
Mengajar murid kelas 1 memang butuh kesabaran ekstra. Selain karena mereka masih kecil dan susah diberi pemahaman, banyak diantara mereka juga yang masih suka menangis. Gak bisa ngerjain tugas menangis, pensinya diambil teman, nangis. Bahkan waktunya pulangpun, kadang ada yang menangis karena dicubit temanya.
Awalnya Embun merasa pusing, tapi setelah jalan hampir seminggu, sudah mulai terbiasa. Dan hari ini, malah ada salah satu muridnya yang ngompol dikelas, terpaksa Embun harus mengantarnya ke toilet sekaligus membantunya cebok dan ganti baju. Untung ada baju ganti yang disiapkan sekolah karena hal seperti ini bukan terjadi pertama kalinya.
"Eh, tadi kata muridku, ada anak kelas 1 ngompol ya?" tanya Dinar sambil menahan tawa.
"Sepertinya kau senang sekali melihatku menderita," sinis Embun.
"Yaelah, gak usah sok terdzolimi seperti itu. Aku juga pernah dulu. Kejadian kayak gini bukan hanya menimpa kamu doang. Makanya setelah ini, kamu harus rajin-rajin mengingatkan anak-anak buat berani speak up. Kebanyakan kasus ngompol itu terjadi pada anak yang pemalu. Dia malu mau bilang pada guru jika mau ke toilet. Gak semua anak punya keberanian untuk menjadi pusat perhatian. Kamu ngertikan maksudku?"
"Iya, aku ngerti," sahut Embun. "Aku juga gak merasa terzdolimi. Ini udah tugas aku, sebagai orang tua mereka saat disekolah."
Tak semua anak punya keberanian untuk bicara apalagi jadi pusat perhatian. Mengangkat tangan untuk bilang mau ke toilet, secara tidak langsung menginterupsi anak satu kelas. Dan kadang, itu yang membuat seoarang anak malu.
"Good job miss Embun," Dinar menepuk nepuk bahu Embun. Dia menarik kursi kerjanya lalu duduk disebelah Embun. "Anggap aja simulasi jadi orang tua, hehehe." Embun hanya nyengir mendengar itu. "Eh iya, gimana, udah nemu ide hadiah buat Pak Su?"
Embun menggeleng sambil membuang nafas berat.
"Eh, bukannya besok ya anniv kalian? Astaga, bukan besok sih, lebih tepatnya nanti malam jam 12. Lebih 1 detik," ujar Dinar sambil cekikian.
"Pulang nanti, ikut aku ke mall ya. Bantu aku milih kado buat Pak Su."
"Siap, asal jangan lupa traktirannya."
"Gampang. Tapi kamu juga jangan lupa, beliin aku bensin karena tiap hari numpang," sindir Embun.
"Yaelah, masa duit bensin aja nagih. Malu sama gelar BU BOS." Dinar sengaja menyebutkan pelan-pelan dan memberikan penekanan. "Btw, gimana kabar kamu yang katanya mau periksa kerumah sakit?" Embun sudah cerita soal ini pada Dinar. Baru kali ini di Jakarta, Embun merasa cocok sama seseorang, hingga menjadikannya tempat curhat.
"Belum nemu waktu yang cocok Din. Tau sendirikan, masih MPLS, besok baru penutupan. Kayaknya minggu depan, itupun kalau Kak Nathan ada waktu. Dia juga sibuk banget."
__ADS_1
"Heran deh sama suami kamu Mbun. Bukannya bos itu kerjanya cuma nyuruh bawahannya ya, gimana ceritanya bisa sibuk."
"Ya gak gitu juga kali Din. Gak semua hal dilimpahkan sama bawahan." Saat hendak mengecek hasil gambar anak anak hari ini, Embun baru ingat jika map berisi gambar tersebut tertinggal dikelas. "Aku ke kelas bentar ya," dia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kelas. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Nathan kecil duduk dibangku panjang yang ada didekat pos satpam. Tanpa pikir panjang, segera dia hampiri anak muridnya itu.
"Nathan, kenapa belum pulang?" Tanya Embun sambil duduk disebelah Nathan.
"Belum dijemput Bu."
Embun melihat jam tangannya, ini sudah 30 menit dari jam pulang. "Siapa yang biasanya jemput?"
