Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
AMBYAR


__ADS_3

Dret dret dret


Melihat ponsel didepannya bergetar, Nathan langsung mengambil dan cepat-cepat menjawab panggilan dari Embun.


"Iya Sayang, ada apa? Kamu mau lahiran?" Suaranya yang kencang mengalahkan Adit yang lagi presentasi sontak membuatnya jadi pusat perhatian. Ya, saat ini, Nathan sedang meeting, membahas proyek baru yang akan digarap perusahaannya. Tapi suaranya barusan, membuat fokus peserta meeting langsung ambyar. Adit yang sedang presentasi saja, sampai lupa dia tadi sudah sampai mana.


"Oh...martabak ya." Nathan membuang nafas berat lalu meletakkan kembali ponselnya setelah sambungan terputus. Saat Embun menelepon, dia pikir istrinya itu mau mengabari jika dia mau lahiran, tapi ternyata, Embun cuma telepon untuk nitip martabak didepan pasar besar. Musnah sudah harapannya.


Sadar jika tatapan semua orang tertuju padanya, Nathan langsung mengerutkan kening. "Ada apa semua pada ngeliatin saya?" tanyanya tanpa rasa bersalah. Tak sadarkah dia, jika gara-gara dia bicara lantang ditelepon, langsung membuat konsentrasi semua orang ambyar? "Cepat lanjutkan, sebentar lagi sudah jam pulang," ujarnya sambil melihat jam tangannya.


Adit langsung gelagapan, bingung harus mulai lagi darimana. Otaknya sudah ngeblank. Dengan bermodal cap cip cup kembang kuncup, dia memulai lagi presentasi dengan random, entah dia mengulang atau malah ada yang terlewat, sudahlah, yang penting mulutnya mengeluarkan kata-kata.


Selesai meeting, Nathan bergegas pulang, tak lupa mampir membeli martabak spesial pesenan Embun. Sesampainya dirumah, dia melihat Embun yang duduk diteras bersama ibunya. Sejak kandungan Embun berusia 7 bulan, Bu Siti datang ke Jakarta. Rencanya masih akan disini sampai Embun selesai lahiran dan masa nifas.


Sambil membawa keresek berisi martabak, Nathan tersenyum menghampiri Embun. "Udah kangen banget ya sama aku, sampai nungguin di teras?" tanya Nathan saat Embun mencium tangannya.

__ADS_1


"Aku itu nungguin ini," Embun menyaut keresek berisi martabak ditangan kiri Nathan lalu masuk kedalam rumah.


Nathan mendengkus pelan, mencium tangan mertuanya lalu menyusul Embun masuk kedalam.


Bukannya membantu Nathan melepas jas dan dasi, Embun malah langsung asik memakan martabaknya. Duduk disofa sambil selonjoran, menampakkan kakinya yang bengkak.


Nathan duduk disisi sofa, dekat dengan kaki Embun. Sumpah, dia tak tega melihat kaki istrinya. Kadang terfikir dibenaknya, apakah tidak sakit kaki bengkak itu dipakai untuk jalan. Tanpa diminta, dia memijit kaki Embun.


"Mas, gak usah," tolak Embun sambil menarik kakinya. "Kamu kan baru pulang kerja, masih capek."


"Kita caesar ya besok."


"Kita tunggu sebentar lagi, Mas."


Nathan berdecak pelan. Dia tak bisa kalau disuruh sabar lagi. Navia saja sudah lahiran seminggu yang lalu, padahal hpl-nya harusnya lebih dulu Embun.

__ADS_1


"Emang kenapa sih kalau caecar, toh sama-sama lahiran?" bujuk Nathan.


"Aku pengen nikmatin dulu prosesnya, Mas. Nanti kalau 4 hari kedepan gak juga ada tanda-tanda lahiran, aku setuju kok buat caesar. Kamu jangan cemas gini dong." Ini yang mau lahiran Embun, tapi yang cemas berlebih malah Nathan.


"Aku cuma pengen yang terbaik buat kamu sayang." Nathan menggeser duduknya agar bisa memegang tangan Embun.


"Ibu setuju sama Nathan," Bu Siti yang baru muncul ikut berpendapat. "Dari pada suamimu mau ngapa-ngapain gak tenang, mending caesar aja Nduk. Tetangga di kampung rata-rata juga pada caesar semua sekarang, mungkin udah jamannya. Mbuhlah, jaman apa ini, padahal dulu semua normal, sekarang malah semua caesar," lanjutnya sambil geleng-geleng.


"Mau ya, please," Nathan sampai memohon. "Sebelum kamu lahiran, aku gak bisa tenang. Ini udah lewat 3 hari dari hpl."


Embun akhirnya mengangguk. "Ya udah, besok kita ketemu Dokter."


Nathan bernafas lega lalu memeluk Embun. Hendak memeluk Embun, tapi susah kalau dari depan gini, terhalang perut besarnya.


Embun menyodorkan martabak yang sudah dia gigit sedikit kedepan mulut Nathan. Dan sambil tersenyum, Nathan langsung menerima suapan itu.

__ADS_1


"Bu, martabaknya enak, masih anget. Ibu gak mau?" tawar Embun.


"Ibu masih kenyang. Udah kalian aja yang makan." Tak mau mengganggu kemesraan anak dan mantunya, Bu Siti memilih kedapur untuk ngobrol dengan Bi Lasih.


__ADS_2