, setiap sebelum tidur. Beruntung kemarin saat cek kandungan, baby mereka dalam kondisi sehat, meski saat ini, Navia dalam keadaan stress berat.
Melihat Rian datang, Rama langsung memanggil pelayan untuk memesankan Rian minuman.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Rian.
Rama mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja. Mengutak atik sebentar lalu menunjukkan sesuatu dilayar pada Rian.
"Apa maksudnya ini?" Rian melihat tiket pesawat ke Singapura.
"Aku dan Navia mau babymoon ke Singapura." Raut wajah Rian seketika berubah. Inikah alasan Navia susah sekali dia hubungi sekarang? "Aku tidak tahu seperti apa hubungan kalian sekarang. Tapi aku minta, jangan menghubungi Navia lagi. Kami sedang proses memperbaiki hubungan, jadi aku mohon, jauhi Navia." Rian tampak tersenyum getir.
"Aku tak peduli apa yang kau pikirkan tentangku. Mungkin menurutmu aku pria yang sangat bodoh, pria yang menyedihkan karena memohon pada selingkuhan istrinya. Apapun yang kau pikirkan, aku tak peduli. Karena saat ini, ada yang lebih perlu aku pedulikan, yaitu nasib anakku. Jika kau benar-benar mencintai Navia, tinggalkan dia. Jangan membuatnya menjadi ibu yang gagal bahkan sebelum melahirkan."
Rian berdecak pelan sambil lagi lagi, tersenyum getir. "Apa kau yakin bisa membahagiakan Navia? Ck, aku tak yakin tukang selingkuh sepertimu bisa melakukan itu."
"Dan aku juga tak yakin jika seorang perebut istri orang alias bebinor, bisa melakukan itu juga. Kalau kau menganggapku buruk karena pernah selingkuh, apa bedanya denganmu yang merebut istri orang? Kita sama sama bukan orang baik. Lepaskan Navia, biarkan aku yang membahagiakannya. Jika sekali lagi aku membuatnya kecewa, tanpa kau mintapun, aku akan mundur dengan sendirinya."
__ADS_1