"Biasanya supir, tapi supir sedang sakit, jadi mamaku yang jemput."
Embun mengambil ponsel yang ada disaku seragamnya. "Bu Guru teleponin mama kamu ya, takutnya dia lupa jemput." Sebagai wali kelas, tentulah Embun punya nomor semua wali murid siswa dikelasnya.
"Gak usah Bu. Mamaku kerja, nanti dia jemput pas jam istirahat. Jam istirahatnya jam 12."
Embun mengobrol banyak dengan Nathan. Selain asyik diajak ngobrol, Nathan anaknya juga cerdas, jadi ditanya apapun bisa menjawab dengan lugas. Tapi ada hal yang membuat Nathan seketika tertunduk lesu, yaitu saat ditanya soal ayahnya.
"Aku gak punya ayah Bu. Ayah sudah ada di syurga sejak aku lahir. Jadi aku tak pernah bertemu papa." Raut wajah yang tadinya cerah seketika mendung. Merasa pertanyaannya salah, Embun langsung memeluk Nathan.
"Nathan." Sebuah panggilan membuat Nathan melepaskan diri dari pelukan Embun.
"Mama," sahut Nathan sambil melambaikan tangan lalu memakai tas ransel yang tadi dia letakkan disampingnya.
Embun berdiri sambil tersenyum pada wanita cantik yang berjalan kearahnya.
"Maaf ya Bu, saya telat jemputnya," Mama Nathan mengulurkan tangan kearah Embun. "Saya mamanya Nathan, Jihan."
Deg
__ADS_1
Jantung Embun seperti merosot keperut. Jihan, dia tidak salah dengarkan? Matanya langsung tertuju pada name tag yang ada didada wanita itu. Jihan Elizabeth, ya itu nama mantannya Nathan. Tapi kenapa wanita didepannya itu berhijab? Bukankah Jihan nasrani?
"Bu Guru," Embun terperangah saat Nathan menarik lengannya. Dia baru tersadar jika sejak tadi belum menjabat uluran tangan Jihan.
"Sa-saya Embun, wali kelasnya Nathan."
"Jadi ini Bu Embun. Pantas saja Nathan selalu cerita kalau Bu gurunya sangat cantik. Ternyata memang cantik. Di profil wa tidak ada foto Ibu, jadi saya tak tahu kalau Ibu ternyata masih muda." Embun memang tak memasang fotonya diprofil wa. Dia menggunakan foto name tagnya diprofil wa. "Senang sekali bisa berkenalan dengan Ibu." Embun hanya menanggapi dengan senyuman, karena saat ini pikirannya tengah berkecamuk.
Setelah Nathan dan mamanya pulang, Embun kembali keruang guru. Dia merasakan tubuhnya lunglai dan kepalanya sangat berat. Bahkan dia berhenti jalan dan berpegangan pada kusen pintu ruang guru karena merasa bumi yang dia pijak berputar.
"Bu Embun, Bu Embun." Embun bisa mendengar suara itu dan ada yang memegangi bahunya. Tapi tak tahu siapa yang bersuara karena pandangannya kabur dan beberapa saat kemudian, semuanya gelap.
...----------------...
"Alhamdulillah." Seru teman-teman Embun saat melihat wanita itu membuka matanya.
"Akhirnya kamu sadar Mbun," ujar Dinar sambil menggenggam tangan Embun yang terasa dingin. "Perasaan tadi baik-baik saja, kenapa tiba-tiba pingsan?"
Embun merasakan kepalanya sangat berat saat ini. Dia juga tak tahu kenapa tiba-tiba pingsan.
"Aku teleponin suami kamu ya, biar kamu dijemput?" Dinar mengambil ponsel milik Embun yang ada disaku seragamnya
Embun menggeleng lemah. "Jangan Din, aku pulang sendiri aja."
"Gak usah ngarang, ini bukan pelajaran Bahasa Indonesia. Kamu habis pingsan, mana bisa nyetir sendiri?"
"Aku pulang pakai taksi online aja. Aku gak mau suamiku panik kalau tahu aku pingsan di sekolah."
"Baiklah, tapi pulangnya sama aku. Aku anterin sampai rumah kamu." Embun mengangguk setuju. Dinar memang tak bisa nyetir mobil, jadi mustahil dia mau gantiin Embun nyetir.
__ADS_1